Penjelasan Hadits Muslim No. 1871 tentang Kebaikan pada kuda hingga hari kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bahwa pada kuda—terutama yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah—terdapat kebaikan yang besar dan berkah yang akan terus ada hingga Hari Kiamat. Kebaikan ini bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga pada pahala yang diperoleh pemiliknya, baik saat kuda itu digunakan untuk berperang, diternakkan, atau bahkan sekadar disiapkan untuk kepentingan perang. Ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang menyiapkan kuda untuk membela agama Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kepemimpinan, Bab "Kebaikan pada Dahi Kuda hingga Hari Kiamat" (no. 1871). Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2850) dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Terdapat juga ayat Al-Qur'an yang sangat terkait dengan anjuran menyiapkan kekuatan untuk berjihad, yaitu firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Anfal [8]: 60

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..."

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk mempersiapkan kekuatan, dan di antaranya adalah kuda perang. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa "kekuatan" di sini mencakup segala bentuk persiapan perang, dan kuda adalah salah satu bentuknya yang paling utama pada masa itu.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sangat memahami keutamaan kuda ini. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya sebuah atsar dari Sa'id bin al-Musayyib—salah seorang ulama tabi'in besar yang masuk dalam daftar rujukan kita—bahwa beliau ditanya tentang makna "kebaikan pada dahi kuda". Beliau menjawab, "Itu adalah pahala dan ghanimah (harta rampasan perang)." Ini menunjukkan bahwa kebaikan tersebut bukan hanya bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "kebaikan pada dahi kuda" adalah berkah yang Allah letakkan pada kuda tersebut, dan kebaikan itu akan terus ada hingga Hari Kiamat. Beliau juga menukil pendapat ulama bahwa kebaikan ini mencakup pahala bagi pemiliknya, kehormatan yang diperoleh, dan juga manfaat duniawi seperti ghanimah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan kuda secara khusus. Beliau menegaskan bahwa kebaikan pada kuda ini bersifat umum, baik kuda itu digunakan untuk berjihad, untuk diternakkan, atau untuk disiapkan. Namun, yang paling utama adalah ketika kuda itu digunakan untuk berjihad di jalan Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa mempersiapkan kuda perang adalah bagian dari mempersiapkan kekuatan yang diperintahkan Allah dalam QS. Al-Anfal: 60. Beliau menekankan bahwa ini adalah bentuk ketaatan yang agung dan termasuk jihad fi sabilillah.

Ada juga hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 2851) dari sahabat 'Urwah al-Bariqi radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Kuda itu, pada ubun-ubunnya terikat kebaikan hingga Hari Kiamat."

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "terikat pada ubun-ubunnya" menunjukkan bahwa kebaikan itu sangat melekat dan tidak akan lepas. Ini adalah kabar gembira yang abadi bagi umat Islam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal—semoga Allah merahmatinya—sangat mencintai kuda dan sangat memperhatikan kesehatannya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan sederhana, namun ketika berbicara tentang kuda, beliau sangat antusias. Suatu ketika, beliau ditanya mengapa beliau sangat memperhatikan kuda, padahal beliau bukan seorang prajurit. Beliau menjawab dengan menukil hadits ini, bahwa kebaikan terikat pada ubun-ubun kuda hingga Hari Kiamat. Maka, siapa yang mencintai kebaikan, ia akan mencintai kuda dan memuliakannya.

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang. Mereka tidak menganggap remeh sunnah-sunnah Nabi, sekecil apa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini keutamaan kuda sebagai hewan yang diberkahi Allah, dan kebaikan itu akan terus ada hingga Hari Kiamat.
  2. Jika mampu, siapkan kuda atau kendaraan perang untuk kepentingan jihad dan membela agama Allah, sesuai dengan perintah QS. Al-Anfal: 60.
  3. Jangan meremehkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, sekecil apa pun, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang besar.
  4. Pahami bahwa jihad tidak selalu harus berperang; menyiapkan kekuatan, baik fisik, materi, maupun ilmu, adalah bagian dari jihad yang dicintai Allah.
  5. Perbanyak membaca dan merenungkan hadits-hadits tentang keutamaan amal, agar semangat kita dalam beribadah dan berjihad semakin kuat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?