Penjelasan Hadits Muslim No. 219 tentang Tujuh puluh ribu umat masuk surga tanpa hisab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar dari umat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu adanya golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Jumlah mereka sangat banyak (70.000 atau 700.000), mereka masuk surga secara bersamaan sambil saling berpegangan, dan wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan tingginya kedudukan tauhid serta keikhlasan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Dalil Masuknya Golongan dari Kaum Muslim ke Surga Tanpa Hisab dan Siksaan, nomor 219. Perawi sahabat: Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari hadits-hadits lain, di antaranya hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, wajah mereka seperti bulan purnama.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema ini, di antaranya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

QS. Al-Qiyamah [75]: 22

Terjemahan: "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri."

Juga firman Allah:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

QS. Ali 'Imran [3]: 106

Terjemahan: "Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada wajah-wajah yang hitam muram."

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan umat ini dan bahwa golongan pertama yang masuk surga tanpa hisab adalah ahlut tauhid yang sempurna. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah (meminta diruqyah), tidak melakukan thiyarah (meramal nasib), dan hanya bertawakal kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, tentang jumlah mereka. Rasulullah ﷺ menyebutkan angka tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu. Abu Hazim ragu mana yang beliau dengar. Ini menunjukkan bahwa angka tersebut bukanlah batas maksimal, melainkan isyarat banyaknya jumlah mereka. Sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi, keraguan perawi tidak mengurangi makna hadits, karena keduanya menunjukkan jumlah yang sangat besar.

Kedua, sifat mereka: "مُتَمَاسِكُونَ آخِذٌ بَعْضُهُمْ بَعْضًا" — saling berpegangan satu sama lain. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini menggambarkan kesatuan dan kekompakan mereka, seperti satu barisan yang saling menguatkan. Mereka masuk surga bersama-sama, tidak ada yang mendahului yang lain. Ini adalah isyarat tentang pentingnya persatuan dan saling mendukung dalam ketaatan.

Ketiga, "لاَ يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ" — yang pertama tidak masuk hingga yang terakhir masuk. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan mereka masuk secara bersamaan, sebagai bentuk penghormatan dan keutamaan bagi mereka semua. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain.

Keempat, wajah mereka seperti bulan purnama (الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ). Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa cahaya wajah mereka adalah cerminan dari cahaya iman dan tauhid di hati mereka. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin bercahaya wajahnya di akhirat.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa golongan ini. Sebagian mengatakan mereka adalah umat secara umum yang masuk surga tanpa hisab. Sebagian lain, berdasarkan hadits lain, mengatakan mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berthiyarah, dan bertawakal kepada Allah. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa mereka adalah ahlut tauhid yang mencapai derajat tawakal sempurna, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang ingin masuk surga tanpa hisab. Para sahabat terdiam. Kemudian beliau menyebutkan sifat-sifat mereka: orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berthiyarah, dan hanya bertawakal kepada Allah. Mendengar itu, Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar termasuk golongan mereka." Nabi ﷺ mendoakannya. Kemudian seorang sahabat lain berdiri dan meminta hal yang sama, namun Nabi ﷺ bersabda, "Ukkasyah telah mendahuluimu." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan ini, dan betapa Nabi ﷺ menghargai semangat mereka. Hikmahnya adalah kita harus bersemangat dalam meningkatkan tauhid dan tawakal, serta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdoa dan memohon kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perkuat tauhid dan tawakal kepada Allah, karena inilah kunci masuk surga tanpa hisab.
  2. Jaga persatuan dan saling mendukung dalam kebaikan, sebagaimana sifat golongan ini yang saling berpegangan.
  3. Hindari meminta diruqyah (kecuali darurat), thiyarah, dan hal-hal yang mengurangi tawakal.
  4. Berdoalah kepada Allah agar termasuk golongan yang masuk surga tanpa hisab dan azab.
  5. Yakinlah bahwa rahmat Allah sangat luas, dan jangan berputus asa dari rahmat-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?