Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa sederhananya pakaian Nabi ﷺ hingga akhir hayatnya. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bersumpah bahwa Nabi ﷺ wafat hanya dengan dua kain sederhana: sarung kasar buatan Yaman dan kain mulabbada (kain tebal berlapis/patchwork). Ini pelajaran tentang zuhud, tawadhu, dan tidak berlebihan dalam berpakaian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Libas waz-Zinah (Pakaian dan Perhiasan), Bab Kerendahan Hati dalam Berpakaian, dari Abu Burdah (putra Abu Musa al-Asy'ari), dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَأَخْرَجَتْ إِلَيْنَا إِزَارًا غَلِيظًا مِمَّا يُصْنَعُ بِالْيَمَنِ وَكِسَاءً مِنَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا الْمُلَبَّدَةَ، قَالَ: فَأَقْسَمَتْ بِاللَّهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قُبِضَ فِي هَذَيْنِ الثَّوْبَيْنِ
Terjemahan: Abu Burdah berkata: "Aku masuk menemui 'Aisyah, lalu ia mengeluarkan kepada kami sebuah sarung kasar yang dibuat di Yaman dan sebuah kain dari jenis yang mereka sebut mulabbada. Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam dua pakaian ini."
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang kesederhanaan dan larangan berlebihan:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
QS. Al-A'raf [7]: 31
Terjemahan: "Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan keadaan Nabi ﷺ di akhir hayatnya. 'Aisyah radhiyallahu 'anha menunjukkan dua kain yang beliau simpan sebagai bukti: sebuah izar (sarung) kasar buatan Yaman, dan kisa' mulabbada, yaitu kain tebal yang ditambal atau berlapis-lapis karena sudah usang. Beliau bersumpah dengan nama Allah — dan sumpah 'Aisyah di sini menunjukkan keyakinan dan penekanan yang kuat — bahwa Nabi ﷺ wafat mengenakan dua kain tersebut.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tentang keutamaan zuhud Nabi ﷺ, kesederhanaan beliau dalam berpakaian, dan anjuran untuk tidak berlebihan meskipun seseorang mampu. Beliau juga menyebutkan bahwa "mulabbada" adalah kain yang tebal dan padat, atau kain yang ditambal, menunjukkan bahwa pakaian Nabi ﷺ bukanlah pakaian mewah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa kesederhanaan pakaian Nabi ﷺ bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena pilihan zuhud dan tawadhu. Beliau menolak kemewahan dunia meski mampu mendapatkannya.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa tawadhu dalam berpakaian adalah tanda hati yang bersih dari kesombongan. Pakaian yang sederhana tidak mengurangi kemuliaan seseorang di sisi Allah; yang mulia adalah ketakwaan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat Al-A'raf [7]: 31 mengajarkan keseimbangan: Islam tidak melarang keindahan, tetapi melarang berlebihan. Jadi, memakai pakaian bagus itu boleh, asalkan tidak untuk kesombongan dan tidak melampaui batas.
Perlu dicatat: hadits ini tidak berarti kita wajib memakai pakaian kasar atau usang. Ini menunjukkan pilihan Nabi ﷺ yang zuhud, sementara syariat tetap membolehkan pakaian yang layak dan indah selama tidak berlebihan dan tidak untuk berbangga diri. Ibn Taymiyyah menyebutkan bahwa pakaian yang baik itu disyariatkan, dan yang tercela adalah berlebihan serta niat sombong di dalamnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang laki-laki bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang akhlak Nabi ﷺ, dan beliau menjawab dengan menyebutkan kesederhanaan beliau. Dalam riwayat lain, 'Aisyah juga menyimpan pakaian-pakaian Nabi ﷺ sebagai kenangan dan bukti bagi generasi setelahnya. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga jejak sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal pakaian, agar umat setelah mereka tahu bahwa kemuliaan bukan pada mahalnya pakaian, tetapi pada ketakwaan dan akhlak.
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menangis ketika melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar kasar hingga membekas di kulit beliau, lalu beliau berkata: "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan..." Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka mendapatkan bagian dunia mereka di sini, sedangkan kita mendapatkan bagian akhirat. Kisah ini menguatkan makna hadits 'Aisyah di atas.
Kesimpulan Praktis
- Sederhana dalam berpakaian adalah sunnah dan tanda tawadhu, bukan berarti harus memakai pakaian usang.
- Islam membolehkan pakaian yang baik dan indah, selama tidak untuk kesombongan dan tidak berlebihan.
- Kemuliaan seseorang di sisi Allah diukur dengan ketakwaan, bukan dengan harga atau merek pakaian.
- Hendaklah kita meneladani zuhud Nabi ﷺ dalam hal dunia, termasuk pakaian, tanpa meninggalkan kebersihan dan kerapian.
- Jangan mencela orang yang berpakaian sederhana, dan jangan pula mengagungkan orang karena pakaiannya yang mahal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.