Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi ﷺ: setengah wasq (sekitar 30 sha' atau ±60 liter) gandum yang beliau berikan kepada seorang lelaki miskin terus berkah dan cukup untuk lelaki itu, istrinya, dan tamu-tamu mereka dalam waktu lama. Ketika lelaki itu mulai menimbang-nimbang untuk mengetahui jumlah pastinya, keberkahan itu hilang. Pelajarannya: keberkahan rezeki bergantung pada tawakal dan tidak sibuk menghitung-hitung, bukan pada banyaknya jumlah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 261
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan untuk meneguhkan jiwa mereka, seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."
QS. Al-Baqarah [2]: 286 (potongan yang relevan):
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il (Keutamaan), Bab tentang mukjizat Nabi ﷺ, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab mukjizat dan tanda kenabian, di mana makanan sedikit bisa mencukupi banyak orang karena keberkahan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa menimbang dan menghitung-hitung nikmat bisa menghilangkan keberkahan.
- Ibnul Qayyim dalam beberapa karyanya menegaskan bahwa tawakal dan tidak sibuk dengan sebab secara berlebihan adalah pintu keberkahan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang bersifat hissi (inderawi), yaitu makanan yang sedikit menjadi berkah dan cukup untuk banyak orang dalam waktu yang lama. Ini bukan sekadar kisah, tetapi bukti kenabian yang Allah tampakkan melalui tangan Rasulullah ﷺ.
Makna "setengah wasq": Wasq adalah ukuran takaran yang digunakan di masa itu. Satu wasq sekitar 60 sha', sehingga setengah wasq sekitar 30 sha' (± 60 liter) gandum. Jumlah ini sebenarnya tidak banyak untuk kebutuhan keluarga dalam jangka panjang, terlebih lagi jika ada tamu.
Kisah singkatnya: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ meminta makanan. Nabi ﷺ memberinya setengah wasq gandum. Lelaki itu, istrinya, dan tamu-tamu mereka terus makan dari gandum tersebut. Mereka tidak menimbangnya, tidak menghitung-hitung, hanya mengambil secukupnya dengan tawakal. Namun ketika lelaki itu mulai menimbang untuk mengetahui berapa sisanya, keberkahan itu hilang dan gandum itu habis. Nabi ﷺ kemudian bersabda: "Seandainya kamu tidak menimbangnya, kamu akan terus makan darinya dan itu akan tetap utuh untukmu."
Pemahaman ulama:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat yang jelas. Beliau menegaskan bahwa keberkahan itu terikat pada sikap tawakal dan tidak sibuk menghitung-hitung. Ketika lelaki itu menimbang, ia berpaling dari tawakal kepada perhitungan materi, sehingga keberkahan dicabut.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa menimbang di sini bukanlah perkara haram, tetapi menjadi sebab hilangnya keberkahan karena mengandung unsur keraguan terhadap jaminan Allah dan kurangnya tawakal. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam riwayat lain, Nabi ﷺ menganjurkan untuk tidak menakar dan tidak menimbang, tetapi mengambil dengan tangan secara bebas.
- Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa tawakal adalah sebab terbesar datangnya rezeki dan keberkahan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya dari arah yang tidak disangka-sangka.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa keberkahan adalah perkara yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bertawakal dan bersyukur. Beliau menekankan bahwa menghitung-hitung nikmat dengan kikir dan ragu dapat menghilangkan keberkahan.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami bahwa menimbang itu sendiri tidak dilarang, tetapi yang dilarang adalah sikap kurang tawakal yang menyertainya. Pendapat yang paling kuat, sebagaimana ditegaskan an-Nawawi dan Ibnu Hajar, adalah bahwa keberkahan terikat pada tawakal dan tidak sibuk dengan perhitungan yang berlebihan, bukan pada larangan menimbang secara mutlak.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang lelaki dari kaum miskin datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sangat lapar. Nabi ﷺ yang mulia tidak menolaknya, tetapi memberikan setengah wasq gandum dari persediaan yang ada. Lelaki itu pulang dengan wajah berseri-seri, membawa gandum yang tampak tidak seberapa.
Hari-hari berlalu. Lelaki itu, istrinya, dan tamu-tamu yang datang silih berganti terus makan dari gandum tersebut. Tidak ada yang berkurang secara berarti. Mereka makan dengan tenang, bersyukur, dan bertawakal kepada Allah. Rumah mereka menjadi tempat singgah yang ramah bagi para tamu.
Namun syaitan mulai membisikkan keraguan. "Berapa sih sisanya? Apakah cukup sampai bulan depan?" Lelaki itu pun mulai menimbang-nimbang gandum tersebut. Ia ingin tahu pasti berapa jumlahnya. Sejak saat itu, keberkahan yang selama ini menyertai mereka perlahan menghilang. Gandum itu akhirnya habis.
Lelaki itu kembali kepada Nabi ﷺ dan menceritakan apa yang terjadi. Nabi ﷺ bersabda dengan lembut: "Seandainya kamu tidak menimbangnya, kamu akan terus makan darinya dan itu akan tetap utuh untukmu." Lelaki itu menyesal, tetapi keberkahan telah dicabut karena ia berpaling dari tawakal kepada perhitungan.
Hikmahnya: rezeki yang Allah berikan bukan hanya soal jumlah, tetapi soal keberkahan. Keberkahan datang kepada hati yang tawakal, bersyukur, dan tidak sibuk menghitung-hitung dengan keraguan.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakallah kepada Allah dalam urusan rezeki. Jangan sibuk menghitung-hitung dan mengkhawatirkan ketersediaan, tetapi ambillah secukupnya dengan syukur.
- Jangan menimbang-nimbang nikmat dengan keraguan. Menghitung nikmat untuk syukur itu baik, tetapi menghitung dengan keraguan dan kekikiran dapat menghilangkan keberkahan.
- Yakinlah bahwa keberkahan lebih berharga daripada banyaknya jumlah. Makanan sedikit bisa cukup untuk banyak orang jika Allah memberkahinya.
- Jadilah tuan rumah yang ramah. Kisah ini menunjukkan bahwa tamu-tamu mereka juga makan dari gandum tersebut, dan keberkahan tetap ada selama tawakal terjaga.
- Renungkan mukjizat Nabi ﷺ. Hadits ini menambah keyakinan kita bahwa Nabi ﷺ adalah utusan Allah yang diberi mukjizat, dan kita wajib mengikuti petunjuknya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.