Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2259 tentang Larangan mengisi hati dengan syair seperti setan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan larangan dan celaan terhadap syair yang tidak bermanfaat, bahkan bisa menjerumuskan kepada kebatilan. Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang yang hatinya dipenuhi syair (yang buruk) seperti perut yang dipenuhi nanah—suatu hal yang sangat menjijikkan dan berbahaya. Namun, perlu dipahami bahwa larangan ini tidak bersifat mutlak untuk semua syair, karena ada syair yang baik dan dibolehkan, bahkan dipuji oleh Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan sanad yang shahih):

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، عَنْ يُحَنِّسَ، مَوْلَى مُصْعَبِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ بَيْنَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِالْعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا "

Makna hadits: Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Ketika kami berjalan bersama Rasulullah ﷺ di daerah 'Arj, tiba-tiba muncul seorang penyair yang melantunkan syair. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tangkap setan itu (atau tahan setan itu). Sungguh, perut seorang lelaki yang penuh dengan nanah lebih baik baginya daripada penuh dengan syair.'" (HR. Muslim no. 2259)

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ۝ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka di setiap lembah kebingungan (berkelana), dan sungguh mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat? Kecuali (penyair-penyair) yang beriman, beramal shalih, banyak mengingat Allah, dan menang setelah terzalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 224-227)

Ayat ini menjelaskan bahwa ada pengecualian bagi penyair yang beriman dan beramal shalih, yang syairnya tidak tercela.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki konteks dan pemahaman yang perlu dirinci:

1. Makna "penuh dengan syair"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah syair yang berisi kebatilan, seperti pujian berlebihan (ghuluw), ejekan, hinaan, atau syair yang melalaikan dari mengingat Allah. Adapun syair yang baik, seperti syair yang berisi hikmah, nasihat, atau semangat jihad, maka tidak tercela. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya syair yang baik.

2. Penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa celaan dalam hadits ini ditujukan kepada syair yang melalaikan atau berisi kebatilan. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat dan tabi'in memiliki syair-syair yang baik. Bahkan, Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhu pernah membacakan syair di hadapan Nabi ﷺ, dan beliau tidak melarangnya.

3. Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim menjelaskan bahwa syair itu seperti perkataan pada umumnya—yang baik adalah yang baik, dan yang buruk adalah yang buruk. Beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ sendiri pernah mendengarkan syair dan bahkan memerintahkan syair untuk dilantunkan dalam beberapa kesempatan, seperti saat membangun masjid Nabawi.

4. Kisah dari Sahabat

Diriwayatkan bahwa Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu adalah penyair resmi Nabi ﷺ yang membela Islam melalui syairnya. Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya:

"Wahai Hassan, ejeklah mereka (orang-orang musyrik) dengan syairmu, dan Jibril bersamamu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa syair yang digunakan untuk membela Islam dan kebenaran adalah terpuji.

5. Perbedaan antara "jauf" (perut) dan hati

Dalam riwayat lain disebutkan "jaufuhu" yang berarti perut/rongga dada. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah hati, karena hati berada di dada. Maksudnya adalah hati yang dipenuhi dengan syair yang melalaikan akan kosong dari Al-Qur'an dan dzikir, dan ini lebih buruk daripada perut yang penuh nanah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, seorang penyair bernama Al-Akhnas bin Syuraiq atau yang lainnya datang kepada Nabi ﷺ dan membacakan syair-syair yang berisi pujian berlebihan dan kebatilan. Maka Nabi ﷺ berpaling darinya dan mengucapkan kalimat dalam hadits di atas.

Namun, lihatlah bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan penyair-penyair yang baik. Ketika Ka'ab bin Zuhair radhiyallahu 'anhu datang dalam keadaan takut akan dibunuh karena sebelumnya pernah menyakiti Nabi ﷺ dengan syairnya, beliau justru menerimanya dengan baik. Ka'ab kemudian membacakan syair terkenalnya yang berisi pujian kepada Nabi ﷺ dan taubatnya, yang diawali dengan bait:

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ

"Telah pergi Su'ad, maka hatiku hari ini terpikat (rindu)."

Nabi ﷺ mendengarkannya dengan penuh perhatian, lalu memberikan selendangnya (burdah) kepada Ka'ab sebagai penghormatan. Ini menunjukkan bahwa syair yang baik, yang berisi kebenaran dan tidak melampaui batas, adalah sesuatu yang mulia di sisi Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjauhi syair yang buruk—yaitu syair yang berisi kebatilan, pujian berlebihan, hinaan, ejekan, atau yang melalaikan dari mengingat Allah dan Al-Qur'an.
  2. Tidak melarang syair yang baik—syair yang berisi nasihat, hikmah, semangat kebaikan, atau pembelaan terhadap Islam adalah dibolehkan bahkan bisa menjadi terpuji.
  3. Menjaga hati dari hal-hal yang melalaikan—hati seharusnya diisi dengan Al-Qur'an, dzikir, dan ilmu yang bermanfaat, bukan dengan hal-hal yang sia-sia.
  4. Bersikap pertengahan—sebagaimana para ulama menjelaskan, syair itu seperti perkataan: ada yang baik dan ada yang buruk. Kita harus selektif dalam mendengarkan dan melantunkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi