Penjelasan Hadits Muslim No. 2225 tentang Kesialan bisa ada pada rumah istri dan kuda

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan menetapkan bahwa rumah, istri, atau kuda itu sendiri membawa sial. Maknanya menurut para ulama: Allah kadang menjadikan pada sebagian rumah, sebagian pasangan, dan sebagian kuda/hewan tunggangan sebagai ujian dan sebab kesulitan bagi seseorang, sehingga ia merasa berat dan gelisah. Islam menolak keyakinan tathayyur (menganggap sesuatu membawa nasib buruk dengan sendirinya). Yang wajib adalah bertawakal kepada Allah dan tidak menjadikan makhluk sebagai penentu nasib.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Salam, dari sahabat Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, melalui jalur Imam Malik bin Anas dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Hamzah dan Salim, anak-anak Abdullah bin Umar.

Teks hadits:

الشُّؤْمُ فِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ

Terjemahan: "Kesialan itu ada pada rumah, istri, dan kuda."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar penolakan tathayyur:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

QS. Hud [11]: 6 — "Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Juga firman Allah:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

QS. Ar-Ra'd [13]: 28 — "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Penjelasan Rinci

Pertama: memahami hadits ini tidak boleh lepas dari hadits lain. Ada hadits shahih lain yang tampaknya berlawanan, yaitu sabda Nabi ﷺ:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

"Tidak ada penularan (dengan sendirinya), tidak ada tathayyur, tidak ada hammah, dan tidak ada shafar." (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

Kedua: bagaimana para ulama daftar kita memahami? Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bukan menetapkan bahwa benda-benda itu membawa sial dengan sendirinya. Yang dimaksud adalah: Allah kadang menjadikan pada sebagian rumah, sebagian istri, dan sebagian kuda sebagai sebab kesulitan dan ujian bagi seseorang, sehingga orang itu merasa tidak betah atau gelisah. Ini adalah bagian dari takdir dan ujian, bukan kekuatan mistis pada benda tersebut.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad dan Miftah Daris Sa'adah menegaskan: tathayyur adalah syirik kecil yang harus ditinggalkan. Yang benar adalah tafa'ul (berharap baik) dan tawakal kepada Allah. Beliau menjelaskan bahwa hadits "kesialan pada tiga hal" menunjukkan bahwa Allah menciptakan pada sebagian makhluk-Nya sifat yang tidak disukai hamba sebagai ujian, bukan karena benda itu punya kuasa.

Ibnu Umar sendiri — perawi hadits ini — dalam riwayat lain (Al-Bukhari) menyebutkan bahwa beliau pernah berkata tentang rumah yang beliau tinggali, menunjukkan pemahaman bahwa ini adalah pengalaman pribadi, bukan keyakinan bahwa rumah membawa sial.

Ketiga: perbedaan pendapat di antara ulama daftar. Sebagian ulama seperti Imam Malik (yang meriwayatkan hadits ini) memahaminya sebagai kenyataan pengalaman: kadang seseorang mendapati rumahnya sempit, istrinya banyak menuntut, atau kudanya sulit ditunggangi, sehingga ia merasa berat. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menegaskan bahwa ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tathayyur, tetapi harus dihadapi dengan sabar dan tawakal. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Qayyim: hadits ini menetapkan adanya ujian pada tiga hal tersebut, tetapi tidak membenarkan keyakinan bahwa benda itu membawa sial dengan sendirinya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar رضي الله عنهما — perawi hadits ini — pernah ditanya tentang rumah yang beliau tempati. Beliau menjawab dengan menyebutkan hadits ini, lalu beliau tetap tinggal di rumah itu dan tidak pindah karena tathayyur. Ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai keterangan tentang ujian, bukan sebagai keyakinan sial. (Disebutkan secara makna dalam riwayat Al-Bukhari dan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.)

Imam Malik bin Anas — guru dari perawi hadits ini — ketika ditanya tentang tathayyur, beliau menegaskan bahwa tathayyur adalah kebatilan, dan seorang Muslim harus bertawakal kepada Allah. Beliau sendiri meriwayatkan hadits ini bukan untuk membenarkan tathayyur, tetapi untuk menjelaskan bahwa ujian bisa datang melalui hal-hal tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan percaya tathayyur. Rumah, istri, atau kuda (kendaraan) tidak membawa sial dengan sendirinya. Yang menentukan segala sesuatu adalah Allah.
  2. Jika merasa berat dengan rumah, pasangan, atau kendaraan, jangan menyalahkan benda atau orangnya. Perbanyak doa, istighfar, dan tawakal kepada Allah.
  3. Hadits ini mengajarkan sabar dan tawakal. Jika Allah menguji dengan rumah yang sempit, pasangan yang sulit, atau kendaraan yang bermasalah, hadapi dengan sabar dan cari solusi yang halal.
  4. Jangan jadikan hadits ini alasan untuk meninggalkan rumah, menceraikan istri, atau menjual kuda hanya karena merasa sial. Itu adalah tathayyur yang dilarang.
  5. Perbanyak tafa'ul (berharap baik) dan hindari tathayyur. Nabi ﷺ menyukai tafa'ul dan melarang tathayyur.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?