Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1904 tentang Niat ikhlas berperang demi meninggikan kalimat Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ukuran seseorang berperang di jalan Allah bukanlah terletak pada medan perangnya saja, melainkan pada niat yang ada di dalam hatinya. Siapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah (agama Islam) menjadi tinggi dan mulia, maka dialah yang benar-benar berjuang di jalan Allah. Adapun yang berperang karena ingin harta rampasan, ingin dipuji, atau ingin dilihat orang, maka ia tidak termasuk dalam kategori "fi sabilillah" yang hakiki, meskipun secara lahiriah ia berada di medan perang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab "Man Qatala li Takuna Kalimatullahi Hiya al-'Ulya fahuwa fi Sabilillah" (Siapa yang Berperang agar Kalimat Allah Menjadi Tinggi, Maka Dia di Jalan Allah), nomor 1904. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-'Ilm, Bab "Man Sa'ala wa huwa Qa'imun 'inda al-'Ulama" dan dalam Kitab Al-Jihad.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ

"Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim...'" (QS. An-Nisa' [4]: 75)

Ayat ini menegaskan bahwa berperang di jalan Allah memiliki tujuan yang jelas, yaitu membela agama dan menolong orang-orang yang tertindas karena iman mereka, bukan untuk kepentingan duniawi.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil yang sangat tegas bahwa niat adalah penentu nilai amal. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa amal ibadah tidak akan diterima dan tidak bernilai di sisi Allah kecuali dengan niat yang ikhlas karena Allah semata.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dalam menjelaskan masalah niat dan keikhlasan. Mari kita perhatikan dengan seksama.

Pertama: Latar Belakang Pertanyaan

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang tiga orang yang sama-sama berperang:

  1. Orang yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan (al-maghanim).
  2. Orang yang berperang agar namanya disebut-sebut (liyudzkara) sebagai pemberani atau pahlawan.
  3. Orang yang berperang agar terlihat kedudukannya (liyura makaanuhu), yaitu ingin dilihat keberaniannya oleh orang lain.

Pertanyaan ini sangat penting karena pada zaman itu, banyak orang yang ikut berperang dengan berbagai macam tujuan. Ada yang ikut karena benar-benar ingin membela Islam, ada juga yang ikut karena ingin harta, popularitas, atau sekadar gengsi.

Kedua: Jawaban Nabi ﷺ yang Sangat Tegas

Nabi ﷺ tidak menjawab dengan panjang lebar, tetapi langsung memberikan kriteria yang jelas dan tegas:

> "مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ أَعْلَى فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"

> "Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dia berperang di jalan Allah."

Yang dimaksud dengan "kalimat Allah" di sini adalah agama Islam, tauhid, dan syariat Allah. Jadi, tujuan berperang haruslah untuk meninggikan agama Allah, bukan untuk kepentingan pribadi atau duniawi.

Ketiga: Penjelasan Ulama tentang Hadits Ini

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal perbuatan dinilai berdasarkan niatnya. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa siapa yang berperang dengan niat untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. Dan siapa yang berperang dengan niat selain itu, maka ia tidak termasuk di jalan Allah, meskipun secara lahiriah ia berada di medan perang."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan dalam Majmu' Al-Fatawa bahwa jihad yang diperintahkan Allah adalah jihad yang tujuannya agar agama Allah yang menang dan kalimat-Nya yang tertinggi. Adapun jihad untuk tujuan duniawi, seperti harta rampasan atau popularitas, maka itu bukan jihad di jalan Allah yang hakiki, meskipun pelakunya tetap mendapatkan ganjaran duniawinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kepada kita sebuah kaidah besar: setiap amal harus disertai niat yang ikhlas karena Allah. Beliau mencontohkan, jika seseorang belajar ilmu agar disebut "alim", maka ia tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Jika seseorang bersedekah agar dipuji dermawan, maka ia tidak mendapatkan pahala. Demikian pula jika seseorang berperang agar disebut pemberani, maka ia tidak termasuk fi sabilillah.

Keempat: Pelajaran Penting tentang Niat

Hadits ini mengajarkan bahwa niat adalah pembeda antara amal yang bernilai di sisi Allah dan amal yang sia-sia. Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khattab, Nabi ﷺ bersabda:

> "إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"

> "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

Kedua hadits ini saling melengkapi. Hadits tentang niat menjelaskan kaidah umum, sedangkan hadits Abu Musa ini memberikan contoh konkret dalam masalah jihad.

Kelima: Peringatan bagi yang Berperang dengan Niat Duniawi

Perlu kita pahami bahwa hadits ini tidak berarti orang yang berperang karena ingin harta rampasan itu berdosa besar atau dihukumi kafir. Yang benar, ia tetap seorang muslim, tetapi jihadnya tidak bernilai di sisi Allah. Ia hanya mendapatkan harta rampasan di dunia, tetapi tidak mendapatkan pahala akhirat. Ini adalah peringatan yang sangat keras bagi kita semua agar selalu meluruskan niat dalam setiap amal.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang sangat bersemangat dalam berperang. Suatu hari, ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, atau karena fanatik kesukuan, atau karena ingin menunjukkan kegagahannya. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada satu pun dari itu yang termasuk di jalan Allah. Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dialah yang di jalan Allah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari).

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya meluruskan niat. Para sahabat pun sangat berhati-hati dalam masalah ini. Diriwayatkan bahwa sebagian salaf sangat takut jika amal mereka tidak diterima karena niat yang tidak ikhlas. Mereka berusaha keras untuk menyembunyikan amal kebaikan mereka agar tidak diketahui orang lain, karena takut riya' (ingin dilihat) atau sum'ah (ingin didengar).

Imam Al-Fudail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya." (Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam Syua'b Al-Iman).

Kesimpulan Praktis

  1. Niat adalah segalanya. Setiap amal kita, baik ibadah maupun muamalah, harus diniatkan karena Allah semata.
  2. Ukuran jihad yang benar adalah ketika tujuannya untuk meninggikan kalimat Allah, bukan untuk kepentingan duniawi.
  3. Periksa niat kita sebelum beramal. Sebelum melakukan kebaikan, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku melakukan ini karena Allah atau karena ingin dipuji?"
  4. Jangan mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu isi hati seseorang, tetapi kita harus selalu memperbaiki niat diri sendiri.
  5. Perbanyak doa memohon keikhlasan. Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma inni as-aluka khasy-yataka fil-ghaibi wasy-syahadah..." (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu baik dalam keadaan sendiri maupun di hadapan orang lain).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.