Penjelasan Hadits Muslim No. 1884 tentang Keutamaan jihad dan derajat mujahid di surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan dua keutamaan besar: (1) siapa yang benar-benar ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi, maka surga wajib baginya; dan (2) jihad di jalan Allah adalah amalan yang mengangkat derajat seorang hamba seratus tingkat di surga, di mana jarak antara dua tingkat seperti jarak langit dan bumi. Keduanya menunjukkan bahwa iman yang benar dan pengorbanan di jalan Allah adalah jalan kemuliaan seorang mukmin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Kepemimpinan (Kitab al-Imarah), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Hadits pendukung dari Shahih Muslim juga disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang jihad sebagai puncak amal, dan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits ini secara terperinci.

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "Ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai Din, dan Muhammad sebagai Nabi"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ridha" di sini bukan sekadar mengakui secara lisan, melainkan:

  1. Ridha kepada Allah sebagai Rabb — menerima Allah sebagai satu-satunya Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur alam semesta, dan satu-satunya yang berhak disembah. Tidak membenci ketentuan-Nya, tidak menolak perintah-Nya, dan tidak mencari tuhan selain-Nya.
  2. Ridha kepada Islam sebagai Din — menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, menjalankan ajarannya dengan lapang dada, tidak merasa sempit atau terbebani, dan tidak mencari jalan hidup selain Islam.
  3. Ridha kepada Muhammad ﷺ sebagai Nabi — menerima beliau sebagai utusan Allah, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan menjadikan beliau sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika menjelaskan hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menyebutkan bahwa "wajibnya surga" di sini dipahami oleh para ulama dengan beberapa makna: bisa berarti pasti masuk surga (meskipun mungkin disiksa terlebih dahulu jika ada dosa), atau bisa berarti wajib masuk surga tanpa azab, bergantung pada sempurna atau tidaknya sifat-sifat tersebut pada diri seseorang.

Kedua: Makna Jihad Mengangkat Seratus Derajat

Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa jihad di jalan Allah mengangkat seorang hamba seratus derajat di surga. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan jihad.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa jihad memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena ia merupakan puncak pengorbanan seorang hamba: mengorbankan harta, jiwa, waktu, dan segala yang dimiliki demi meninggikan kalimat Allah. Karena pengorbanannya besar, maka balasannya pun besar.

Ibn Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah adalah amal yang paling utama setelah iman, karena dengannya agama ini terjaga dan tersebar. Namun beliau juga menegaskan bahwa jihad memiliki tingkatan dan jenisnya — ada jihad dengan ilmu dan hujjah, ada jihad dengan tangan dan pedang, dan ada jihad melawan hawa nafsu. Semuanya memiliki kedudukan masing-masing.

Ketiga: Pengulangan Rasulullah ﷺ

Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ mengulangi kalimat "Jihad di jalan Allah" dua kali. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa pengulangan ini menunjukkan penekanan (ta'kid) dan betapa pentingnya amalan tersebut. Ini juga menunjukkan kecintaan beliau terhadap jihad dan besarnya perhatian beliau terhadapnya.

Keempat: Sikap Abu Sa'id Al-Khudri

Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu merasa heran dan meminta Rasulullah ﷺ mengulangi sabdanya. Ini menunjukkan adab seorang sahabat dalam meminta penjelasan lebih, dan Rasulullah ﷺ dengan lembut mengabulkannya. Ini juga mengajarkan kita bahwa bertanya untuk memahami agama adalah hal yang baik.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ. Suatu ketika beliau duduk bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau mendengar sabda yang sangat agung: bahwa siapa yang ridha kepada Allah, Islam, dan Muhammad ﷺ, maka surga wajib baginya.

Mendengar itu, hati Abu Sa'id bergetar karena gembira, namun juga karena ingin lebih memahami. Beliau berkata, "Ulangi itu untukku, wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ yang penuh kasih pun mengulanginya. Kemudian beliau menambahkan kabar yang lebih besar lagi: ada amalan yang mengangkat derajat seorang hamba seratus tingkat di surga, yang jarak antara dua tingkatnya seperti jarak langit dan bumi.

Abu Sa'id pun bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Apa itu, wahai Rasulullah?" Dan Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh penekanan, "Jihad di jalan Allah! Jihad di jalan Allah!"

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan keadaan para sahabatnya, memberikan kabar gembira, dan menjelaskan keutamaan amal dengan cara yang mudah dipahami. Beliau juga tidak bosan mengulangi jawaban ketika diminta, yang menunjukkan kelembutan dan kesabaran beliau dalam mengajar.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan ridha dalam hati — terima Allah sebagai Rabb, Islam sebagai din, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi dengan sepenuh hati, bukan sekadar pengakuan lisan. Ini adalah kunci surga.
  2. Jaga tauhid dan keimanan — jangan ragu terhadap Allah dan Rasul-Nya, karena keraguan merusak keimanan.
  3. Pahami keutamaan jihad — jihad bukan hanya perang, tetapi mencakup jihad melawan hawa nafsu, jihad dengan ilmu, dan jihad dengan harta. Setiap muslim memiliki pintu jihadnya masing-masing sesuai kemampuan.
  4. Bersemangat dalam beramal — jika ingin derajat tinggi di surga, maka berkorbanlah di jalan Allah sesuai kemampuan: dengan waktu, tenaga, harta, dan ilmu.
  5. Bermurah hati dalam mengajar — seperti Rasulullah ﷺ yang tidak bosan mengulangi penjelasan, hendaklah kita sabar dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain.
  6. Perbanyak doa — minta kepada Allah agar diberi keridhaan terhadap agama-Nya dan dimudahkan untuk berjihad di jalan-Nya sesuai kemampuan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?