Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keberkahan dalam berbagi makanan. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa makanan yang cukup untuk dua orang sebenarnya bisa mencukupi tiga orang, dan makanan untuk tiga orang bisa mencukupi empat orang. Ini adalah dorongan agar kita tidak pelit dan tidak khawatir kekurangan saat berbagi dengan orang lain, karena Allah akan memberkahi makanan yang dibagikan dengan ikhlas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks hadits yang Anda sampaikan sudah benar dan sesuai dengan lafazh Imam Muslim. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (Minuman), Bab Fadhlu Tha'amil Itsnaini (Keutamaan Berbagi Makanan Sedikit), no. 2058, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
"Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rizki yang terbaik." (QS. Saba' [34]: 39)
Kaitan dengan penjelasan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah kabar tentang keberkahan makanan ketika berkumpul bersama. Makanan yang sedikit akan terasa cukup dan berkah jika dimakan bersama-sama, karena keberkahan ada pada jama'ah (kebersamaan).
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa ini adalah isyarat untuk saling berbagi, karena jika setiap orang makan sendiri-sendiri, mungkin makanan itu tidak cukup, tetapi jika digabung dan dimakan bersama, Allah memberkahinya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keberkahan Makan Bersama
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Shahih Muslim: "Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berkumpul saat makan, dan bahwa makanan yang sedikit akan diberkahi ketika dimakan bersama-sama. Ini adalah mukjizat nyata dari Rasulullah ﷺ, karena beliau mengabarkan bahwa makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang."
2. Bukan Berarti Porsi Makan Berkurang
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadits ini bukanlah setiap orang harus mengurangi porsinya, tetapi bahwa Allah memberkahi makanan tersebut. Ketika orang-orang berkumpul dan makan bersama dengan niat baik, Allah menjadikan makanan yang sedikit terasa cukup untuk lebih banyak orang. Ini adalah karunia Allah yang tidak bisa diukur dengan logika matematika biasa.
3. Anjuran untuk Tidak Pelit
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang adab bertamu dan menjamu tamu. Beliau menjelaskan bahwa seorang tuan rumah tidak boleh khawatir jika tamunya banyak sementara makanannya sedikit, karena ia telah diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk berbagi. Yang penting adalah keikhlasan dan tidak bermaksud mengurangi hak tamu.
4. Kisah Nyata Keberkahan Makanan
Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, terdapat kisah Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu ketika menjamu Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang jumlahnya banyak. Abu Thalhah awalnya hanya memiliki makanan untuk beberapa orang, tetapi ketika Rasulullah ﷺ mendoakan makanan tersebut, semua orang yang hadir (sekitar 70-80 orang) makan sampai kenyang, dan makanan itu masih tersisa. Ini menunjukkan bahwa keberkahan datang dari Allah ketika kita berbagi dengan ikhlas.
5. Adab Makan Bersama
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menjelaskan bahwa di antara adab makan bersama adalah:
- Berniat baik, yaitu makan bersama untuk mempererat ukhuwah dan keberkahan
- Tidak serakah dan tidak mengambil jatah orang lain
- Tidak meninggalkan makanan yang tersisa dengan sia-sia
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu hari Rasulullah ﷺ kedatangan tamu. Beliau tidak memiliki makanan untuk menjamunya, lalu beliau bersabda kepada para sahabat: "Siapa yang mau menjamu orang ini malam ini, maka ia akan dirahmati Allah."
Maka berdirilah seorang laki-laki dari kalangan Anshar, ia berkata: "Saya, wahai Rasulullah." Lalu ia membawa tamu itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia bertanya kepada istrinya: "Apakah kamu punya makanan?" Istrinya menjawab: "Tidak ada, kecuali makanan untuk anak-anak kita." Suaminya berkata: "Tidurkan anak-anak, dan jika kita duduk untuk makan, padamkanlah lampu (agar tamu tidak melihat bahwa kita tidak makan), dan kita pura-pura makan."
Maka mereka pun melakukan hal itu. Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah kagum terhadap apa yang dilakukan oleh suami istri ini tadi malam." Lalu Allah menurunkan ayat:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, walaupun mereka membutuhkan." (QS. Al-Hasyr [59]: 9)
Kisah ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak hanya pada makanan, tetapi juga pada keikhlasan dan pengorbanan. Mereka yang berbagi dengan orang lain, Allah akan memberikan keberkahan yang tidak terduga.
Kesimpulan Praktis
- Jangan khawatir kekurangan saat berbagi — yakinlah bahwa Allah akan memberkahi makanan yang dibagikan dengan ikhlas.
- Biasakan makan bersama keluarga dan tamu — karena keberkahan ada pada kebersamaan.
- Jangan pelit ketika ada tamu datang — terimalah dengan lapang dada, karena menjamu tamu adalah bagian dari iman.
- Niatkan setiap jamuan untuk ibadah dan silaturahmi — agar mendapat pahala dan keberkahan.
- Jika makanan terasa kurang, perbanyaklah doa dan tawakal — karena rizki di tangan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.