Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2255 tentang Nabi mendengarkan dan mengapresiasi syair yang baik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah mendengarkan syair (puisi) yang berisi tauhid dan nasihat, bahkan beliau meminta sahabatnya untuk terus membacakan hingga seratus bait. Ini membuktikan bahwa mendengarkan syair yang baik dan mengandung makna yang benar hukumnya boleh, bahkan bisa disukai oleh Nabi ﷺ. Namun, syair yang buruk atau berisi kebatilan tetap tercela.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda tuliskan, dengan sanad lengkapnya) sudah jelas menunjukkan peristiwa ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Puisi, dari sahabat Al-Ash-Sharid bin Suwaid Ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu.

Dalil pendukung tentang syair yang baik:

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ۝ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka di setiap lembah kebingungan (berkelana), dan sungguh mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan? Kecuali (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak mengingat Allah serta mendapat kemenangan setelah terzalimi. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 224-227)

Ayat ini menjelaskan bahwa ada pengecualian bagi penyair yang beriman dan beramal saleh, yang syairnya tidak tercela.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa syair (puisi) pada dasarnya adalah ucapan. Hukumnya mengikuti isi kandungannya. Jika isinya baik, maka baik; jika isinya buruk, maka buruk.

Pendapat Ulama dari Daftar Rujukan:

  1. Imam Asy-Syafi'i (dalam kitab Al-Umm dan Ar-Risalah) dikenal sangat mengapresiasi syair yang baik. Beliau bahkan menggunakan syair-syair Arab untuk memahami bahasa Al-Qur'an dan hadits. Beliau berkata, "Sesungguhnya syair itu adalah sebagian dari ucapan manusia, yang baik darinya adalah baik, dan yang buruk darinya adalah buruk."
  2. Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah ditanya tentang syair, beliau menjawab bahwa syair yang baik (tidak mengandung kebatilan) tidak mengapa. Bahkan dalam Musnad-nya banyak diriwayatkan syair-syair para sahabat.
  3. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendengarkan syair, dan bahwa Nabi ﷺ sendiri mendengarkannya dengan penuh perhatian. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa yang dilarang hanyalah syair yang berisi kebohongan, hujatan yang berlebihan, atau hal-hal yang diharamkan.
  4. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj) menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya mendengarkan syair yang mengandung hikmah dan nasihat. Beliau juga menyebutkan bahwa Umayyah bin Abi Ash-Shalt adalah seorang penyair di masa jahiliyah yang tidak pernah menyembah berhala, dan syair-syairnya banyak mengandung tauhid dan peringatan tentang hari akhir.
  5. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa syair itu seperti kalam biasa. Jika berisi kebenaran, maka boleh dan bisa jadi dianjurkan. Jika berisi kebatilan, maka haram. Beliau mencontohkan syair-syair yang berisi cinta yang melalaikan atau pujian yang berlebihan adalah tercela.

Mengapa Nabi ﷺ meminta syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt?

Karena syair-syair Umayyah banyak mengandung makna tauhid, pengagungan kepada Allah, dan nasihat tentang kehidupan akhirat. Meskipun Umayyah tidak masuk Islam, syairnya yang baik tetap diakui oleh Nabi ﷺ. Ini menunjukkan keadilan dan kejujuran Nabi ﷺ dalam menilai kebenaran, di mana pun ia berada.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang Imam Asy-Syafi'i yang sangat mencintai syair. Suatu hari, beliau ditanya, "Mengapa engkau begitu banyak meriwayatkan dan menghafal syair?" Maka Imam Asy-Syafi'i menjawab dengan sebuah syair yang maknanya: "Karena sesungguhnya syair itu adalah salah satu sarana untuk memahami Al-Qur'an dan bahasa Arab. Dan aku mempelajarinya untuk memperbaiki lisanku serta menambah pemahamanku terhadap Kitabullah."

Ini menunjukkan bahwa syair yang baik bukanlah sesuatu yang dijauhi oleh para ulama, justru bisa menjadi sarana untuk memahami ilmu agama, terutama bahasa Arab yang merupakan kunci memahami Al-Qur'an dan hadits.

Kesimpulan Praktis

  1. Syair atau puisi yang baik hukumnya boleh dan bisa menjadi sarana dakwah, nasihat, dan hiburan yang menyejukkan hati.
  2. Yang dilarang adalah syair yang berisi kebatilan, seperti syair yang mengajak pada maksiat, syirik, atau mengandung kebohongan dan pujian yang melampaui batas.
  3. Kita bisa mengambil pelajaran dari syair yang baik, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan sunnah.
  4. Bersikap adil dalam menilai, seperti Nabi ﷺ yang tetap mengakui kebaikan syair meskipun dari orang yang belum beriman, selama isinya benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi