Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1859 tentang Baiat Ridwan di bawah pohon

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Sa'id bin Al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, Al-Musayyab bin Hazn, yang merupakan salah satu sahabat yang ikut dalam Bai'at Ridwan di bawah pohon pada tahun Hudaibiyah. Pada tahun berikutnya ketika mereka kembali ke tempat tersebut, mereka tidak dapat lagi menemukan pohon tersebut secara pasti. Hadits ini mengajarkan bahwa yang terpenting dalam ibadah dan ketaatan adalah semangat dan keikhlasan, bukan terpaku pada tempat atau benda tertentu. Ini juga menunjukkan bahwa para sahabat tidak mengkultuskan tempat atau benda, meskipun itu adalah tempat bersejarah yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Telah menceritakan kepada kami Hamid bin 'Umar, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah, dari Thariq, dari Sa'id bin Al-Musayyab, ia berkata: "Ayahku termasuk orang yang membaiat Rasulullah ﷺ di bawah pohon." Ia berkata: "Maka kami pergi pada tahun berikutnya untuk menunaikan haji, tetapi tempat pohon itu tidak jelas bagi kami. Jika kalian dapat menunjukkannya dengan jelas, maka kalian lebih tahu."

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/142) menjelaskan: "Hadits ini menunjukkan bahwa pohon tersebut tidak diketahui secara pasti tempatnya, dan para sahabat tidak menetapkan tanda khusus untuknya. Ini adalah bantahan bagi orang-orang yang mengkultuskan tempat-tempat tertentu secara berlebihan."

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/448) menambahkan: "Para sahabat tidak sengaja melupakan tempat pohon itu, tetapi Allah ﷻ menghilangkan pengetahuan mereka tentangnya agar tidak terjadi fitnah dan pengkultusan terhadap tempat tersebut."

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Sa'id bin Al-Musayyab, seorang tabi'in besar dan ahli fiqih Madinah. Beliau meriwayatkan dari ayahnya, Al-Musayyab bin Hazn, yang merupakan salah satu sahabat yang ikut dalam Bai'at Ridwan di bawah pohon pada tahun 6 H di Hudaibiyah.

Peristiwa Bai'at Ridwan terjadi ketika Rasulullah ﷺ mengirim utusan ke Quraisy dan tersiar kabar bahwa utusan tersebut dibunuh. Maka Rasulullah ﷺ memanggil para sahabat untuk membaiat beliau di bawah pohon, dan mereka semua berbaiat untuk berperang sampai mati. Bai'at ini disebut "Bai'at Ridwan" karena Allah ﷻ ridha kepada mereka, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath [48]: 18).

Yang menarik dalam hadits ini adalah bahwa pada tahun berikutnya, ketika Sa'id bin Al-Musayyab dan ayahnya pergi haji, mereka tidak dapat menemukan pohon tersebut secara pasti. Padahal pohon itu adalah tempat bersejarah yang sangat mulia. Namun para sahabat tidak menjadikannya sebagai tempat ziarah atau tempat yang dikultuskan.

Imam Al-Qurthubi (dalam Al-Mufhim) menjelaskan: "Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak tertarik untuk mengetahui tempat pohon tersebut secara persis, karena mereka tidak menganggapnya sebagai ibadah. Mereka hanya fokus pada makna bai'at dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (27/12) menjelaskan: "Para sahabat tidak menjadikan pohon tersebut sebagai tempat yang diberkahi atau tempat ibadah. Bahkan Umar bin Al-Khattab pernah menebang pohon yang diduga menjadi tempat bai'at karena khawatir orang-orang akan mengkultuskannya."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Al-Khattab menjadi khalifah, beliau mendengar bahwa sebagian orang pergi ke pohon yang diyakini sebagai tempat Bai'at Ridwan untuk shalat di bawahnya. Maka Umar memerintahkan agar pohon itu ditebang. Beliau berkata: "Sesungguhnya aku khawatir kalian akan menjadikannya sebagai tempat ibadah sebagaimana Bani Israil menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah." (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih)

Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman para sahabat tentang tauhid dan bahaya syirik. Mereka lebih memilih menghilangkan benda bersejarah yang mulia daripada membuka pintu kesyirikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mengkultuskan tempat atau benda, meskipun memiliki sejarah mulia dalam Islam. Yang penting adalah makna dan semangat ibadah, bukan tempatnya.
  2. Fokus pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada ritual yang tidak ada tuntunannya.
  3. Belajar dari para sahabat yang tidak menjadikan tempat bersejarah sebagai objek ziarah atau ibadah khusus.
  4. Hindari sikap berlebihan (ghuluw) dalam mencintai tempat atau benda bersejarah, karena ini bisa menjerumuskan pada kesyirikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.