Penjelasan Hadits Muslim No. 2222 tentang Penolakan takhayul penyakit menular dan tanda buruk

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan ketetapan dan izin Allah, bukan karena benda atau tanda tertentu yang dianggap membawa sial. Nabi ﷺ menolak keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya, bahwa burung atau tanda tertentu menentukan nasib, dan bahwa ada makhluk halus (ghoul) yang menyesatkan manusia. Yang wajib kita pegang adalah tawakal kepada Allah disertai usaha yang benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hadid [57]: 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Salam, dari sahabat Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما. Imam Muslim meriwayatkannya melalui dua jalur: dari Ahmad bin Yunus dari Zuhair, dan dari Yahya bin Yahya dari Abu Khaitsamah, keduanya dari Abu az-Zubair, dari Jabir.

Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه dengan tambahan: "وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ" (tidak ada hammah dan tidak ada shafar).

Penjelasan Rinci

Makna "لَا عَدْوَى" (tidak ada penyakit menular):

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penafian ini bukan berarti penyakit tidak bisa berpindah dari satu orang ke orang lain secara faktual, karena kenyataan menunjukkan hal itu terjadi. Yang ditolak adalah keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya, terlepas dari ketetapan Allah. Jadi maknanya: tidak ada penularan yang terjadi secara mandiri, melainkan semua dengan izin dan takdir Allah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan hal serupa: Nabi ﷺ menolak keyakinan jahiliyah yang menganggap penyakit menular sebagai sebab mandiri. Beliau tidak menolak adanya sebab, tetapi menolak anggapan bahwa sebab itu bekerja tanpa ketetapan Allah.

Makna "لَا طِيَرَةَ" (tidak ada tanda buruk/sial):

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa thiyarah adalah merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu, seperti burung terbang ke arah tertentu, suara tertentu, atau kejadian tertentu. Ini termasuk syirik kecil karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa thiyarah dilarang karena merusak tawakal.

Makna "لَا غُولَ" (tidak ada ghoul):

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ghoul adalah sejenis jin atau makhluk halus yang dalam kepercayaan jahiliyah dipercaya menampakkan diri di tempat sepi dan menyesatkan orang yang bepergian. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa jin memang ada dan bisa mengganggu, tetapi keyakinan bahwa ghoul memiliki kekuatan tertentu yang menyesatkan secara mandiri adalah batil. Yang benar, jin tidak bisa mencelakai kecuali dengan izin Allah.

Kesimpulan ulama: Ketiga penafian ini bertujuan membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Al-Qaul as-Sadid menegaskan bahwa tauhid yang benar menuntut kita melepaskan keyakinan-keyakinan batil semacam ini dan bersandar hanya kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ketika Nabi ﷺ bersabda "لَا عَدْوَى", seorang Arab badui bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta yang sehat masuk ke kandang yang di dalamnya ada unta berpenyakit kudis, lalu ikut terkena kudis?" Nabi ﷺ menjawab: "فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟" — "Lalu siapa yang menularkan kepada yang pertama?"

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini adalah jawaban yang sangat dalam: jika penularan terjadi dengan sendirinya, maka siapa yang menularkan penyakit kepada unta pertama? Ini membuktikan bahwa semua terjadi dengan takdir Allah. Nabi ﷺ tidak menyangkal adanya penularan, tetapi membantah keyakinan bahwa penularan itu mandiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan, karena semua yang terjadi adalah dengan ketetapan-Nya.
  2. Tetap berusaha dengan cara yang benar (berobat, menjaga kesehatan, menjauhi sumber bahaya), karena usaha tidak bertentangan dengan tawakal.
  3. Tidak percaya pada thiyarah (tanda sial), baik berupa suara, angka, hari, atau kejadian tertentu.
  4. Tidak takut kepada ghoul atau makhluk halus secara berlebihan; berlindunglah hanya kepada Allah.
  5. Menjauhi syirik kecil yang sering tersembunyi dalam bentuk kepercayaan pada hal-hal yang dianggap membawa sial atau keberuntungan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?