Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2214 tentang Pengobatan bengkak uvula dan pleuritis dengan kayu cendana

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan dua hal penting: (1) cara menyucikan pakaian yang terkena air kencing bayi yang belum makan makanan padat, yaitu cukup dengan memercikkan air; dan (2) petunjuk Nabi ﷺ tentang pengobatan dengan kayu cendana India (al-'ud al-hindi) yang mengandung tujuh macam khasiat penyembuh, di antaranya untuk penyakit pleuritis (radang selaput dada). Nabi ﷺ juga menegur kebiasaan keras sebagian orang tua yang memaksa mengobati anak dengan cara menyakitkan, dan mengarahkan kepada cara yang lebih lembut dan bermanfaat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Salam, Bab Pengobatan dengan Kayu Cendana India (no. 2214), dari Ummu Qais binti Mihshan, saudara perempuan 'Ukasyah bin Mihshan.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan prinsip pengobatan dan tawakkal, di antaranya firman Allah:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku."

Ayat ini menunjukkan bahwa kesembuhan hakikatnya dari Allah, sedangkan obat adalah sebab yang Allah tetapkan. Ini menjadi dasar penting dalam memahami hadits pengobatan: mengambil sebab (berobat) tidak bertentangan dengan tawakkal.

Hadits terkait lainnya dari Nabi ﷺ:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan makna: "Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Dia menurunkan pula obatnya."

Hadits ini dikuatkan oleh penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, bahwa Allah tidak menciptakan penyakit tanpa sebab kesembuhan yang diketahui atau belum diketahui manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua bagian besar yang perlu dipahami dengan baik.

Pertama: Hukum air kencing bayi yang belum makan makanan padat.

Ummu Qais menceritakan bahwa ia membawa anaknya yang belum menyusu makanan padat (yakni masih bayi murni ASI) kepada Nabi ﷺ, lalu bayi itu mengompol di pangkuan beliau. Nabi ﷺ tidak marah, tidak mencela, tetapi hanya meminta air lalu memercikkannya ke bagian yang terkena. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa air kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan selain ASI cukup dibersihkan dengan memercikkan air tanpa harus diperas atau digosok. Ini adalah bentuk keringanan (rukhshah) dari syariat. Adapun bayi perempuan, menurut jumhur ulama seperti yang dijelaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, tetap harus dicuci. Perbedaan ini berdasarkan hadits lain yang shahih. Yang penting di sini adalah sikap lembut Nabi ﷺ dan perhatian beliau terhadap kebersihan tanpa memberatkan.

Kedua: Petunjuk pengobatan dengan kayu cendana India.

Ummu Qais juga menceritakan bahwa ia pernah membawa anaknya yang sedang sakit bengkak di uvula (anak lidah/kerongkongan), dan ia telah memijat atau menekan bengkak itu dengan cara tertentu (disebut al-'udzrah, yaitu pembengkakan di tenggorokan). Maka Nabi ﷺ bersabda: "Mengapa kamu menyakiti anak-anakmu dengan cara seperti ini? Gunakanlah kayu cendana India ini, karena di dalamnya terdapat tujuh jenis obat, salah satunya untuk pleuritis (radang selaput dada)."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "laa tadgharunna" atau "'alaama tadgharna" mengandung teguran terhadap kebiasaan keras dalam mengobati anak, yaitu dengan menekan atau memijat bengkak di tenggorokan yang bisa menyakiti anak. Nabi ﷺ mengarahkan kepada obat yang lebih bermanfaat, yaitu al-'ud al-hindi (kayu cendana India).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa al-'ud al-hindi adalah sejenis kayu yang dikenal memiliki khasiat obat, dan para ulama kedokteran Islam seperti yang dinukil oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kayu ini memiliki sifat menghangatkan, mengeringkan, dan bermanfaat untuk berbagai penyakit. Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa kayu cendana India bermanfaat untuk penyakit radang selaput dada (dzatul janb), dan cara penggunaannya bisa melalui hidung (sa'uth) untuk penyakit tenggorokan, dan melalui mulut (ladud) untuk pleuritis.

Nabi ﷺ menyebutkan "tujuh jenis obat" (sab'atu asyfiyah). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan banyaknya khasiat kayu tersebut, dan angka tujuh dalam bahasa Arab sering digunakan untuk menunjukkan banyaknya, bukan selalu harus tepat tujuh. Namun sebagian ulama seperti yang dinukil Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa memang ada tujuh khasiat yang dikenal, di antaranya untuk pleuritis, sakit tenggorokan, dan lainnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar sepakat bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berobat dan mengambil sebab, serta tidak bertentangan dengan tawakkal. Ibnu Qayyim menambahkan bahwa pengobatan dengan bahan alami seperti kayu cendana adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ yang mengandung hikmah medis. Adapun mengenai jumlah "tujuh" khasiat, Ibnu Hajar cenderung memahaminya sebagai banyaknya khasiat, sedangkan Ibnu Qayyim menyebutkan secara lebih rinci khasiat-khasiat tersebut berdasarkan pengetahuan medis pada masanya.

Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan anjuran berobat dengan cara yang lembut dan bermanfaat, serta teguran terhadap cara pengobatan yang menyakitkan tanpa dasar.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu 'anha adalah seorang wanita dari kalangan sahabat yang dikenal dekat dengan Nabi ﷺ. Suatu hari ia datang membawa bayinya yang masih kecil, dan bayi itu mengompol di pangkuan Nabi ﷺ. Para sahabat yang hadir mungkin merasa khawatir, tetapi Nabi ﷺ justru menunjukkan sikap yang sangat lembut. Beliau tidak marah, tidak mencela, hanya meminta air dan memercikkannya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang pendidik dan orang tua harus sabar terhadap anak-anak, terutama bayi yang belum mengerti apa-apa.

Di kesempatan lain, Ummu Qais membawa anaknya yang sakit tenggorokan. Ia telah berusaha mengobati dengan cara menekan bengkak di tenggorokan anaknya, yang tentu menyakitkan. Nabi ﷺ melihat itu dan bersabda dengan lembut namun tegas: "Mengapa kamu menyakiti anak-anakmu dengan cara seperti ini?" Lalu beliau menunjukkan obat yang lebih baik, yaitu kayu cendana India. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya peduli pada ibadah, tetapi juga pada kesehatan dan cara pengobatan yang benar. Beliau mengajarkan bahwa kasih sayang kepada anak harus diwujudkan dengan cara yang tidak menyakiti, dan bahwa Allah telah menyediakan obat-obatan yang bermanfaat bagi manusia.

Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah sosok yang paling penyayang terhadap anak-anak, dan petunjuk beliau dalam pengobatan selalu mengedepankan manfaat dan menjauhi cara-cara yang keras tanpa dasar.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap lembut terhadap anak: Nabi ﷺ menegur cara pengobatan yang menyakitkan dan mengarahkan kepada cara yang lebih baik. Orang tua hendaknya mengedepankan kasih sayang dalam mendidik dan mengobati anak.
  2. Boleh berobat dan mengambil sebab: Hadits ini menunjukkan bahwa berobat tidak bertentangan dengan tawakkal, selama tidak bergantung pada obat itu sendiri, melainkan pada Allah yang menyembuhkan.
  3. Memanfaatkan obat alami yang bermanfaat: Kayu cendana India disebutkan Nabi ﷺ memiliki banyak khasiat. Ini mendorong kita untuk memanfaatkan bahan-bahan alami yang Allah sediakan, dengan tetap berkonsultasi kepada ahli yang terpercaya.
  4. Kebersihan dalam ibadah: Air kencing bayi yang belum makan makanan padat cukup dipercikkan air, sebagai bentuk keringanan dari Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak memberat-beratkan diri dalam urusan thaharah.
  5. Merujuk kepada ulama dalam memahami hadits: Pemahaman hadits ini harus mengikuti penjelasan para ulama seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim, agar tidak salah dalam mengamalkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi