Penjelasan Hadits Muslim No. 2081 tentang Anjuran berpakaian sederhana dan rendah hati

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kesederhanaan Nabi ﷺ dalam berpakaian. Meskipun beliau adalah pemimpin umat dan manusia paling mulia, beliau tetap mengenakan pakaian yang sederhana, bahkan hanya berupa selimut kasar dari rambut hitam. Ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari pakaiannya, melainkan dari ketakwaan dan akhlaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2081), dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Mush'ab bin Syaibah dari Shafiyyah binti Syaibah.

Teks hadits:

خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ غَدَاةٍ وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعَرٍ أَسْوَدَ

Terjemahan: "Nabi ﷺ keluar pada suatu pagi, sementara beliau mengenakan selimut (mirth) yang bermotif pelana unta (muraḥḥal), terbuat dari rambut hitam."

Hadits terkait dari Al-Qur'an:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ

QS. Al-A'raf [7]: 26

Terjemahan: "Wahai anak-anak Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian (sebagai) perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang lebih baik."

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Allah menyediakan pakaian lahiriah untuk menutup aurat dan memperindah penampilan, namun pakaian batin (takwa) jauh lebih utama dan lebih baik di sisi Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan salah satu sisi kehidupan Nabi ﷺ yang penuh kesederhanaan. Kata "mirth" (مِرْط) dalam bahasa Arab merujuk pada kain yang digunakan sebagai selimut atau pakaian yang diselimutkan ke tubuh, bukan pakaian mewah yang dijahit khusus. Kata "muraḥḥal" (مُرَحَّل) berarti bermotif gambar pelana unta — ini menunjukkan bahwa kain tersebut adalah kain sederhana yang kebetulan memiliki motif, bukan pakaian yang dibuat khusus untuk keindahan.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab tentang zuhud dan kesederhanaan Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ meskipun mampu mengenakan pakaian terbaik, namun beliau memilih yang sederhana sebagai bentuk kerendahan hati dan teladan bagi umatnya.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits serupa menjelaskan bahwa kesederhanaan pakaian Nabi ﷺ bukan karena beliau tidak mampu, melainkan karena beliau ingin mengajarkan umatnya agar tidak berlebihan dalam urusan dunia, termasuk dalam berpakaian.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam berpakaian adalah beliau mengenakan pakaian yang halal, bersih, dan tidak berlebihan. Beliau tidak menolak pakaian yang bagus jika ada, tetapi beliau tidak menjadikannya tujuan utama.

Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Ibn Taymiyyah rahimahullah, juga menegaskan prinsip penting: pakaian adalah sarana, bukan tujuan. Yang menjadi ukuran kemuliaan adalah ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Terjemahan: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

Adapun mengenai bab "Kerendahan Hati dalam Berpakaian dan Cukup dengan yang Kasar" yang disebutkan Imam Muslim, ini menunjukkan bahwa beliau sengaja meletakkan hadits ini dalam bab tersebut untuk menegaskan bahwa sikap tawadhu (rendah hati) dalam berpakaian adalah bagian dari akhlak Islam. Bukan berarti kita dilarang berpakaian bagus, tetapi kita dilarang menjadikan pakaian sebagai ajang kesombongan dan pemborosan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dengan pakaian yang bagus. Nabi ﷺ bertanya kepadanya tentang keislamannya, lalu beliau bersabda bahwa Allah menyukai keindahan. Namun, Nabi ﷺ juga mengingatkan bahwa keindahan yang sejati adalah keindahan akhlak dan ketakwaan. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

" Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan." (HR. Muslim)

Namun keindahan yang dimaksud bukanlah kemewahan yang berlebihan, melainkan kebersihan, kerapian, dan keserasian yang tidak melampaui batas. Nabi ﷺ sendiri meskipun mengenakan pakaian sederhana, beliau selalu tampil rapi dan bersih.

Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling sederhana dalam penampilannya. Beliau tidak pernah menolak pemberian, tidak pernah mengejar kemewahan, dan selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

Kesimpulan Praktis

  1. Sederhana dalam berpakaian — Tidak perlu memaksakan diri membeli pakaian mahal untuk terlihat terhormat. Yang penting bersih, rapi, dan menutup aurat.
  2. Hindari kesombongan — Jangan menjadikan pakaian sebagai alat untuk membanggakan diri atau merendahkan orang lain.
  3. Utamakan ketakwaan — Kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari merek pakaian, tetapi dari hati yang bersih dan amal yang saleh.
  4. Teladani Nabi ﷺ — Beliau adalah manusia paling mulia, namun tetap memilih kesederhanaan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua.
  5. Jangan berlebihan — Islam mengajarkan keseimbangan. Berpakaian bagus itu boleh, tetapi jangan sampai berlebihan, boros, atau melupakan hak-hak orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?