Penjelasan Hadits Muslim No. 2273 tentang Mimpi Nabi tentang dua gelang emas dan Musailima pendusta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang kedatangan Musailamah Al-Kadzdzab (pendusta besar) ke Madinah pada masa Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menolak tegas tawarannya dengan sikap yang sangat tegas namun tetap tenang. Hadits ini juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah bermimpi melihat dua gelang emas di tangannya, yang kemudian ditafsirkan sebagai dua orang pendusta yang akan muncul setelah beliau, yaitu Al-'Ansi dan Musailamah. Ini adalah bagian dari mukjizat Nabi ﷺ berupa kebenaran mimpi beliau dan kewaspadaan terhadap fitnah setelah beliau wafat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Mimpi, Bab Mimpi Nabi Muhammad ﷺ, no. 2273. Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَدِمَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ الْمَدِينَةَ...

(HR. Muslim no. 2273)

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan konteks mimpi para nabi adalah firman Allah Ta'ala:

إِنَّ الَّذِي يُحَآجُّونَ فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ ۚ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ

"Orang-orang yang memperdebatkan (agama) Allah setelah (agama itu) diterima, perdebatan mereka itu sia-sia di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan mendapat azab yang sangat keras." (QS. Asy-Syura [42]: 16)

Ayat ini menggambarkan bagaimana orang-orang yang menentang kebenaran setelah jelas baginya akan mendapat kerugian, sebagaimana Musailamah yang menentang Nabi ﷺ setelah kenabian beliau jelas.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu dan benar adanya. Beliau menukil bahwa para ulama sepakat mimpi para nabi adalah haq (benar) dan termasuk wahyu dari Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Kisah Kedatangan Musailamah ke Madinah

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Musailamah Al-Kadzdzab datang ke Madinah pada masa Nabi ﷺ. Dia berkata: "Jika Muhammad menjadikan urusan (kekuasaan) setelahnya untukku, aku akan mengikutinya." Dia datang bersama banyak orang dari kaumnya. Ini menunjukkan betapa besar ambisi Musailamah dan betapa rendahnya cara berpikirnya—dia ingin menjadikan agama sebagai alat untuk meraih kekuasaan dunia.

2. Sikap Tegas Nabi ﷺ

Nabi ﷺ datang menemui Musailamah dengan membawa sepotong pelepah kurma. Beliau bersabda: "Jika engkau meminta kepadaku sepotong pelepah ini pun, aku tidak akan memberikannya kepadamu. Dan aku tidak akan melanggar perintah Allah terhadapmu. Dan jika engkau berpaling, niscaya Allah akan menghancurkanmu."

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini menunjukkan ketegasan dalam perkara agama. Tidak ada kompromi dalam masalah kenabian dan risalah. Meskipun Musailamah datang dengan banyak pengikut, Nabi ﷺ tidak gentar dan tidak memberikan ruang tawar-menawar dalam urusan wahyu.

3. Mimpi Nabi ﷺ tentang Dua Gelang Emas

Nabi ﷺ bersabda: "Ketika aku tidur, aku melihat di kedua tanganku dua gelang emas. Maka aku merasa berat karenanya. Lalu diwahyukan kepadaku dalam mimpi agar aku meniup keduanya. Maka aku meniup keduanya dan keduanya terbang. Aku menakwilkan keduanya sebagai dua pendusta yang muncul setelahku. Salah satunya adalah Al-'Ansi pemimpin Shan'a dan yang lainnya Musailamah pemimpin Yamamah."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Gelang emas melambangkan perhiasan dunia dan kekuasaan yang ditawarkan oleh kedua pendusta tersebut. Namun dengan izin Allah, keduanya "terbang" atau hilang—artinya keduanya tidak akan berhasil dan akan dihancurkan oleh Allah.

4. Kebenaran Mimpi Nabi ﷺ

Kisah ini membuktikan bahwa mimpi Nabi ﷺ adalah benar dan menjadi mukjizat. Al-'Ansi (Aswad Al-'Ansi) muncul di Yaman dan mengaku nabi, lalu dibunuh oleh kaumnya sendiri sebelum Nabi ﷺ wafat. Adapun Musailamah, dia terbunuh dalam perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa di antara hikmah Allah menampakkan mimpi ini kepada Nabi ﷺ adalah untuk mempersiapkan umat menghadapi fitnah setelah beliau wafat, agar mereka tidak mudah tertipu oleh para pengaku nabi palsu.

5. Pelajaran tentang Adab dan Ketegasan

Nabi ﷺ tidak berbicara langsung panjang lebar dengan Musailamah, tetapi menunjuk Tsabit bin Qais bin Syammas untuk menjawabnya. Ini menunjukkan adab dalam perdebatan—kadang perlu ada perwakilan untuk menjaga kemuliaan dan tidak merendahkan diri berdebat dengan orang yang jelas kebatilannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Tsabit bin Qais bin Syammas adalah seorang yang sangat fasih dan berani. Ketika Nabi ﷺ menunjuknya untuk menjawab Musailamah, beliau bersabda: "Ini Tsabit, dia akan menjawabmu atas namaku." Ini menunjukkan kepercayaan Nabi ﷺ kepada sahabatnya.

Setelah peristiwa ini, Musailamah tetap pada kesesatannya. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ketika banyak orang murtad mengikuti Musailamah, Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu memimpin pasukan untuk memerangi mereka dalam Perang Yamamah. Musailamah akhirnya terbunuh oleh Wahsyi (mantan budak yang juga membunuh Hamzah radhiyallahu 'anhu pada Perang Uhud, namun kemudian masuk Islam dan terbunuh pula dalam perang ini). Demikianlah Allah menghancurkan orang yang menentang Rasul-Nya, sebagaimana yang telah diberitakan dalam mimpi Nabi ﷺ.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa setelah terbunuhnya Musailamah, kaum muslimin bersyukur kepada Allah dan ini menjadi bukti kebenaran mimpi Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Mimpi para nabi adalah wahyu dan benar adanya—kita wajib mengimani hal ini sebagai bagian dari mukjizat kenabian.
  2. Tidak ada kompromi dalam masalah akidah dan kenabian—sikap Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tegas terhadap kebatilan meskipun pelakunya datang dengan banyak pengikut.
  3. Allah pasti menolong agama-Nya—para pendusta yang menentang Rasulullah ﷺ pada akhirnya hancur, sebagaimana Al-'Ansi dan Musailamah.
  4. Kita harus waspada terhadap fitnah setelah kepergian Nabi ﷺ—banyak orang mengaku-ngaku memiliki ilmu atau kedudukan tanpa dasar yang benar.
  5. Mimpi orang shalih adalah kabar gembira—sebagaimana mimpi Nabi ﷺ menjadi kabar kemenangan bagi umat Islam, mimpi baik bagi orang mukmin adalah bagian dari kenabian yang telah terputus, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?