Penjelasan Hadits Muslim No. 2047 tentang Keutamaan tujuh kurma Madinah menangkal racun

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan khusus kurma Madinah (kurma 'Ajwah) yang terletak di antara dua lahar (laba) kota Madinah. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa siapa yang memakan tujuh butir kurma tersebut di pagi hari, maka racun tidak akan membahayakannya hingga sore. Ini adalah keutamaan yang bersifat khusus dan merupakan salah satu bentuk mukjizat kenabian serta keberkahan kota Madinah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Shahih Muslim, Kitab Minuman, Bab Keutamaan Kurma Madinah, No. 2047:

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لَابَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِيَ

Terjemahan: "Siapa yang makan tujuh butir kurma (dari tanah yang terletak) antara dua lahar ini di pagi hari, maka racun tidak akan membahayakannya hingga sore."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya, dari jalur Amir bin Sa'd bin Abi Waqqas dari ayahnya, Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu.

Hadits pendukung dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:

Dalam riwayat lain yang juga shahih, Rasulullah ﷺ bersabda tentang kurma 'Ajwah:

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Terjemahan: "Siapa yang sarapan dengan tujuh butir kurma 'Ajwah setiap hari, maka racun dan sihir tidak akan membahayakannya pada hari itu."

Hadits ini menunjukkan kekhususan kurma 'Ajwah yang tumbuh di tanah antara dua lahar Madinah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menerangkan keutamaan kurma yang tumbuh di tanah antara dua lahar (laba) kota Madinah. "Laba" adalah istilah untuk tanah berbatu hitam bekas aliran lava gunung berapi yang mengelilingi Madinah. Kurma yang tumbuh di wilayah ini — terutama jenis 'Ajwah — memiliki keutamaan khusus yang disebutkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Pemahaman para ulama:

Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan yang jelas bagi kurma Madinah, khususnya kurma 'Ajwah. Beliau menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "racun tidak membahayakan":

  1. Pendapat pertama: Ini adalah keutamaan yang bersifat hakiki dan umum — siapa pun yang memakan tujuh butir kurma 'Ajwah di pagi hari dengan penuh keyakinan dan keimanan, Allah akan melindunginya dari bahaya racun pada hari itu. Ini adalah bentuk karomah dan keberkahan yang Allah berikan kepada kurma Madinah.
  2. Pendapat kedua: Keutamaan ini bersifat khusus bagi orang yang memiliki keimanan kuat dan niat yang benar, bukan sekadar makan secara fisik. Sebagaimana obat-obatan lain yang bermanfaat dengan izin Allah, kurma ini menjadi sebab perlindungan dengan izin Allah.

Imam an-Nawawi juga menukil bahwa sebagian ulama memahami hadits ini secara zahir (literal) dan mengamalkannya sebagai bentuk keyakinan akan kebenaran sabda Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan kekhususan kurma 'Ajwah dan tanah Madinah. Beliau menjelaskan bahwa keutamaan ini tidak berlaku untuk semua kurma, melainkan khusus kurma yang tumbuh di tanah antara dua lahar Madinah. Ibnu Hajar juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang mengamalkan hadits ini secara zahir.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa kurma 'Ajwah memiliki sifat-sifat khusus yang bermanfaat bagi tubuh, dan Rasulullah ﷺ menyebutkan keutamaannya sebagai bentuk pengobatan dan perlindungan. Beliau menyebutkan bahwa kurma ini bermanfaat untuk kesehatan dan menjadi sebab perlindungan dari racun dan sihir dengan izin Allah.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab keutamaan amal yang bersifat khusus (khawash), di mana Allah memberikan keistimewaan kepada hamba-Nya melalui sebab-sebab tertentu yang Dia kehendaki. Ini bukan berarti kurma itu sendiri yang melindungi, melainkan Allah yang menjadikan kurma sebagai sebab perlindungan.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini shahih dan wajib diimani. Beliau menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku bagi siapa saja yang memakan tujuh butir kurma 'Ajwah di pagi hari, dengan catatan:

  • Kurma tersebut benar-benar dari tanah antara dua lahar Madinah
  • Dimakan di waktu pagi (setelah subuh hingga sebelum siang)
  • Dengan niat mengikuti sunnah dan keyakinan akan janji Allah

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami hadits ini secara mutlak (umum) untuk semua orang, sementara sebagian lain memahami bahwa keutamaan ini khusus bagi orang yang beriman dan mengamalkannya dengan keyakinan. Namun, mayoritas ulama dari daftar yang disebutkan — seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim — cenderung memahami hadits ini secara zahir dengan tetap meyakini bahwa perlindungan datang dari Allah, bukan dari kurma itu sendiri.

Pendapat yang paling kuat:

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini shahih dan wajib diimani secara zahir, sebagaimana dipahami oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Keutamaan ini adalah kekhususan yang Allah berikan kepada kurma Madinah, dan menjadi sebab perlindungan dari racun dengan izin Allah. Namun, ini tidak berarti seseorang boleh sengaja meminum racun dan mengandalkan kurma, karena ini termasuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan yang dilarang.

Story Telling

Kisah Sa'd bin Abi Waqqas dan Keimanan pada Sabda Nabi ﷺ:

Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang doanya dikabulkan oleh Allah. Beliau adalah perawi hadits ini, yang mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqas pernah mengalami sakit, dan Rasulullah ﷺ menjenguknya. Sa'd adalah sahabat yang sangat teguh dalam beriman dan mengamalkan sunnah.

Suatu ketika, ada seorang tabi'in yang bertanya kepada Sa'd tentang hadits kurma 'Ajwah ini. Sa'd menjawab dengan penuh keyakinan bahwa beliau mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ dan mengamalkannya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak meragukan sabda Nabi ﷺ, meskipun secara akal mungkin sulit dipahami.

Hikmah: Keimanan seorang mukmin kepada sabda Nabi ﷺ tidak boleh bergantung pada apakah akal kita mampu memahami sepenuhnya atau tidak. Selama hadits itu shahih, maka wajib diimani dan diamalkan. Inilah jalan para sahabat dan salafus shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini sebagai sabda Nabi ﷺ yang shahih — keutamaan kurma Madinah, khususnya 'Ajwah, adalah benar dan wajib diyakini.
  2. Amalkan sunnah ini jika memungkinkan — makan tujuh butir kurma 'Ajwah di pagi hari dengan niat mengikuti sunnah dan keyakinan akan janji Allah.
  3. Jangan salah paham — keutamaan ini bukan berarti boleh sengaja meminum racun atau melakukan hal berbahaya. Ini adalah sebab perlindungan, bukan izin untuk mencelakakan diri.
  4. Yakini bahwa perlindungan datang dari Allah — kurma hanyalah sebab, dan Allah-lah yang melindungi hamba-Nya.
  5. Jaga keimanan dan keyakinan — sebagaimana para sahabat mengimani sabda Nabi ﷺ tanpa keraguan, kita pun harus demikian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?