Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua sunnah penting saat bayi lahir: tahnik (mengunyahkan kurma lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi) dan memberi nama bayi pada hari kelahirannya. Nabi ﷺ menamai bayi Abu Musa dengan nama "Ibrahim" — nama salah satu nabi — dan melakukan tahnik dengan kurma. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak-anak dan bimbingan beliau dalam menyambut kelahiran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Shahih Muslim no. 2145):
Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ
"Seorang anak laki-laki lahir untukku, lalu aku membawanya kepada Nabi ﷺ, maka beliau menamainya Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma."
(HR. Muslim, Kitab al-Adab)
Dalil Al-Qur'an tentang memberi nama yang baik:
QS. Maryam [19]: 7
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا
"Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang namanya Yahya; Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya sebelum ini."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri memilih nama yang baik untuk Nabi Yahya, mengisyaratkan pentingnya memberi nama yang baik kepada anak.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya tahnik dan memberi nama pada hari kelahiran.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa memberi nama pada hari ketujuh adalah yang paling utama, namun boleh pada hari kelahiran berdasarkan hadits ini.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Tuhfatul Maudud membahas panjang lebar adab menyambut kelahiran anak, termasuk tahnik dan pemberian nama.
Penjelasan Rinci
1. Makna tahnik (تَحْنِيك)
Tahnik berasal dari kata hanak (langit-langit mulut). Secara istilah, tahnik adalah mengunyah kurma (atau sesuatu yang manis) hingga lembut, lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Tujuannya:
- Melatih bayi untuk menerima makanan selain ASI secara bertahap.
- Mengambil keberkahan dari orang saleh yang melakukan tahnik.
- Sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi, disunnahkan membawa bayi kepada orang saleh untuk ditahnik, dan boleh juga dilakukan sendiri oleh orang tua.
2. Hikmah membawa bayi kepada orang saleh
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa membawa bayi kepada ulama/orang saleh mengandung keberkahan dan doa. Dalam hadits lain (juga dalam Shahih Muslim), Nabi ﷺ mentahnik bayi dengan kurma yang beliau kunyah sendiri. Ini menunjukkan keutamaan meminta doa dan keberkahan dari orang saleh.
3. Memberi nama pada hari kelahiran
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ langsung memberi nama "Ibrahim" pada hari kelahiran bayi Abu Musa. Ibnu Qayyim dalam Tuhfatul Maudud menyebutkan bahwa memberi nama boleh dilakukan pada hari kelahiran, hari ketujuh (bersamaan aqiqah), atau setelahnya. Namun yang paling utama adalah pada hari ketujuh berdasarkan hadits lain, dan boleh pada hari kelahiran berdasarkan hadits ini.
4. Memilih nama yang baik
Nabi ﷺ memilih nama "Ibrahim" — nama Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ini mengajarkan:
- Memilih nama yang baik dan bermakna mulia.
- Boleh menamai dengan nama para nabi.
- Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa nama-nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, lalu nama-nama para nabi.
5. Perbedaan pendapat ulama daftar
- Mayoritas ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad) berpendapat tahnik adalah sunnah.
- Imam Abu Hanifah juga mengakui keutamaan tahnik, meski sebagian pengikutnya memandangnya sebagai adab, bukan ibadah wajib.
- Kesepakatan: tahnik adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu dikaruniai seorang putra, ia segera membawa bayinya kepada Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang itu menyambut bayi mungil tersebut, mengunyah kurma, lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi. Setelah itu, beliau memberi nama bayi itu "Ibrahim" — nama kekasih Allah, Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Abu Musa menyimpan kenangan indah ini dan menceritakannya kepada murid-muridnya, sehingga sampai kepada kita melalui jalur Abu Burdah dan Buraid. Dari kisah ini, para sahabat memahami bahwa menyambut kelahiran anak bukan sekadar kebahagiaan, tetapi juga momen mendekatkan diri kepada Allah dan memohon keberkahan dari orang-orang saleh.
Hikmah: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak-anak, pentingnya memilih nama yang baik, dan keberkahan bertemu orang saleh.
Kesimpulan Praktis
- Lakukan tahnik — kunyah kurma (atau sesuatu yang manis), lalu oleskan ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir.
- Bawa bayi kepada orang saleh untuk didoakan dan ditahnik, sebagai bentuk mencari keberkahan.
- Beri nama yang baik — utamakan nama Abdullah, Abdurrahman, atau nama para nabi.
- Boleh memberi nama pada hari kelahiran, meski hari ketujuh (bersamaan aqiqah) juga dianjurkan.
- Hindari nama yang mengandung kesyirikan atau makna buruk.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.