Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa umat Islam dilarang memulai ucapan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab). Jika bertemu di jalan, kita tidak perlu memberi mereka jalan yang luas, tetapi mereka yang harus menyingkir. Larangan ini bukan karena benci, melainkan untuk menjaga kemuliaan dan identitas Islam, serta mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki kedudukan yang sama dengan umat Islam dalam hal penghormatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-Mumtahanah [60]: 8-9
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahan: "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai teman setia orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu serta membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Hadits Terkait:
Hadits riwayat Muslim ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil larangan memulai salam kepada Ahli Kitab.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dinukil oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ahkam Ahl adz-Dzimmah, menegaskan bahwa larangan ini bersifat mutlak, baik mereka dikenal maupun tidak. Sementara Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm membolehkan memulai salam jika ada kebutuhan atau maslahat, seperti saat berdamai atau berinteraksi dagang, namun pendapat yang lebih kuat adalah larangan umum.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki dua hukum penting:
Pertama: Larangan Memulai Salam
Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang kita memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Mengapa? Karena salam adalah doa keselamatan dan penghormatan khusus bagi sesama Muslim. Ucapan "Assalamu'alaikum" berarti "Semoga keselamatan tercurah kepadamu." Ini adalah doa yang sempurna hanya pantas untuk orang yang beriman.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah untuk menjaga keistimewaan Islam dan tidak memberikan penghormatan yang setara kepada mereka yang menolak kebenaran. Ini bukan berarti kita boleh bersikap kasar atau tidak sopan, tetapi kita harus menjaga identitas keislaman kita.
Kedua: Cara Bertemu di Jalan
Sabda Nabi "اضطروه إلى أضيقه" (paksa dia ke bagian yang lebih sempit) memiliki makna bahwa kita tidak perlu memberi mereka jalan yang lapang. Ini adalah bentuk penghormatan kepada Islam, bukan ajakan untuk bersikap sombong atau zalim.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maksudnya adalah jika kita berjalan bersama mereka di jalan yang sempit, kita tidak perlu menyingkir untuk mereka. Mereka yang harus menyingkir karena Islam lebih mulia. Namun, jika jalan itu luas, tidak ada masalah.
Pengecualian dan Adab:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad dan Ibn Taymiyyah, menegaskan bahwa jika ada kebutuhan seperti urusan dagang, pengobatan, atau keadaan darurat, maka boleh memulai salam dengan redaksi yang berbeda, misalnya "Assalamu'ala man ittaba'al huda" (Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk). Ini berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa suatu hari ia bertemu dengan seorang Yahudi di jalan. Yahudi itu memberi salam dengan isyarat tangan. Maka Ibnu 'Umar pun menjawab dengan isyarat yang sama. Ketika ditanya mengapa ia tidak menjawab dengan ucapan, beliau menjawab, "Aku khawatir jika aku menjawab dengan ucapan, maka itu berarti aku telah memulai salam kepadanya." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan sanad hasan)
Kisah ini menunjukkan betapa hati-hatinya para sahabat dalam menerapkan sunnah Nabi. Mereka tidak hanya menjaga lahiriah, tetapi juga memahami ruh syariat.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memulai salam kepada non-Muslim dengan ucapan "Assalamu'alaikum". Jika terpaksa, gunakan redaksi lain seperti "Assalamu'ala man ittaba'al huda" atau "Selamat pagi/siang".
- Jika mereka memberi salam, jawablah dengan "Wa'alaikum" (dan atas kalian juga) sebagaimana perintah Nabi dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
- Dalam pergaulan sehari-hari, tetaplah berakhlak mulia, jujur, dan adil. Larangan ini bukan alasan untuk bersikap kasar atau merendahkan mereka.
- Jaga identitas Islam dengan tidak meniru kebiasaan atau simbol keagamaan mereka dalam memberi salam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.