Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa cuka adalah lauk-pauk (idam) yang sangat baik menurut Nabi ﷺ. Beliau memujinya sebagai sebaik-baik lauk, dan para ulama menjelaskan bahwa pujian ini mencakup keutamaan duniawi (manfaat bagi tubuh) dan makna spiritual (isyarat tentang keutamaan rumah tangga yang sederhana dan berkah). Hadits ini juga mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat Allah yang sederhana dan tidak meremehkan makanan yang ada.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (Minuman), Bab Keutamaan Cuka, no. 2051, dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin az-Zubair) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks Hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ، أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: "نِعْمَ الأُدُمُ - أَوِ الإِدَامُ - الْخَلُّ".
Makna Ringkas: "Sebaik-baik lauk-pauk (bumbu penyedap) adalah cuka."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Meskipun tidak ada ayat yang secara khusus membahas cuka, Allah ﷻ berfirman tentang nikmat-Nya yang luas, yang mencakup semua makanan yang halal dan baik:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?'" (QS. Al-A'raf [7]: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membolehkan dan menganggap baik makanan-makanan yang thayyib (baik dan bermanfaat), dan cuka termasuk di dalamnya.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah pujian dari Nabi ﷺ terhadap cuka sebagai lauk. Beliau menukil bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hikmah pujian ini, namun yang terkuat adalah karena cuka adalah lauk yang mudah didapat, murah, dan bermanfaat bagi tubuh.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (saat mensyarah hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menyebutkan bahwa cuka memiliki banyak manfaat, di antaranya melancarkan pencernaan dan memecah lemak.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa hal penting dari hadits ini:
- Makna "Al-Udm" (الأُدُم) atau "Al-Idam" (الإِدَام): Keduanya bermakna lauk-pauk, yaitu sesuatu yang dimakan bersama roti untuk menambah cita rasa, seperti daging, sayur, atau sambal. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebut cuka sebagai sebaik-baik lauk.
- Hikmah Pujian Nabi ﷺ terhadap Cuka:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa pujian ini bisa jadi karena cuka adalah lauk yang sederhana, murah, dan mudah didapat oleh orang miskin maupun kaya. Ini mengajarkan kita untuk tidak selalu mengejar makanan mewah.
- Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa cuka (terutama dari anggur atau kurma) memiliki sifat memotong lemak, melancarkan pencernaan, dan membantu tubuh tetap sehat. Ini adalah manfaat duniawi yang jelas.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menambahkan bahwa pujian ini juga merupakan isyarat bahwa kehidupan yang sederhana dan berkah lebih baik daripada kemewahan yang melalaikan. Cuka adalah contoh makanan yang tidak membutuhkan banyak proses dan tidak memberatkan.
- Apakah Ini Berarti Cuka Lebih Utama dari Daging?
Para ulama menegaskan bahwa pujian ini bukan berarti cuka lebih utama secara mutlak daripada daging atau makanan lain yang juga dipuji dalam hadits lain. Ini adalah pujian relatif (nisbi) terhadap jenis lauk yang sederhana. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maksudnya adalah "sebaik-baik lauk" di antara lauk yang sederhana dan mudah, atau karena seringnya cuka menjadi teman roti yang cocok. Daging tetap lebih utama dari sisi gizi, namun cuka memiliki keistimewaan tersendiri.
- Adab Mensyukuri Nikmat:
Hadits ini mengajarkan adab yang tinggi, yaitu ridha dengan apa yang ada dan tidak meremehkan nikmat Allah yang kecil. 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan hadits ini, dan dalam riwayat lain (Shahih Muslim no. 2052) beliau juga bercerita bahwa rumah Nabi ﷺ sering kali tidak menyalakan api untuk memasak dalam waktu yang lama, dan makanan mereka hanyalah kurma dan air, kecuali kadang-kadang ada daging. Ini menunjukkan kesederhanaan hidup beliau.
Story Telling
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk, dan mereka menjawab, "Kami hanya punya cuka." Maka beliau bersabda, "Sebaik-baik lauk adalah cuka." (HR. Muslim no. 2052).
Kisah ini menggambarkan suasana rumah tangga Nabi ﷺ yang sangat sederhana. Beliau tidak pernah mengeluh atau meminta makanan yang lebih mewah. Justru beliau mengajarkan kepada umatnya untuk qana'ah (merasa cukup) dan melihat keberkahan dalam makanan yang sederhana. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita di tengah zaman yang serba konsumtif, agar tidak terjebak dalam gaya hidup berlebihan.
Kesimpulan Praktis
- Mengamalkan Sunnah: Kita boleh menjadikan cuka sebagai lauk atau bumbu makanan, karena Nabi ﷺ memujinya.
- Meneladani Kesederhanaan: Hadits ini mengajarkan kita untuk ridha dan bersyukur dengan makanan yang ada, tidak selalu menuntut yang mewah.
- Menjaga Kesehatan: Cuka memiliki manfaat bagi tubuh, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, selama dikonsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.
- Tidak Meremehkan Nikmat Kecil: Setiap makanan yang halal adalah nikmat dari Allah, sekecil apa pun itu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.