Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, terlepas dari takdir dan kehendak Allah ﷻ. Nabi ﷺ menolak keyakinan jahiliyah yang menganggap penyakit menular secara alami, namun beliau juga tidak menafikan fakta bahwa penyakit bisa menular dengan izin Allah. Jawaban Nabi ﷺ kepada orang Badui itu sangat dalam: "Siapa yang menularkan kepada yang pertama?" Artinya, unta pertama yang sakit itu juga pasti tertular dari sesuatu, maka siapa yang menularkannya? Itulah Allah ﷻ. Semua terjadi dengan takdir dan izin-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab As-Salam, Bab "Lā 'Adwā wa lā Ṣafara wa lā Hāmah", no. 2220, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (juga) menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk salah satu hadits yang membahas tentang takdir dan bantahan terhadap keyakinan jahiliyah. Beliau menukil pemahaman para ulama bahwa yang dimaksud "lā 'adwā" adalah menafikan penularan penyakit secara alami dan mandiri, bukan menafikan fakta bahwa Allah bisa menjadikan penyakit menular melalui sebab-sebab yang Dia kehendaki.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati, karena ada dua hal yang harus dijaga: (1) tidak meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya di luar takdir Allah, dan (2) tidak menafikan fakta bahwa penyakit bisa menular dengan izin Allah.
Pertama: Makna "Lā 'Adwā" (tidak ada penularan)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah menafikan keyakinan orang-orang jahiliyah yang menganggap bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara alami, tanpa campur tangan Allah. Mereka meyakini bahwa penyakit itu "berpindah" dengan sendirinya seperti berpindahnya air dari satu tempat ke tempat lain. Keyakinan ini adalah syirik kecil karena menjadikan sebab-sebab alamiah sebagai kekuatan yang mandiri di luar kehendak Allah.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa penularan penyakit itu nyata dan bisa terjadi, tetapi bukan karena penyakit itu "berjalan sendiri", melainkan karena Allah ﷻ yang menjadikan penularan tersebut sebagai sebab. Beliau berkata: "Penularan itu benar adanya, tetapi tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dengan takdir Allah. Maka siapa yang meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, maka dia telah terjatuh dalam kesyirikan."
Kedua: Jawaban Nabi ﷺ kepada orang Badui
Ketika orang Badui itu bertanya: "Bagaimana bisa unta yang sehat menjadi kudis karena bercampur dengan unta yang kudis?" Nabi ﷺ menjawab: "Siapa yang menularkan kepada yang pertama?" Maksudnya: unta yang pertama kali terkena kudis itu dari mana? Pasti ada sebabnya juga. Maka semua kembali kepada takdir Allah. Ini adalah jawaban yang sangat dalam dan logis, menunjukkan bahwa semua kejadian di alam ini terjadi dengan takdir Allah, bukan dengan sendirinya.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak menafikan fakta bahwa unta yang sehat bisa tertular dari unta yang sakit. Beliau hanya menafikan keyakinan bahwa penularan itu terjadi dengan sendirinya, terlepas dari kehendak Allah. Maka jawaban Nabi ﷺ itu adalah bantahan terhadap keyakinan jahiliyah sekaligus penetapan bahwa semua terjadi dengan takdir Allah.
Ketiga: Makna "Lā Ṣafara" dan "Lā Hāmah"
- Ṣafar: Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah keyakinan jahiliyah bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau bahwa ada ular di perut yang bisa menular. Islam menolak keyakinan ini.
- Hāmah: Ini adalah keyakinan jahiliyah bahwa burung hantu (atau burung tertentu) yang hinggap di rumah seseorang bisa membawa sial atau bahwa roh orang yang terbunuh akan menjadi burung yang berteriak minta dibalaskan. Islam menolak semua ini.
Keempat: Keseimbangan antara tawakkal dan ikhtiar
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan perintah Nabi ﷺ untuk menjauhi orang yang sakit kusta atau wabah. Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: "Larilah dari orang yang terkena kusta seperti kamu lari dari singa" (HR. Al-Bukhari). Maka keseimbangannya adalah: kita tetap melakukan ikhtiar untuk menjaga diri, tetapi hati kita tetap yakin bahwa yang menetapkan sakit dan sembuh hanyalah Allah ﷻ.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan: "Hadits ini tidak menafikan bahwa penyakit bisa menular dengan izin Allah. Yang dinafikan adalah penularan yang diyakini terjadi dengan sendirinya, di luar takdir Allah. Maka kita tetap menjaga diri, tetapi kita tidak meyakini bahwa penularan itu terjadi dengan sendirinya."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, terjadi wabah penyakit di Syam. Umar yang sedang dalam perjalanan ke sana bermusyawarah dengan para sahabat. Sebagian mengusulkan untuk tetap masuk, sebagian lagi mengusulkan untuk kembali. Maka Umar memutuskan untuk kembali dan tidak memasuki daerah wabah.
Kemudian datanglah Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu yang sedang memimpin pasukan di Syam, ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau lari dari takdir Allah?" Maka Umar menjawab: "Ya, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau lihat jika engkau memiliki unta yang turun ke lembah yang subur di satu sisi dan lembah yang tandus di sisi lain, maka engkau akan menggembalakannya di lembah yang subur dengan takdir Allah, dan di lembah yang tandus juga dengan takdir Allah?"
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul ajaran Nabi ﷺ tentang keseimbangan antara tawakkal dan ikhtiar. Mereka tidak meyakini bahwa wabah menular dengan sendirinya, tetapi mereka juga tidak meninggalkan ikhtiar untuk menjaga diri. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa takdir Allah tidak bisa dihindari, tetapi ikhtiar adalah bagian dari takdir itu sendiri.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya — semua terjadi dengan izin dan takdir Allah ﷻ.
- Tetap melakukan ikhtiar menjaga diri — menjauhi wabah, menjaga kebersihan, dan mengikuti protokol kesehatan adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan percaya pada mitos dan takhayul — seperti sial pada bulan Safar, burung hantu, atau anggapan-anggapan jahiliyah lainnya.
- Seimbangkan antara tawakkal dan ikhtiar — hati yakin kepada Allah, tetapi badan tetap berusaha.
- Jika tertular penyakit, bersabarlah — itu adalah takdir Allah, dan bisa menjadi penghapus dosa jika dihadapi dengan sabar dan ikhlas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.