Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan dua sosok manusia yang paling baik kehidupannya di tengah manusia: pertama, seorang mujahid yang selalu siap siaga dengan kudanya di jalan Allah, dan kedua, seorang penggembala yang menyendiri di puncak bukit atau lembah, sibuk beribadah kepada Allah hingga ajal menjemput. Keduanya adalah gambaran ideal kehidupan yang fokus pada tujuan akhirat, baik melalui jihad fisik maupun jihad menjaga iman dalam kesendirian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab Keutamaan Jihad dan Pertahanan, no. 1889, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan lafazh Imam Muslim. Berikut kami tuliskan kembali potongan inti haditsnya:
مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِي الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ أَوْ رَجُلٌ فِي غُنَيْمَةٍ فِي رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ الشَّعَفِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الأَوْدِيَةِ يُقِيمُ الصَّلاَةَ وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْيَقِينُ لَيْسَ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ فِي خَيْرٍ
Makna ringkas: "Di antara manusia yang paling baik kehidupannya adalah seorang lelaki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, terbang (bergegas) di atas punggungnya setiap kali mendengar suara panggilan perang atau ketakutan, ia bergegas mencari kematian di tempat-tempat yang diharapkan (medan perang). Atau seorang lelaki yang memiliki kambing di puncak gunung atau di dasar lembah, ia menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan beribadah kepada Rabbnya hingga datang kepadanya kematian. Tidak ada manusia yang berada dalam kebaikan kecuali kedua orang ini."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Al-Imarah, bab ini) menjelaskan makna hadits ini secara rinci. Beliau termasuk ulama yang kami jadikan rujukan utama dalam memahami hadits ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menggambarkan dua jalan kebaikan yang agung, dan keduanya adalah pilihan terbaik bagi seorang mukmin dalam kehidupannya di dunia.
Pertama: Sosok Mujahid yang Selalu Siap Siaga
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ" adalah seorang laki-laki yang menahan kendali kudanya, siap untuk berangkat berjihad kapan saja. Kata "يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ" artinya ia berlari cepat dengan kudanya di atas punggungnya. "كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً" artinya setiap kali mendengar suara panggilan perang atau teriakan musuh, dan "فَزْعَةً" artinya suara yang menimbulkan ketakutan karena ada serangan musuh. Maka ia pun terbang (bergegas) ke arah tersebut, "يَبْتَغِي الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ" artinya ia mencari tempat-tempat yang diharapkan terjadi pertempuran dan syahadah.
Sosok ini adalah gambaran seorang mukmin yang hidupnya didedikasikan untuk membela agama Allah. Ia tidak menunggu perintah, tetapi selalu siap. Hatinya tidak terikat pada dunia, melainkan pada keridaan Allah dan syahadah di jalan-Nya. Ini adalah puncak keberanian dan keikhlasan.
Kedua: Sosok Penggembala yang Menyendiri untuk Beribadah
Adapun sosok kedua, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "غُنَيْمَةٍ" adalah kambing yang sedikit (bentuk tashghir dari ghanam). "شَعَفَةٍ" adalah puncak gunung, dan "بَطْنِ وَادٍ" adalah dasar lembah. Maksudnya, seorang laki-laki yang memiliki sedikit kambing dan tinggal di tempat yang jauh dari keramaian manusia, baik di puncak gunung maupun di dasar lembah. Ia menyibukkan dirinya dengan menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan beribadah kepada Rabbnya "حَتَّى يَأْتِيَهُ الْيَقِينُ" yaitu hingga datang kematian.
Sosok ini adalah gambaran seorang mukmin yang memilih uzlah (menyendiri) untuk menjaga agamanya dari fitnah dunia dan manusia. Ia tidak sibuk dengan urusan dunia yang melalaikan, tetapi fokus pada ibadah. Namun perlu diperhatikan, ia tetap menegakkan shalat dan menunaikan zakat — artinya ia tidak meninggalkan kewajiban sosialnya. Ini menunjukkan bahwa uzlah yang terpuji adalah yang tidak meninggalkan kewajiban.
Perbandingan Kedua Sosok:
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua kondisi terbaik bagi seorang hamba: pertama, ia berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya; kedua, ia menyendiri untuk beribadah jika ia khawatir agamanya akan rusak karena bergaul dengan manusia. Keduanya adalah kebaikan, dan manusia selain keduanya berada dalam keburukan atau kekurangan.
Syaikh al-Utsaimin juga menegaskan bahwa pilihan antara keduanya tergantung pada kondisi dan kemampuan seseorang. Jika ia mampu berjihad dan bermanfaat bagi umat, maka itu lebih utama. Jika ia khawatir akan fitnah, maka uzlah lebih selamat baginya.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari sebagian salaf tentang keutamaan uzlah dan menjaga agama. Disebutkan bahwa sebagian ulama salaf lebih memilih tinggal di daerah pegunungan atau tempat terpencil untuk menjaga agamanya dari pergaulan yang buruk. Mereka lebih memilih keselamatan agama daripada kesenangan dunia.
Namun perlu kami sampaikan bahwa hadits ini juga mengajarkan keseimbangan. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sendiri adalah perawi hadits ini, dan beliau tidak memilih uzlah total, tetapi justru aktif menyebarkan hadits dan ilmu di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa jihad dan dakwah juga merupakan jalan kebaikan yang agung.
Kesimpulan Praktis
- Jihad di jalan Allah adalah amal yang paling utama, dan seorang mukmin hendaknya selalu siap siaga untuk membela agama Allah sesuai kemampuannya.
- Uzlah (menyendiri) adalah jalan yang baik bagi siapa yang khawatir agamanya akan rusak karena pergaulan yang buruk, selama ia tetap menegakkan kewajiban seperti shalat dan zakat.
- Kedua jalan ini adalah pilihan terbaik bagi seorang mukmin; adapun manusia yang sibuk dengan dunia dan melupakan akhirat, maka mereka berada dalam kerugian.
- Yang terpenting adalah hati yang selalu terikat kepada Allah, baik dalam kesibukan jihad maupun dalam kesendirian ibadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.