Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab makan yang penuh hikmah: Nabi ﷺ memerintahkan menjilati jari dan piring setelah makan, karena keberkahan makanan bisa ada di bagian yang tampak remeh. Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi bentuk tawadhu, syukur, dan menjauhi sikap boros. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan anjuran (sunnah) dan bahwa berkah tidak bisa diukur dengan logika semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Minuman, Bab Anjuran Menjilati Jari dan Piring, dari sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه.
Teks hadits:
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ "إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ"
Terjemahan: "Jabir melaporkan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjilati jari-jari dan piring, dan beliau bersabda: 'Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana keberkahan itu berada.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab makan dan syukur:
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
QS. Al-Ma'idah [5]: 88
"Dan makanlah dari apa yang telah Allah berikan kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."
Ayat ini menjadi dasar bahwa makanan adalah rezeki dari Allah, sehingga menyia-nyiakannya bertentangan dengan syukur. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya memakan yang halal dan baik, serta menjauhi yang haram — dan salah satu bentuk syukur adalah tidak membuang-buang nikmat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama: Perintah menjilati jari dan piring.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah ini adalah anjuran (sunnah), bukan kewajiban. Tujuannya adalah agar tidak ada sisa makanan yang terbuang, karena bisa jadi keberkahan ada pada sisa yang menempel di jari atau piring. Ini juga bentuk menjauhi sikap sombong dan boros.
Kedua: Makna "berkah" (البركة).
Berkah berarti bertambahnya kebaikan dan manfaat. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa makanan yang diberkahi akan mengenyangkan, menyehatkan, dan cukup — meskipun jumlahnya sedikit. Sebaliknya, makanan yang tidak berkah bisa banyak tetapi tidak memberi manfaat. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan agar kita tidak meremehkan bagian kecil dari makanan, karena bisa jadi di situlah berkah diletakkan.
Ketiga: Adab dan tawadhu.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa menjilati jari dan piring menunjukkan kerendahan hati dan tidak merasa gengsi terhadap sisa makanan. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan nikmat Allah, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
QS. Al-Isra' [17]: 27
"Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan."
Keempat: Perbedaan pendapat ulama.
Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menganggap menjilati jari dan piring sebagai sunnah yang dianjurkan. Imam Malik dan asy-Syafi'i juga menganjurkannya, meskipun dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ini berlaku untuk makanan yang sulit diambil kecuali dengan jari. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar — adalah bahwa perintah ini bersifat umum dan dianjurkan dalam semua kondisi makan, selama tidak ada uzur seperti makanan yang panas atau menjijikkan.
Kelima: Kaitan dengan hadits lain.
Dalam Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Ka'b bin Malik bahwa Nabi ﷺ makan dengan tiga jari dan menjilatinya. Ini memperkuat bahwa menjilati jari adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ yang patut diteladani.
Story Telling
Diceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang makan lalu tidak menjilati jarinya. Beliau menjawab dengan lembut bahwa itu adalah sunnah yang ditinggalkan, dan beliau sendiri selalu mengamalkannya. Suatu hari, seorang murid melihat Imam Ahmad makan dengan sangat sederhana, lalu menjilati jarinya hingga bersih. Murid itu bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau begitu teliti?" Imam Ahmad menjawab, "Aku tidak tahu di bagian mana berkah itu ada. Mungkin di sisa yang aku tinggalkan." (Kisah ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang kezuhudan Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam Manaqib al-Imam Ahmad).
Hikmahnya: orang yang berilmu semakin tawadhu dan tidak meremehkan sunnah kecil sekalipun.
Kesimpulan Praktis
- Jilatlah jari dan piring setelah makan, terutama jika ada sisa makanan yang menempel, sebagai bentuk syukur dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan meremehkan makanan, meskipun sedikit, karena bisa jadi di situlah berkah.
- Hindari sikap boros dan membuang-buang makanan, karena itu termasuk perilaku setan.
- Tanamkan tawadhu dalam makan, tidak gengsi terhadap sisa makanan, dan tidak berlebihan.
- Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak, agar mereka tumbuh dengan akhlak Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.