Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ menolak keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah) dan menolak takhayul/pertanda buruk. Sebaliknya, beliau ﷺ menyukai "fa'l" (pertanda baik), yaitu mendengar kata-kata yang baik dan optimis. Intinya: seorang mukmin dianjurkan berhusnuzan kepada Allah dan menjauhi keyakinan buruk yang tidak berdasar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Shahih Muslim, no. 2224, Kitab Salam, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:
حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ»
"Tidak ada 'adwa (penyakit menular dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (takhayul/pertanda buruk), dan aku menyukai fa'l, yaitu kalimat yang baik, kalimat yang thayyib."
Ayat terkait — QS. Al-Hadid [57]: 22:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
Ayat ini menjadi dasar bahwa segala sesuatu — termasuk penyakit — terjadi dengan ketetapan Allah, bukan karena benda atau kejadian yang dianggap membawa sial.
Penjelasan Rinci
1. Makna "لَا عَدْوَى" (tidak ada 'adwa)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda dalam memahami kalimat ini. Jumhur ulama memahami bahwa Nabi ﷺ menolak keyakinan orang Jahiliyah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya, terlepas dari ketetapan Allah. Adapun penularan secara faktual tetap ada — sebagaimana sabda beliau ﷺ dalam hadits lain tentang penderita kusta — namun semua itu terjadi bi idznillah (dengan izin Allah). Jadi yang ditolak adalah keyakinan bahwa penyakit itu "bergerak sendiri" tanpa takdir Allah.
2. Makna "لَا طِيَرَةَ" (tidak ada thiyarah)
Thiyarah adalah merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu — misalnya burung terbang ke kiri, suara tertentu, angka tertentu, atau kejadian tertentu. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa thiyarah termasuk syirik kecil karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Ibnul Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa'adah menegaskan thiyarah merusak tauhid dan menumbuhkan rasa takut yang tidak berdasar.
3. Makna "الْفَأْلُ" (fa'l / optimisme)
Fa'l adalah kebalikan thiyarah: berharap baik dan optimis. Nabi ﷺ menyukainya karena mengandung husnuzan kepada Allah. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa fa'l membawa ketenangan hati dan tawakal, sedangkan thiyarah membawa kegelisahan dan su'uzan. Imam an-Nawawi menyebut bahwa fa'l dibolehkan dan tidak termasuk thiyarah, karena ia bukan keyakinan yang menggantungkan nasib pada benda, melainkan sekadar harapan baik yang disandarkan kepada Allah.
4. Perbedaan pendapat
Sebagian ulama daftar seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menyebut adanya perbedaan dalam memahami "لَا عَدْوَى": apakah menafikan keberadaan penularan secara mutlak, atau menafikan keyakinan Jahiliyah bahwa penularan terjadi dengan sendirinya. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnul Qayyim dan Ibnul Hajar — adalah bahwa penularan itu nyata secara sebab-akibat, tetapi tetap dalam ketetapan dan izin Allah. Ini menggabungkan antara hadits ini dengan hadits "Firr min al-majdzumi..." (menjauhlah dari penderita kusta).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, kami pernah mengalami masa sulit, lalu kami keluar dan melihat burung terbang ke arah tertentu, lalu kami menganggapnya pertanda baik." Nabi ﷺ mengoreksi keyakinan semacam ini dengan lembut, mengarahkan mereka kepada tawakal dan husnuzan kepada Allah. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah — yang merupakan perawi hadits ini — mengajarkan bahwa hati seorang mukmin harus bersih dari ketergantungan pada pertanda-pertanda, dan hanya bergantung kepada Allah. Qatadah sendiri, sebagai perawi langsung dari Anas, dikenal sangat menekankan tauhid dan menjauhi khurafat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan percaya takhayul — angka sial, hari sial, suara burung, atau kejadian tertentu yang dianggap membawa nasib buruk. Semua itu tidak memiliki kekuatan apa pun.
- Jangan meyakini penyakit menular dengan sendirinya — tetap lakukan ikhtiar (menjaga kesehatan, menjauhi sumber penyakit), namun yakini semua terjadi dengan izin Allah.
- Biasakan fa'l (optimisme) — ucapkan kata-kata baik, berhusnuzan kepada Allah, dan harapkan kebaikan dalam setiap keadaan.
- Jaga tauhid — gantungkan hati hanya kepada Allah, bukan kepada benda, angka, atau kejadian.
- Perbanyak doa dan tawakal — karena hanya Allah yang mengatur segala urusan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.