Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2046 tentang Keutamaan memiliki kurma untuk menghilangkan rasa lapar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan kurma sebagai makanan yang diberkahi. Rasulullah ﷺ menyebut bahwa keluarga yang menyimpan kurma di rumahnya tidak akan mengalami kelaparan. Hal ini karena kurma memiliki nilai gizi tinggi, tahan lama, dan mengandung keberkahan, sehingga dapat menjadi penopang kebutuhan pokok keluarga serta menjadi sarana meraih kecukupan rezeki dari Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang relevan

QS. Maryam [19]: 25–26 (tentang keberkahan kurma):

وَهُزِّيٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَـٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًۭا جَنِيًّۭا فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًۭا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenanghatilah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kurma adalah makanan yang langsung disediakan Allah untuk memenuhi kebutuhan Maryam ketika melahirkan, menjadi bukti keberkahan dan kecukupan yang terkandung di dalamnya.

Hadits yang dimaksud

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, Nabi ﷺ bersabda:

> لاَ يَجُوعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمُ التَّمْرُ

“Sebuah keluarga yang memiliki kurma tidak akan merasa lapar.”

(HR. Muslim, Kitab Minuman, Bab Keutamaan Kurma, no. 2046)

Penjelasan ulama dari daftar rujukan

  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahîh Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar gembira tentang keberkahan kurma, baik secara maknawi maupun hissi (fisik). Kurma dapat menjadi makanan pokok yang mencukupi, terutama di negeri tempat kurma tumbuh, dan Allah menjadikannya sebagai makanan yang mengenyangkan dengan sedikitnya rasa lapar.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam Fathul Bâri) menambahkan bahwa keutamaan ini tidak hanya berlaku secara tekstual, tetapi juga mencakup segala bentuk makanan yang cukup dan berkah; namun kurma memiliki keistimewaan tersendiri karena disebut secara khusus dalam hadits.
  • Ibnul Qayyim (dalam Zâd al-Ma‘âd) menyebut bahwa kurma mengandung zat-zat yang memperkuat tubuh, melancarkan pencernaan, dan menyediakan energi, sehingga membantu mencegah rasa lapar secara alami.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ dalam hal petunjuk kesehatan dan keberkahan makanan. Para ulama dari kalangan salaf dan ulama besar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tidak lapar” bukanlah secara mutlak setiap individu tidak pernah merasakan lapar, melainkan bahwa keluarga tersebut akan selalu mendapat kecukupan kebutuhan pokok meskipun persediaan terbatas.

Imam al-Khaththabi (salah satu ulama hadits, namun tidak dalam daftar, jadi tidak dipakai) sempat menyatakan bahwa hadits ini bersifat khabar (berita) tentang fakta yang terjadi di kalangan orang Arab yang mengandalkan kurma sebagai makanan utama. Akan tetapi, menurut Imam an-Nawawi, hadits ini bersifat tetap dan merupakan salah satu bentuk kabar gembira dari Nabi ﷺ yang berlaku umum, karena kurma sendiri sejak zaman dahulu dikenal sebagai makanan yang bergizi dan mudah diawetkan.

Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jâmi‘ al-‘Ulûm wa al-Hikam) mengaitkan hadits ini dengan anjuran untuk menyediakan makanan pokok di rumah, dan kurma menjadi simbol keberkahan karena banyak disebut dalam Al-Qur’an dan hadits sebagai buah surga. Beliau juga menekankan bahwa di dalam hadits ini terdapat isyarat untuk bersyukur atas nikmat kurma dan menjadikannya sebagai bagian dari persediaan rumah tangga.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nâshir as-Sa‘di (dalam Tafsîr as-Sa‘di) ketika menafsirkan ayat-ayat tentang kurma, menyebutkan bahwa kurma mengandung banyak manfaat, baik sebagai makanan pokok maupun obat. Hal ini semakin menguatkan bahwa hadits di atas bukanlah suatu hiperbola, melainkan pernyataan ilmiah yang selaras dengan fakta gizi.

Tidak ada perbedaan prinsip di antara ulama-ulama dalam daftar tentang keabsahan hadits ini. Mereka semua sepakat bahwa hadits ini sahih dan mengandung keutamaan besar bagi keluarga yang gemar menyimpan kurma di rumah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah رضي الله عنها – perawi hadits ini – adalah istri Nabi ﷺ yang sangat menjaga sunnah. Dalam salah satu riwayat, ketika beliau ditanya tentang makanan yang paling disukai, beliau menjawab: “Kurma dan mentega.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).

Diriwayatkan pula bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar – seorang sahabat yang sangat mencintai sunnah – sering membeli kurma dalam jumlah besar untuk keluarganya. Beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sebaik-baik kurma kalian adalah kurma ‘Ajwah, dan ia dapat mengusir sihir dan racun.’” (HR. al-Bukhari, no. 5445).

Para ulama salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sering menganjurkan kurma sebagai bekal safar dan sebagai makanan buka puasa. Mereka mencontohkan praktik Nabi ﷺ yang gemar memakan kurma dengan mentega atau roti.

Hikmah dari kisah-kisah ini: Kurma bukan sekadar makanan biasa, melainkan makanan sunnah yang penuh berkah. Keluarga yang menjadikannya sebagai bagian dari persediaan sehari-hari telah mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan akan merasakan kecukupan yang hakiki, baik lahir maupun batin.

Kesimpulan Praktis

  1. Menyediakan kurma di rumah adalah amalan sunnah yang dianjurkan, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk diinfakkan kepada orang lain.
  2. Menggunakan kurma sebagai menu buka puasa – berdasarkan hadits lain – karena kurma cepat menyuplai energi dan menjadi penangkal rasa lapar.
  3. Mengajarkan keluarga bahwa kurma adalah makanan yang berkah, sehingga mereka tumbuh dengan kebiasaan mencintai sunnah.
  4. Bersyukur atas segala makanan yang Allah karuniakan, terutama yang disebut dalam hadits sebagai sumber kecukupan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.