Penjelasan Hadits Muslim No. 1917 tentang Keutamaan memanah sebagai bentuk kekuatan dalam jihad

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah dari Nabi ﷺ untuk mempersiapkan kekuatan dalam menghadapi musuh, dan beliau menafsirkan "kekuatan" yang disebut dalam Al-Qur'an (QS. Al-Anfal [8]: 60) dengan memanah. Beliau mengulanginya tiga kali untuk menekankan pentingnya hal ini. Maknanya mencakup seluruh bentuk persiapan militer dan kekuatan fisik, namun memanah pada zaman itu adalah puncak teknologi persenjataan, dan pelajaran utamanya adalah kita harus siap dan terlatih dalam segala hal yang bisa menegakkan agama dan menjaga kaum muslimin.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa pun yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, yang dengan itu kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu..." (QS. Al-Anfal [8]: 60)

2. Hadits Riwayat Muslim:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kepemimpinan, Bab Keutamaan Memanah, dari sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu. Lafadznya sebagaimana yang Anda tuliskan.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan memanah dan perintah untuk melatihnya, serta ancaman bagi yang mempelajarinya lalu melupakannya.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari saat menjelaskan hadits-hadits terkait dalam Shahih Bukhari, menukil perkataan ulama bahwa "kekuatan" di sini bersifat umum, namun Nabi ﷺ mengkhususkan penyebutan memanah karena itu adalah senjata yang paling efektif pada masa itu.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat "Wa a'iddu lahum mastatha'tum min quwwah" turun sebagai perintah untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan dalam menghadapi musuh. Namun, ketika Nabi ﷺ berada di atas mimbar, beliau menafsirkan kata "kekuatan" tersebut secara spesifik dengan memanah dan mengulanginya tiga kali. Ini bukan berarti memanah adalah satu-satunya bentuk kekuatan, tetapi karena pada saat itu memanah adalah senjata yang paling efektif dan memiliki jangkauan yang jauh.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:

  1. Keutamaan memanah dan perintah untuk mempelajari serta melatihnya.
  2. Ancaman bagi yang mempelajarinya lalu melupakannya – dalam riwayat lain disebutkan bahwa siapa yang mempelajari memanah lalu meninggalkannya (tidak melatihnya), maka ia telah meninggalkan satu nikmat. Namun para ulama menjelaskan bahwa ini bukan berarti dosa besar, melainkan peringatan agar tidak menyia-nyiakan kemampuan yang telah dipelajari.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa pelajaran dari hadits ini bukan hanya tentang memanah secara harfiah, tetapi tentang kesiapan dan kekuatan dalam segala bentuknya. Pada zaman sekarang, ini mencakup persiapan militer modern, fisik yang kuat, dan juga persiapan mental serta spiritual.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan kekuatan dalam segala bentuknya, baik kekuatan fisik, senjata, maupun kekuatan iman, karena dengan persiapan itulah musuh akan merasa gentar.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi yang bermanfaat untuk membela agama dan kehormatan kaum muslimin. Ini adalah prinsip yang berlaku sepanjang zaman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu – perawi hadits ini – adalah salah satu sahabat yang mahir dalam memanah. Suatu hari, Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

"Wahai Uqbah, maukah engkau aku beri tahu tentang sebaik-baik mata pencaharian?" Uqbah menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Peganglah anak panahmu, dan kuda-kudamu, dan palu-lah (perisaimu)." (HR. Ahmad, hasan)

Dalam riwayat lain, Uqbah berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam surga karena satu anak panah: pembuatnya yang mengharap kebaikan, pemanahnya, dan orang yang mengambilkan anak panah itu untuknya.'" (HR. Abu Dawud, shahih)

Hikmah dari kisah ini: Islam tidak melarang umatnya untuk kuat dan terlatih. Justru, kekuatan fisik dan keterampilan adalah sarana untuk menjaga agama dan kehormatan. Namun, semua itu harus diniatkan untuk membela kebenaran, bukan untuk berbuat zalim.

Kesimpulan Praktis

  1. Melatih kekuatan fisik dan keterampilan adalah bagian dari syariat, selama diniatkan untuk kebaikan dan membela kebenaran.
  2. Mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi umat – baik itu ilmu, teknologi, atau keterampilan – adalah bentuk pengamalan hadits ini.
  3. Tidak menyia-nyiakan kemampuan yang telah dipelajari; jika kita bisa sesuatu yang bermanfaat, jangan tinggalkan begitu saja.
  4. Kekuatan yang hakiki adalah yang bisa membuat musuh gentar dan menjaga kehormatan kaum muslimin, baik kekuatan fisik maupun iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?