Penjelasan Hadits Muslim No. 187 tentang Orang terakhir masuk surga dan permintaannya kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keadaan orang terakhir yang masuk surga: setelah selamat dari neraka, ia masih memohon kepada Allah untuk didekatkan ke pohon demi pohon, hingga akhirnya masuk surga. Allah tetap mengabulkan permintaannya dengan penuh kasih, meski ia berulang kali berjanji tidak meminta lagi. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, kelemahan manusia, dan keagungan kekuasaan Allah atas segala kehendak-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Terakhir Penghuni Neraka Keluar (no. 187), dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini berkaitan erat dengan ayat tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah:

QS. Az-Zumar [39]: 53

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

Terjemahan: "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah seruan penuh kasih dari Allah kepada hamba-Nya yang banyak berbuat dosa, agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ini sejalan dengan hadits di atas, di mana Allah tetap memaafkan permintaan hamba-Nya yang berulang-ulang.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits agung tentang sifat rahmat Allah dan bagaimana Allah "memaklumi" (yu'dziruhu) kelemahan hamba-Nya karena Dia mengetahui bahwa manusia tidak mampu menahan keinginan ketika melihat kenikmatan yang lebih baik.

Penjelasan Rinci

1. Keadaan orang terakhir yang masuk surga.

Nabi ﷺ menggambarkan seorang laki-laki yang keluar dari neraka dalam keadaan sangat lemah: kadang berjalan, kadang tersungkur, dan kadang disentuh api. Setelah melewatinya, ia menoleh dan bersyukur kepada Allah dengan ucapan: "Tabārakalladzī najjānī minka" (Maha Suci Dia yang menyelamatkanku darimu). Ini menunjukkan betapa besar nikmat keselamatan dari neraka, melebihi nikmat apa pun yang diberikan kepada orang-orang terdahulu dan yang kemudian.

2. Permohonan berulang dan janji yang diulang.

Allah memperlihatkan pohon demi pohon yang semakin indah. Setiap kali, hamba itu memohon agar didekatkan, berjanji tidak meminta lagi, lalu mengulangi permintaannya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Allah "yu'dziruhu" — memaklumi dan memaafkannya — karena Allah melihat bahwa hamba itu melihat kenikmatan yang tidak mampu ia tahan untuk tidak menginginkannya. Ini bukan celaan bagi Allah, melainkan gambaran kelemahan manusia dan kasih sayang Allah.

3. Ucapan "Apakah Engkau memperolok-olokku?"

Ketika Allah menjanjikan dunia dan yang semisalnya, hamba itu berkata: "A tastahzi'u minnī wa anta Rabbul 'ālamīn?" (Apakah Engkau memperolok-olokku, padahal Engkau Tuhan semesta alam?). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ini bukan tuduhan, melainkan ungkapan keheranan karena besarnya karunia yang diberikan, sehingga ia merasa tidak mungkin mendapatkannya. Allah menjawab: "Innī lā astahzi'u minka, wa lākinnī 'alā mā asyā'u qādir" — "Aku tidak memperolok-olokmu, tetapi Aku Maha Kuasa atas apa yang Aku kehendaki."

4. Tawa Rasulullah ﷺ dan tawa Ibnu Mas'ud.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tertawa ketika menyampaikan hadits ini, lalu menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ juga tertawa. Para sahabat bertanya mengapa, dan Nabi ﷺ menjawab: "Karena tertawanya Tuhan semesta alam ketika hamba-Nya berkata: 'Apakah Engkau memperolok-olokku?'" Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa tawa di sini menunjukkan keridhaan dan kelembutan Allah terhadap hamba-Nya, bukan tawa penghinaan. Ini adalah bentuk tajawuz (kelapangan) Allah terhadap kelemahan hamba-Nya.

5. Perbedaan pendapat ulama.

Sebagian ulama membahas apakah "tertawa" Allah di sini hakiki atau majaz. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa sifat-sifat Allah ditetapkan sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ini termasuk sifat yang wajib diimani tanpa tahrif (mengubah makna) dan tanpa tamtsil (menyerupakan). Yang paling kuat adalah menetapkannya sesuai zhahir yang layak bagi Allah, tanpa menanyakan "bagaimana".

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu ketika menyampaikan hadits ini di hadapan para tabi'in, beliau tertawa terlebih dahulu, lalu berkata: "Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?" Mereka bertanya, dan beliau menjawab: "Beginilah Rasulullah ﷺ tertawa." Para sahabat pun bertanya kepada Nabi ﷺ, dan beliau menjawab: "Aku tertawa karena tertawanya Tuhan semesta alam ketika hamba-Nya berkata: 'Apakah Engkau memperolok-olokku, padahal Engkau Tuhan semesta alam?'" (HR. Muslim). Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat memperhatikan detail hadits, termasuk ekspresi Nabi ﷺ, dan menyampaikannya dengan penuh amanah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sebesar apa pun dosa kita, karena Allah Maha Pengampun.
  2. Kenali kelemahan diri — manusia cenderung meminta lebih ketika melihat nikmat, dan Allah memaklumi itu dengan kasih sayang-Nya.
  3. Imani sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan dan tanpa menolak, sebagaimana manhaj salaf.
  4. Bersyukurlah atas nikmat keselamatan dari neraka, karena itu nikmat terbesar yang melebihi dunia dan seisinya.
  5. Teladani adab para sahabat dalam menyampaikan hadits dengan penuh perhatian dan kecintaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?