Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab yang sangat agung: menyebut nama Allah (basmalah) sebelum makan. Jika tidak, setan akan ikut serta dan "menghalalkan" makanan tersebut untuknya. Hadits ini juga menunjukkan perhatian dan kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa kepada umatnya, bahkan beliau menahan tangan seorang budak perempuan dan seorang Arab badui yang hendak makan tanpa basmalah, agar setan tidak ikut serta dalam makanan mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (Minuman), Bab Adab Makan dan Minum, no. 2017, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Lafazh hadits yang Anda sertakan sudah tepat.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Perintah untuk menyebut nama Allah sebelum melakukan sesuatu, termasuk makan, sejalan dengan firman Allah ﷻ:
QS. Al-A'raf [7]: 204
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
Ayat ini secara umum mengajarkan adab mendengarkan firman Allah. Namun, dalam konteks makan, para ulama menghubungkan hadits ini dengan perintah menyebut nama Allah secara umum, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-An'am [6]: 118:
فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ
"Maka makanlah dari apa yang disebut nama Allah atasnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini menjadi dasar utama bagi para ulama dalam bab adab makan. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya membaca basmalah sebelum makan dan larangan meninggalkannya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa setan ikut serta dalam makanan yang tidak dimulai dengan nama Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Adab Mendahulukan Pemimpin atau yang Lebih Tua: Awal hadits menunjukkan bahwa para sahabat tidak mulai makan sebelum Rasulullah ﷺ memulai. Ini adalah bentuk adab dan penghormatan kepada pemimpin, guru, atau orang tua. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah adab yang baik, yaitu mendahulukan orang yang lebih utama dalam memulai sesuatu.
- Wajibnya Membaca Basmalah: Inti hadits ini adalah peringatan tentang bahaya meninggalkan basmalah. Sabda Nabi ﷺ, "Sesungguhnya setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya" menunjukkan bahwa setan akan ikut serta dalam makanan tersebut. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah:
- Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Abu Hanifah berpendapat bahwa membaca basmalah saat makan adalah sunnah (dianjurkan), bukan wajib. Jika meninggalkannya, maka tidak berdosa, tetapi kehilangan keutamaan dan makanan tersebut "dimakan" bersama setan.
- Sebagian ulama lain, seperti yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, berpendapat bahwa membaca basmalah saat makan adalah wajib. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz berdasarkan zhahir hadits ini.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa pendapat yang lebih hati-hati adalah tetap membacanya, karena ini adalah bentuk ketaatan dan perlindungan dari setan. Namun, beliau juga tidak memvonis dosa bagi yang meninggalkannya karena ini adalah masalah ijtihad.
- Perhatian Nabi ﷺ kepada Umatnya: Kisah budak perempuan dan Arab badui yang datang terburu-buru menunjukkan bahwa mereka mungkin sangat lapar. Namun, Nabi ﷺ tetap menahan tangan mereka dengan lembut untuk mengajarkan adab ini. Ini menunjukkan bahwa mengajarkan kebaikan tidak harus dengan cara yang kasar, tetapi dengan kasih sayang dan hikmah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam seringkali menekankan bahwa dakwah dan pengajaran harus dilakukan dengan kelembutan, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Kekuatan Doa dan Perlindungan Allah: Sabda Nabi ﷺ, "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu ada di tanganku bersama tangannya" menunjukkan bahwa dengan izin Allah, Nabi ﷺ mampu "menahan" setan secara spiritual. Ini adalah mukjizat dan juga pelajaran bahwa kita harus berlindung kepada Allah dari godaan setan dalam setiap aktivitas, termasuk makan.
Story Telling
Dari hadits ini, kita bisa membayangkan suasana di masa Nabi ﷺ. Suatu ketika, di sebuah jamuan makan, datanglah seorang budak perempuan dengan tergesa-gesa, mungkin karena sangat lapar atau takut tidak kebagian makanan. Ia langsung ingin mengambil makanan. Namun, dengan sigap dan penuh kasih sayang, Rasulullah ﷺ memegang tangannya dengan halus.
Tidak lama kemudian, datang pula seorang Arab badui yang juga terburu-buru. Beliau ﷺ juga menahan tangannya. Para sahabat yang hadir pasti heran, mengapa beliau menahan mereka? Kemudian beliau ﷺ menjelaskan bahwa setan telah membawa mereka berdua untuk ikut serta dalam makanan yang tidak dimulai dengan nama Allah.
Peristiwa ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ kepada setiap individu, tanpa memandang status sosial. Seorang budak perempuan dan seorang badui yang dianggap rendah oleh masyarakat Quraisy saat itu, tetap mendapatkan perhatian dan pengajaran langsung dari Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran tentang keadilan, kasih sayang, dan pentingnya mengajarkan kebaikan kepada semua orang.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Biasakan membaca "Bismillah" sebelum makan dan minum. Jika lupa di awal, maka ucapkanlah "Bismillahi awwalahu wa akhirahu" (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya), sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.
- Dahulukan orang yang lebih tua atau pemimpin untuk mulai makan, sebagai bentuk penghormatan dan adab.
- Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya.
- Makanlah dengan tangan kanan dan dari sisi yang dekat dengan kita, karena ini juga bagian dari adab makan yang diajarkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.
- Sadari bahwa setiap aktivitas kita harus dimulai dengan menyebut nama Allah agar terhindar dari gangguan setan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.