Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2261 tentang Mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting: pertama, mimpi yang baik dan menyenangkan itu berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk yang menakutkan berasal dari setan. Kedua, ketika seseorang mengalami mimpi buruk, ada tuntunan dari Nabi ﷺ agar ia meludah ke arah kiri tiga kali dan berlindung kepada Allah dari kejahatan mimpi tersebut. Dengan melakukan ini, mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ yang mengajarkan kita cara menghadapi gangguan setan dalam tidur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Mimpi, no. 2261, dari sahabat Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat lain disebutkan juga dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu (HR. Bukhari no. 5747 dan Muslim no. 2262).

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan pembahasan tentang mimpi dan gangguan setan, Allah berfirman:

QS. An-Naml [27]: 10 (potongan yang relevan tentang mimpi Nabi Musa 'alaihissalam):

وَمَا أُلْقِيَ يَا مُوسَىٰ ۖ وَلَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

"Dan apa yang dilemparkan itu, wahai Musa? Dan janganlah engkau takut; sesungguhnya para rasul tidak takut di sisi-Ku."

Namun yang lebih dekat dengan pembahasan mimpi adalah firman Allah tentang mimpi Nabi Ibrahim:

QS. Ash-Shaffat [37]: 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu dari Allah, dan mimpi orang beriman yang baik juga berasal dari Allah.

Adapun hadits yang sedang kita bahas, Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (15/24-25) menjelaskan makna hadits ini secara rinci. Beliau berkata: "Para ulama berkata: mimpi ada tiga macam: (1) mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Allah, (2) mimpi buruk yang berasal dari setan untuk membuat sedih dan takut, (3) mimpi yang berasal dari bisikan jiwa dan angan-angan."

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa mimpi itu terbagi menjadi tiga jenis:

Pertama: Mimpi yang baik (Ar-Ru'ya) — Ini berasal dari Allah. Mimpi ini bisa berupa kabar gembira, petunjuk, atau pelajaran. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak tersisa dari kenabian melainkan kabar gembira (al-mubasysyirat)." Para sahabat bertanya, "Apa itu al-mubasysyirat?" Beliau menjawab, "Mimpi yang baik." (HR. Bukhari no. 6990)

Kedua: Mimpi buruk (Al-Hulm) — Ini berasal dari setan. Tujuannya adalah untuk menakut-nakuti dan menyedihkan orang mukmin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (17/28) menjelaskan bahwa setan dapat mempermainkan manusia dalam tidurnya, menampakkan hal-hal yang menakutkan, sebagaimana ia juga membisikkan was-was dalam keadaan terjaga.

Ketiga: Mimpi dari bisikan jiwa — Yaitu apa yang sedang dipikirkan atau dikhawatirkan seseorang, lalu ia melihatnya dalam tidurnya. Ini bukan dari Allah dan bukan dari setan secara langsung, tetapi dari kesibukan hati dan angan-angan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (12/352) menjelaskan bahwa perintah Nabi ﷺ untuk meludah ke kiri tiga kali adalah sebagai bentuk pengusiran terhadap setan, karena sisi kiri adalah tempat setan. Adapun bacaan ta'awudz (berlindung kepada Allah) adalah untuk memohon perlindungan dari kejahatan mimpi tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (4/132) menambahkan bahwa orang yang mengalami mimpi buruk juga dianjurkan untuk:

  1. Meludah ke kiri tiga kali (ludah ringan tanpa mengeluarkan air liur berlebihan)
  2. Berlindung kepada Allah dari kejahatan mimpi tersebut
  3. Berpindah posisi tidur (jika tidur miring kanan, pindah ke kiri atau sebaliknya)
  4. Tidak menceritakan mimpi buruk tersebut kepada orang lain
  5. Berwudhu dan shalat jika ingin tidur kembali

Beliau juga menegaskan bahwa mimpi buruk tidak akan membahayakan orang yang melakukan tuntunan ini, karena Nabi ﷺ telah menjaminnya dengan sabdanya: "Maka ia tidak akan membahayakannya."

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (1/55) menjelaskan hikmah dari perintah meludah ke kiri: "Sisi kiri adalah tempat setan, dan ludah adalah sesuatu yang kotor yang dibenci. Maka dengan meludah ke kiri, seorang hamba mengusir setan dengan sesuatu yang dibenci olehnya, sambil berlindung kepada Allah dari kejahatannya."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang mulia, termasuk ahli badar dan salah satu pahlawan perang. Dalam hadits ini, Abu Salamah bin Abdurrahman — seorang tabi'in yang mulia dan menantu Abu Hurairah — menceritakan bahwa ia sering mengalami mimpi buruk yang sangat mengganggunya, sampai-sampai ia merasa demam dan menggigil, namun ia tidak menutupi dirinya dengan selimut karena sangat terganggu.

Ketika ia bertemu dengan Abu Qatadah dan menceritakan keluhannya, sahabat yang mulia ini tidak meremehkan atau menertawakannya. Ia justru memberikan solusi dari sabda Nabi ﷺ yang ia dengar langsung. Ini menunjukkan adab para sahabat dalam menyampaikan ilmu: mereka mendengar hadits, menghafalnya, dan menyampaikannya dengan penuh kasih sayang ketika ada yang membutuhkan.

Dari kisah ini kita belajar bahwa gangguan mimpi buruk adalah hal yang nyata dan bisa sangat mengganggu. Namun Islam memberikan solusi yang sederhana namun penuh keberkahan. Para sahabat dan tabi'in tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut; mereka mencari solusi dari sumber yang benar, yaitu sunnah Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

Beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Ketahui asal mimpi — Mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan. Jangan terlalu khawatir dengan mimpi buruk karena itu hanya gangguan setan.
  2. Jika mengalami mimpi buruk, lakukan:
  • Meludah ke arah kiri tiga kali (ludah ringan, bukan meludah dengan keras)
  • Membaca ta'awudz: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا (Aku berlindung kepada Allah dari kejahatannya)
  • Berpindah posisi tidur
  • Tidak menceritakan mimpi buruk kepada orang lain
  1. Jika mengalami mimpi baik:
  • Bersyukur kepada Allah
  • Boleh menceritakannya kepada orang yang kita cintai dan percaya
  1. Jangan menceritakan mimpi buruk — Karena menceritakannya bisa membuat setan semakin senang dan mengganggu lebih lanjut.
  2. Jadikan tidur sebagai ibadah — Tidurlah dalam keadaan berwudhu, membaca dzikir tidur, dan menghadap kiblat jika memungkinkan, agar tidur kita dijaga dari gangguan setan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.