Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya sombong dan bangga diri dengan penampilan duniawi. Seorang laki-laki yang berjalan dengan angkuh, mengagumi rambutnya yang indah dan pakaiannya yang bagus, ditenggelamkan oleh Allah ke dalam bumi dan akan terus tenggelam hingga hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah akhlak yang sangat dibenci Allah, dan balasannya bisa sangat dahsyat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Pakaian dan Perhiasan, Bab Mengharamkan Berjalan dengan Sombong Sambil Mengagumi Pakaian, nomor 2088. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلاَّمٍ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ، - يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ - عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي قَدْ أَعْجَبَتْهُ جُمَّتُهُ وَبُرْدَاهُ إِذْ خُسِفَ بِهِ الأَرْضُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الأَرْضِ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ " .
Makna Hadits:
"Ketika seorang laki-laki berjalan dengan sombong, karena mengagumi rambutnya yang tebal dan dua burdahnya (kain bergaris yang dipakai), tiba-tiba ia ditenggelamkan ke dalam bumi, maka ia terus tenggelam di dalamnya hingga hari kiamat."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Luqman [31]: 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebencian Allah terhadap sifat sombong dan bangga diri dengan perhiasan dunia. Beliau juga menegaskan bahwa "jummatuhu" berarti rambut yang indah dan terurai, dan "burdahu" adalah dua kain yang dipakainya dengan bangga.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang bahaya ujub (bangga diri) dan sombong. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa kesombongan adalah salah satu dosa besar yang dapat menghapus amal kebaikan, karena ia merupakan lawan dari tawadhu' (rendah hati) yang merupakan akhlak para nabi.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa orang yang berjalan dengan sombong seakan-akan ia lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah, yang suatu saat akan menjadi tanah yang diinjak. Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya lebih baik dari orang lain, padahal ia tidak tahu bagaimana akhir hidupnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat QS. Luqman ayat 18 di atas adalah perintah untuk tidak bersikap sombong dalam berjalan maupun dalam interaksi dengan manusia. Allah membenci orang yang sombong dan membanggakan diri, karena sifat ini menunjukkan kebodohan seseorang terhadap hakikat dirinya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan bahwa balasan Allah bisa datang secara langsung di dunia, sebagaimana orang tersebut ditenggelamkan ke dalam bumi. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat murka terhadap kesombongan, karena kesombongan adalah sifat yang pertama kali melanggar perintah Allah, yaitu ketika Iblis sombong dan enggan sujud kepada Adam.
Adapun makna "akan terus tenggelam hingga hari kiamat" menurut para ulama adalah bahwa azab tersebut berlangsung terus menerus hingga hari kiamat sebagai bentuk penghinaan yang berkepanjangan. Ini juga bisa menjadi peringatan bahwa kesombongan tidak hanya berakibat di akhirat, tetapi juga bisa berakibat buruk di dunia.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari sebagian salaf tentang seorang laki-laki yang sangat memperhatikan penampilannya. Ia selalu memilih pakaian terbaik dan berjalan dengan penuh kebanggaan. Suatu hari, seorang ulama menasihatinya, "Wahai saudaraku, ingatlah bahwa engkau akan mati dan menjadi bangkai yang berbau. Pakaian indahmu akan menjadi kain kafan yang membusuk, dan rambut indahmu akan dimakan tanah. Mengapa engkau berbangga dengan sesuatu yang akan hancur?"
Laki-laki itu tersentak dan menangis. Sejak saat itu, ia berubah menjadi pribadi yang tawadhu' dan tidak lagi membanggakan penampilannya. Ia memahami bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada pakaian dan rambut, tetapi pada ketakwaan dan kerendahan hati.
Kisah ini mengajarkan bahwa nasihat yang baik dan kesadaran akan kematian adalah obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit sombong dan bangga diri.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi sifat sombong dan ujub dalam segala bentuknya, termasuk dalam berpakaian dan berjalan.
- Niatkan berpakaian untuk menutup aurat dan ketaatan kepada Allah, bukan untuk pamer atau membanggakan diri.
- Tawadhu' (rendah hati) adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih, dan ia adalah kebalikan dari kesombongan.
- Ingatlah kematian agar hati tidak terikat pada perhiasan dunia yang fana.
- Jika melihat orang yang sombong, jadikan ia pelajaran, bukan untuk dihina, tetapi agar kita berlindung kepada Allah dari sifat tersebut.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.