Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1874 tentang Keberkahan pada kuda perang hingga hari kiamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang keberkahan yang Allah letakkan pada kuda yang disiapkan untuk berperang di jalan-Nya. Keberkahan ini mencakup kebaikan yang banyak, baik di dunia maupun di akhirat, dan akan terus ada hingga hari kiamat. Ini menunjukkan keutamaan besar menyiapkan kekuatan untuk membela agama Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Namun, perlu diketahui bahwa lafaz yang lebih lengkap dalam Shahih Muslim adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الْبَرَكَةُ فِي نَوَاصِي الْخَيْلِ"

Artinya: "Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Keberkahan itu berada pada ubun-ubun kuda.'" (HR. Muslim no. 1874)

Dalam riwayat lain yang juga dalam Shahih Muslim, dari Urwah bin Abi al-Ja'd al-Bariqi radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ"

Artinya: "Kuda itu terikat di ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat." (HR. Muslim no. 1873)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

QS. Al-Anfal [8]: 60

Terjemahan: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan itu kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu."

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "keberkahan pada ubun-ubun kuda" adalah kebaikan yang banyak dan pahala yang besar yang Allah letakkan pada kuda yang digunakan untuk berjihad di jalan-Nya. Beliau juga menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa kuda yang dimaksud dalam hadits ini adalah kuda yang disiapkan untuk berperang di jalan Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Makna "Keberkahan" dan "Kebaikan"

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa keberkahan yang dimaksud bukan hanya pada fisik kuda itu sendiri, tetapi pada apa yang Allah karuniakan melalui kuda tersebut—baik berupa kemenangan, harta rampasan perang, pahala, dan kehormatan bagi pemiliknya yang menggunakannya di jalan Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebaikan yang terikat di ubun-ubun kuda hingga hari kiamat menunjukkan bahwa hukum ini bersifat umum dan terus berlanjut—selama masih ada kuda yang digunakan untuk berjihad, maka kebaikan itu tetap ada padanya.

2. Keutamaan Menyiapkan Kekuatan

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perintah untuk menyiapkan kekuatan dalam menghadapi musuh, dan kuda adalah salah satu bentuk kekuatan yang paling utama pada masa itu. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 60.

3. Hikmah Penyebutan "Ubun-ubun"

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa penyebutan ubun-ubun (nawashi) secara khusus karena ubun-ubun adalah bagian depan kuda yang menjadi penunjuk arah. Ini mengisyaratkan bahwa kebaikan itu ada pada arah dan tujuan yang benar—yaitu berjuang di jalan Allah, bukan untuk kesombongan atau permusuhan yang zalim.

4. Peringatan dari Penyalahgunaan

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang memelihara kuda untuk berbangga-bangga dan bermusuhan. Beliau menjelaskan bahwa kebaikan yang disebut dalam hadits ini khusus bagi yang menyiapkannya untuk jihad, bukan untuk tujuan duniawi yang tercela.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu—salah seorang sahabat Nabi ﷺ—sangat memperhatikan kuda perangnya. Beliau merawatnya dengan baik, memberinya makan yang cukup, dan melatihnya dengan sungguh-sungguh. Ketika ditanya mengapa ia begitu serius merawat kudanya, beliau menjawab bahwa kuda ini adalah senjatanya untuk membela agama Allah, dan ia berharap keberkahan yang dijanjikan Nabi ﷺ akan ia peroleh.

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami hadits ini secara praktis—mereka tidak hanya mendengar, tetapi langsung mengamalkan dengan menyiapkan kuda terbaik mereka untuk jihad fi sabilillah.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan setiap persiapan kekuatan untuk membela agama Allah, bukan untuk kesombongan atau kezaliman.
  2. Pelajari dan kuasai ilmu militer serta teknologi pertahanan sebagai bentuk penerapan hadits ini di zaman sekarang.
  3. Jangan meremehkan persiapan fisik dan materi dalam rangka menjaga keamanan umat Islam.
  4. Rawat dan manfaatkan fasilitas yang Allah berikan dengan baik, karena itu bagian dari ibadah jika diniatkan untuk kebaikan.
  5. Jauhkan diri dari menyalahgunakan kekuatan untuk permusuhan yang tidak dibenarkan syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.