Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2186 tentang Bab Pengobatan, Penyakit, dan Ruqyah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Jibril ‘alaihissalam meruqyah Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau sakit dengan doa perlindungan yang agung. Ruqyah ini mengajarkan kita untuk memohon kesembuhan hanya kepada Allah dengan menyebut nama-Nya, memohon perlindungan dari segala gangguan, terutama dari penyakit dan hasad (iri hati). Ini menjadi tuntunan bagi umat Islam dalam berobat dan berlindung kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang relevan:

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

(QS. Al-Falaq [113]: 1–5)

Terjemahan: “Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad.”

Ayat ini menjelaskan permohonan perlindungan dari segala kejahatan, termasuk hasad – yang disebut dalam hadits Jibril ketika meruqyah Nabi dengan bacaan "min syarri kulli nafsin aw ‘ayni haasid".

Hadits yang dimaksud:

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab as-Salam, Bab at-Tadawi wa ar-Ruqyah, nomor 2186:

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?” Beliau menjawab, “Ya.” Jibril berkata:

“Bismillahi arqiika min kulli syai’in yu’dziika, min syarri kulli nafsin aw ‘ayni haasid, Allahu yusyfiika, bismillahi arqiika.”

(Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad, Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.)

Penjelasan ulama dalam daftar:

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (14/181) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya meruqyah dengan nama Allah dan doa-doa yang ma’tsur. Beliau juga menyebut bahwa ruqyah seperti ini adalah bentuk pengobatan yang disyariatkan.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (10/215) ketika membahas bab ruqyah menyebutkan bahwa Jibril mengajarkan kepada Nabi doa perlindungan yang mencakup tiga hal: 1) perlindungan dari segala penyakit, 2) perlindungan dari kejahatan jiwa dan makhluk, 3) perlindungan dari hasad dan ‘ain (pandangan mata jahat).
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma’ad (4/138) menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa doa dan ruqyah yang disyariatkan memuat tawakkal kepada Allah, menggunakan asma-Nya, dan memohon kesembuhan dari-Nya. Beliau juga menegaskan bahwa hasad adalah penyakit hati yang dapat memengaruhi fisik, sehingga perlu dibentengi dengan doa perlindungan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan beberapa faedah penting dalam akidah dan pengobatan Islam:

  1. Kedatangan malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa para malaikat adalah makhluk yang diutus Allah untuk menolong hamba-Nya, terutama para nabi dan orang-orang saleh. Jibril tidak meruqyah dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan izin Allah dan menyebut nama-Nya.
  2. Doa ruqyah Jibril mencakup perlindungan menyeluruh:
  • “min kulli syai’in yu’dziika”: dari segala sesuatu yang menyakitkan, baik penyakit fisik, sihir, gangguan setan, atau lainnya.
  • “min syarri kulli nafsin”: dari kejahatan setiap jiwa (manusia atau jin) yang berniat buruk.
  • “min syarri ‘ayni haasid”: secara khusus dari pandangan mata yang hasad (iri). Ini menunjukkan bahwa hasad adalah sumber bahaya yang nyata dan perlu dilindungi darinya.
  1. Kesembuhan semata-mata dari Allah: Doa Jibril diakhiri dengan “Allahu yusyfiika (Allah yang menyembuhkanmu)”, menegaskan bahwa segala ikhtiar berupa ruqyah hanyalah sebab, sedangkan yang menyembuhkan hanyalah Allah Ta’ala. Ini mengajarkan tawakkal yang murni.
  2. Posisi ruqyah dalam syariat: Para ulama ahlus sunnah sepakat bahwa ruqyah dengan bacaan Al-Qur’an, doa-doa ma’tsur, dan dengan nama Allah adalah boleh bahkan dianjurkan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam al-Masa’il menegaskan bahwa ruqyah yang tidak mengandung syirik adalah bagian dari pengobatan yang diperbolehkan. Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya memuat beberapa bab tentang ruqyah, dan beliau meriwayatkan bahwa sahabat seperti Abu Sa’id al-Khudri dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma pernah melakukan ruqyah.
  3. Perbedaan ruqyah syirik dan syar’i: Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Fath al-Bari (syarh Bukhari) menjelaskan bahwa ruqyah yang benar harus memenuhi syarat: 1) menggunakan bacaan yang jelas maknanya dan tidak mengandung kesyirikan, 2) dengan keyakinan bahwa yang memberi manfaat hanya Allah, bukan bacaan itu sendiri. Jika ruqyah menggunakan mantra, jampi-jampi yang tidak diketahui maknanya, atau meminta bantuan jin, maka itu haram.

Story Telling

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

Pada suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ merasa sakit. Maka Jibril ‘alaihissalam datang dengan izin Allah dan bertanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu Jibril membacakan ruqyah tersebut.

Hikmah:

  • Nabi yang ma’shum tetap membutuhkan perlindungan Allah secara lahiriah, sebagai teladan bagi umatnya agar tidak meninggalkan ikhtiar dan doa.
  • Jibril mengajarkan doa yang ringkas namun mencakup segala macam gangguan. Ini mengingatkan kita untuk senantiasa mengamalkan doa-doa perlindungan yang diajarkan syariat.
  • Hasad adalah penyakit hati yang berbahaya; oleh karena itu, Rasulullah bersabda, “Jagalah dirimu dari hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani). Doa dari Jibril ini menjadi benteng dari bahaya tersebut.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa amalan yang dapat diambil dari hadits ini:

  1. Membaca doa ruqyah Jibril ketika sakit atau saat merasa ada gangguan:

“Bismillahi arqiika min kulli syai’in yu’dziika, min syarri kulli nafsin aw ‘ayni haasid, Allahu yusyfiika, bismillahi arqiika.”

Boleh dibaca untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

  1. Memperbanyak membaca surat al-Falaq dan an-Nas, terutama pada pagi dan petang, sebagai perlindungan dari hasad, sihir, dan kejahatan makhluk.
  2. Menjauhi sifat hasad dan berusaha untuk qana’ah (menerima ketentuan Allah). Jika merasa hasad, segera bertobat dan memohon perlindungan kepada Allah.
  3. Mengingat bahwa kesembuhan hanya dari Allah. Berikhtiar dengan ruqyah dan pengobatan medis diperbolehkan, namun tawakkal dan doa harus selalu menyertai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.