Penjelasan Hadits Muslim No. 2149 tentang Membawa bayi kepada orang saleh untuk diberi doa dan nama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting: disunnahkan membawa bayi yang baru lahir kepada orang saleh, boleh meletakkan bayi di pangkuan sebagai bentuk kasih sayang, dan yang terpenting adalah hak orang tua (terutama ayah) untuk memberi nama, namun sangat dianjurkan untuk meminta pertimbangan atau bahkan mengikuti nama yang dipilih oleh orang yang saleh dan dicintai. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ secara langsung mengganti nama anak Abu Usaid dari "Fulan" menjadi "Al-Mundzir", yang menunjukkan bahwa nama memiliki makna dan doa di dalam Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Disunnahkan Menyusui Bayi Saat Kelahiran dan Membawanya ke Orang Saleh untuk Diberi Susu" (no. 2149), dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan dianjurkannya membawa bayi yang baru lahir kepada orang saleh, dan meminta orang saleh tersebut untuk mendoakan atau memberi nama. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari juga membahas hadits ini saat menjelaskan bab-bab tentang nama dalam Shahih Al-Bukhari, dan menukil perkataan ulama tentang keutamaan memberi nama dengan nama-nama yang baik.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Disunnahkan Membawa Bayi Baru Lahir kepada Orang Saleh

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat anjuran untuk membawa bayi yang baru lahir kepada orang yang dikenal kebaikan dan keutamaannya. Hal ini dilakukan dengan harapan bayi tersebut mendapatkan doa dari orang saleh, dan keberkahan dari sentuhan serta perhatiannya. Ini adalah bentuk tafa'ul (optimisme) yang baik dalam Islam.

2. Kasih Sayang Nabi ﷺ kepada Anak Kecil

Nabi ﷺ meletakkan bayi tersebut di atas pahanya. Ini menunjukkan kelembutan dan kasih sayang beliau kepada anak-anak, bahkan yang baru lahir. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk menyayangi anak-anak, tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka, dan memberikan perhatian yang tulus.

3. Adab Menunggu Instruksi dan Tidak Mendahului

Ketika Nabi ﷺ sedang sibuk dengan sesuatu, Abu Usaid radhiyallahu 'anhu memerintahkan anaknya untuk diangkat dari pangkuan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan adab bahwa ketika seseorang yang lebih utama sedang sibuk, kita tidak boleh membiarkan sesuatu yang mungkin mengganggunya, namun tetap dengan cara yang sopan dan tidak melanggar batas.

4. Keutamaan Memberi Nama yang Baik dan Hak Ayah

Saat Nabi ﷺ bertanya tentang nama bayi tersebut, Abu Usaid menjawab "Fulan" (artinya: si anu, atau nama yang tidak jelas). Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Tidak, tetapi namanya adalah Al-Mundzir." Ini menunjukkan bahwa:

  • Memberi nama adalah hak ayah, namun sangat dianjurkan untuk meminta pendapat atau mengikuti nama yang dipilih oleh orang yang lebih utama, terutama Nabi ﷺ atau ulama.
  • Nama "Al-Mundzir" berasal dari kata nadzara yang berarti memberi peringatan. Nama ini memiliki makna yang baik, yaitu orang yang memberi peringatan kepada kaumnya. Ini adalah doa agar anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat dan mengingatkan orang lain kepada kebaikan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa mengganti nama yang buruk atau kurang baik dengan nama yang lebih baik adalah perkara yang disyariatkan, dan ini dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan.

5. Pentingnya Memperhatikan Makna Nama

Para ulama sangat menekankan untuk memilih nama yang baik karena nama adalah doa dan identitas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya sering mengaitkan nama-nama Allah yang baik dengan doa, dan ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan makna dari setiap nama yang diberikan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang perubahan nama yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah 'Abdullah' dan 'Abdurrahman'." (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ sering mengubah nama-nama yang kurang baik menjadi nama yang baik. Beliau mengubah nama "Ashiyah" (yang bermakna durhaka) menjadi "Jamilah" (yang cantik/bagus). Ini menunjukkan perhatian besar Islam terhadap nama, karena nama akan selalu disebut dan didoakan sepanjang hidup seseorang.

Kisah dalam hadits ini juga mengajarkan bahwa Nabi ﷺ tidak marah ketika anaknya diangkat tanpa izin beliau, karena beliau sibuk. Namun beliau tetap menanyakan keberadaan anak tersebut dan kemudian memberi nama yang baik. Ini adalah akhlak mulia yang patut kita contoh: tetap tenang, tidak mudah marah, dan fokus pada hal-hal yang penting seperti memberi nama yang baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Bawa bayi yang baru lahir kepada orang saleh untuk didoakan dan diberi nama, jika memungkinkan.
  2. Pilih nama yang baik dan memiliki makna yang bagus, karena nama adalah doa dan identitas seumur hidup.
  3. Hormati hak ayah dalam memberi nama, namun sangat dianjurkan untuk meminta saran dari orang tua, ulama, atau orang saleh.
  4. Jangan ragu untuk mengganti nama yang buruk dengan nama yang lebih baik, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.
  5. Teladani kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak-anak, dengan bersikap lembut dan tidak mudah terganggu oleh kehadiran mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?