Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab makan yang penuh berkah: jangan buru-buru mengelap tangan setelah makan, tetapi jilatlah tangan (atau biarkan orang lain menjilatnya) terlebih dahulu, karena sisa makanan di tangan bisa jadi mengandung keberkahan. Ini termasuk sunnah yang sering dilupakan dan menunjukkan betapa Islam mengajarkan menghargai nikmat sekecil apa pun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Shahih Muslim no. 2031):
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا
"Jika salah seorang di antara kalian makan makanan, maka janganlah ia mengusap tangannya sampai ia menjilatnya atau menjilatinya." (HR. Muslim)
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-A'raf [7]: 31
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Dan makanlah serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Hadits pendukung (Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdillah):
Rasulullah ﷺ memerintahkan menjilat jari dan piring, dan bersabda bahwa kita tidak mengetahui di bagian makanan mana keberkahan itu berada. (HR. Muslim)
Kaitan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perintah sunnah menjilat jari dan piring.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa larangan mengusap tangan sebelum menjilat menunjukkan adanya keberkahan pada sisa makanan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa menjaga nikmat makanan adalah bagian dari syukur.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Kata "يَلْعَقَهَا" berarti menjilat dengan lidah, dan "يُلْعِقَهَا" berarti membiarkan orang lain (misalnya istri, anak, atau pelayan) menjilatnya. Jadi Nabi ﷺ melarang kita langsung mengelap tangan dengan tisu atau kain sebelum menjilatnya.
Pemahaman ulama:
- Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini adalah dalil disunnahkannya menjilat jari-jari setelah makan dan juga menjilat piring. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang disepakati para ulama sebagai adab yang baik, bukan kewajiban.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan bahwa larangan mengusap tangan sebelum menjilat menunjukkan adanya barakah (keberkahan) pada sisa makanan yang menempel di tangan. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami ini sebagai anjuran untuk tidak menyia-nyiakan makanan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan bahwa menjaga makanan dari terbuang adalah bentuk syukur kepada Allah. Beliau mengaitkan ini dengan ayat QS. Al-A'raf [7]: 31 tentang larangan berlebihan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara adab Nabi ﷺ dalam makan adalah beliau menjilat jari-jarinya dan memerintahkan hal itu, serta beliau tidak mengusap tangan sebelum selesai menjilat.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memahami perintah ini sebagai sunnah (mustahab), bukan wajib. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari daftar, termasuk an-Nawawi dan Ibnu Hajar. Tidak ada perbedaan tajam di kalangan ulama yang tercantum; mereka sepakat bahwa ini adalah adab yang dianjurkan.
Hikmah:
- Menghargai nikmat Allah sekecil apa pun.
- Menghindari pemborosan (israf) yang dilarang dalam QS. Al-A'raf [7]: 31.
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengajarkan kerendahan hati dan tidak sombong terhadap makanan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — perawi hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengamalkan sunnah. Beliau dikenal sebagai turjumanul Qur'an (juru tafsir Al-Qur'an) dan sangat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ.
Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Atha' bin Abi Rabah — yang juga menjadi perawi hadits ini — meriwayatkan bahwa beliau melihat para salaf mengamalkan sunnah ini dengan penuh kesadaran. Mereka tidak mengelap tangan sebelum menjilatnya, bahkan sampai piring mereka bersih.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin yang baik adalah yang memperhatikan hal-hal kecil dalam sunnah, karena hal-hal kecil itulah yang membedakan antara orang yang mengikuti Nabi ﷺ dengan yang hanya mengaku mencintainya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan langsung mengelap tangan setelah makan; jilatlah jari-jari terlebih dahulu.
- Bersihkan piring dengan menjilat atau mengambil sisa makanan yang menempel.
- Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak sebagai bagian dari sunnah.
- Jangan malu mengamalkan sunnah ini, karena ini adalah ajaran Nabi ﷺ.
- Ingatlah bahwa keberkahan bisa ada pada sisa makanan yang kita anggap remeh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.