Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1879 tentang Jihad lebih utama daripada amal lainnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa amal yang paling utama di sisi Allah bukanlah sekadar amal yang bersifat duniawi atau ritual semata, melainkan amal yang lahir dari iman yang benar kepada Allah dan hari akhir, serta diikuti dengan jihad di jalan-Nya. Memberi minum jamaah haji dan merawat Masjidil Haram adalah amal yang mulia, namun keutamaannya tidak bisa menyamai keutamaan iman dan jihad. Ayat yang turun menegaskan bahwa Allah menilai amal berdasarkan iman dan keikhlasan, bukan sekadar kemegahan lahiriah.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an: QS. At-Taubah [9]: 19

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Terjemahan: "Apakah (orang-orang) yang memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim."

2. Hadits Riwayat Imam Muslim

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab Keutamaan Kesaksian di Jalan Allah, no. 1879, dari sahabat Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan Ulama

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan terhadap mereka yang membanggakan pelayanan haji dan pemakmuran masjid, padahal mereka belum tentu memiliki iman yang benar.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa Allah menegaskan ketidaksetaraan antara amal yang dibangun di atas iman dan jihad dengan amal yang hanya bersifat lahiriah tanpa iman yang benar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan sebuah peristiwa penting di masa Nabi ﷺ. Beberapa sahabat sedang berbincang di dekat mimbar Rasulullah ﷺ pada hari Jumat. Masing-masing menyebutkan amal yang mereka anggap paling utama:

  1. Pertama berkata: "Saya tidak peduli jika setelah Islam saya tidak beramal kecuali memberi minum jamaah haji."
  2. Kedua berkata: "Saya tidak peduli jika setelah Islam saya tidak beramal kecuali merawat Masjidil Haram."
  3. Ketiga berkata: "Jihad di jalan Allah lebih utama daripada apa yang kalian katakan."

Maka Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menegur mereka karena mengangkat suara di dekat mimbar Rasulullah ﷺ pada hari Jumat. Beliau berkata bahwa setelah shalat Jumat, beliau akan masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menanyakan langsung masalah ini.

Maka turunlah QS. At-Taubah: 19 yang menegaskan bahwa amal memberi minum haji dan memakmurkan Masjidil Haram tidak bisa disamakan dengan amal orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta berjihad di jalan-Nya.

Pemahaman Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai sanggahan terhadap orang-orang musyrik Quraisy yang membanggakan pelayanan mereka kepada jamaah haji dan pemeliharaan Masjidil Haram. Mereka merasa amal mereka lebih utama daripada iman dan jihad. Maka Allah membantah dengan tegas bahwa amal mereka tidak bernilai di sisi Allah karena tidak dilandasi iman.
  • Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan timbangan amal di sisi Allah. Amal yang paling utama adalah yang lahir dari iman yang benar, kemudian diikuti dengan jihad. Adapun amal-amal lain seperti memberi minum dan memakmurkan masjid, meskipun mulia, tetap berada di bawah derajat iman dan jihad.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdiskusi tentang keutamaan amal, namun dengan adab dan tidak mengangkat suara di dekat mimbar atau di majelis ilmu. Beliau juga menegaskan bahwa jihad adalah puncak amal setelah iman.

Pelajaran penting: Amal yang diterima Allah adalah amal yang dibangun di atas iman yang benar. Tanpa iman, amal sebesar apapun tidak akan bernilai. Dan jihad di jalan Allah adalah amal yang sangat agung, karena ia membutuhkan pengorbanan jiwa, harta, dan waktu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat yang semula berbangga dengan amal mereka menjadi sadar bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah sekadar amal lahiriah, melainkan keimanan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang Allah cintai.

Ada pelajaran indah dari sikap Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Beliau tidak langsung menghakimi atau memvonis salah satu pendapat, tetapi beliau menahan mereka dengan adab, lalu berkata: "Aku akan bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ." Ini mengajarkan kita bahwa dalam masalah agama, kita tidak boleh bersikap tergesa-gesa, tetapi harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Sikap Umar ini menunjukkan adab yang tinggi: menahan diri dari berdebat tanpa ilmu, dan mengembalikan perselisihan kepada Rasulullah ﷺ. Ini adalah teladan bagi kita semua.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman adalah fondasi utama — semua amal harus dibangun di atas iman kepada Allah dan hari akhir.
  2. Jihad di jalan Allah adalah amal yang sangat agung — namun jihad di sini mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, setan, dan juga berperang di jalan Allah bagi yang mampu.
  3. Amal lahiriah seperti memberi minum haji dan memakmurkan masjid tetap mulia — namun tidak boleh dibanggakan melebihi iman dan amal yang lebih utama.
  4. Adab dalam berdiskusi — jangan mengangkat suara di majelis ilmu, dan kembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
  5. Jangan merasa amal kita paling utama — biarkan Allah yang menilai, dan kita terus berusaha memperbaiki iman dan amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.