Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bahwa tujuh puluh ribu orang dari umat beliau akan masuk surga secara khusus sebagai satu kelompok, tanpa dihisab dan tanpa diazab. Wajah mereka bercahaya seperti bulan. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan tingginya kedudukan tauhid serta keikhlasan. Kita dianjurkan berdoa dan berusaha menjadi bagian dari mereka, tanpa merasa pasti atau sombong.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Redaksi yang disebutkan dalam pertanyaan adalah bagian dari hadits yang lebih panjang; dalam riwayat lain disebutkan sifat-sifat mereka, seperti tidak berbekam, tidak melakukan kayy (menempel besi panas), tidak bertathayyur (meramal dengan burung), dan hanya bertawakal kepada Allah.
Hadits ini juga memiliki penguat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dengan tambahan penyebutan sifat-sifat tersebut.
Adapun ayat yang berkaitan dengan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya:
QS. Al-A'raf [7]: 156
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ
Terjemahan: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits-hadits ar-rajā' (harapan), yang memberi kabar gembira kepada umat Islam. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "tujuh puluh ribu" adalah jumlah yang pasti dan hakiki, bukan kiasan. Mereka masuk surga sebagai satu kelompok (zumrah) secara bersamaan, dan wajah mereka bercahaya seperti bulan — yaitu bulan purnama, menurut sebagian riwayat.
Siapa mereka? Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ menyebutkan sifat mereka: mereka tidak melakukan ruqyah (minta diruqyah), tidak berbekam, tidak bertathayyur, dan hanya bertawakal kepada Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan tauhid dan tawakal, bukan berarti pengobatan itu terlarang. Yang dilarang adalah bergantung pada selain Allah.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tauhid yang murni dan tawakal yang sempurna. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rahmat Allah sangat luas, dan orang-orang yang bertawakal kepada-Nya akan mendapatkan keutamaan yang besar.
Apakah jumlah ini terbatas hanya pada tujuh puluh ribu? Para ulama menjelaskan bahwa tujuh puluh ribu ini adalah kelompok pertama yang masuk tanpa hisab. Setelah itu, Allah akan memasukkan lebih banyak lagi orang-orang beriman ke surga dengan rahmat-Nya. Dalam hadits lain disebutkan bahwa setiap seribu dari tujuh puluh ribu itu akan membawa tujuh puluh ribu lagi. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah.
Perlu dipahami: hadits ini tidak berarti bahwa orang yang tidak termasuk dalam tujuh puluh ribu itu pasti diazab. Banyak orang beriman yang dihisab dengan hisab yang mudah, atau diampuni dosanya, lalu masuk surga. Yang dimaksud "tanpa hisab dan tanpa azab" adalah keutamaan khusus bagi kelompok pertama.
Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi'i, dan ulama lainnya menegaskan bahwa hadits ini harus dipahami sesuai zhahirnya, tanpa menakwil atau mengurangi maknanya. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang wajib kita imani.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, bahwa Nabi ﷺ suatu hari berkata di hadapan para sahabat: "Aku diperlihatkan umat-umat. Aku melihat seorang nabi dengan pengikut yang sedikit, ada nabi dengan satu atau dua orang pengikut, dan ada nabi yang tidak memiliki pengikut. Kemudian aku melihat suatu kelompok besar yang memenuhi cakrawala. Aku berharap mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: 'Mereka adalah Musa dan kaumnya.' Kemudian dikatakan lagi: 'Lihatlah ke cakrawala.' Ternyata ada kelompok besar yang memenuhi cakrawala. Dikatakan: 'Mereka adalah umatmu, dan di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.'"
Kemudian Nabi ﷺ masuk ke rumah, dan para sahabat membahas siapa mereka. Sebagian berkata: "Mungkin mereka adalah orang-orang yang berhijrah." Sebagian lagi berkata: "Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam." Lalu Nabi ﷺ keluar dan berkata: "Apa yang kalian bicarakan?" Mereka menjawab: "Kami membahas tentang tujuh puluh ribu orang itu." Nabi ﷺ bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak berbekam, tidak bertathayyur, dan hanya bertawakal kepada Allah."
Mendengar itu, Ukkasyah bin Mihshan رضي الله عنه berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar termasuk dari mereka." Nabi ﷺ bersabda: "Engkau termasuk dari mereka." Kemudian seorang sahabat lain berdiri dan berkata: "Doakanlah aku juga." Nabi ﷺ bersabda: "Ukkasyah telah mendahuluimu."
Hikmah dari kisah ini: betapa para sahabat sangat bersemangat meraih keutamaan, dan betapa Nabi ﷺ menghargai semangat tersebut. Namun beliau juga menunjukkan bahwa keutamaan ini tidak diberikan kepada semua orang secara otomatis, melainkan kepada mereka yang hatinya bersih dari ketergantungan kepada selain Allah.
Kesimpulan Praktis
- Perkuat tauhid dan tawakal — inti dari sifat tujuh puluh ribu orang itu adalah hati yang hanya bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk.
- Jauhi syirik kecil — seperti percaya pada ramalan, jimat, atau hal-hal yang melemahkan tawakal.
- Berdoalah kepada Allah — mintalah agar termasuk dalam kelompok yang masuk surga tanpa hisab, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Jangan merasa pasti — keutamaan ini adalah rahmat Allah; kita berusaha dan berdoa, bukan merasa sudah pasti termasuk.
- Bersemangatlah dalam kebaikan — seperti Ukkasyah yang langsung meminta doa, tanpa ragu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.