Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1858 tentang Baiat untuk tidak lari dari medan perang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Bai'at Ridhwan yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, tepatnya di Hudaibiyah. Bai'at ini dilakukan oleh para sahabat kepada Nabi ﷺ untuk tidak melarikan diri dari medan perang, sebagai bentuk kesetiaan dan kesiapan berkorban. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat, pentingnya menepati janji, dan bahwa bai'at kepada pemimpin yang sah adalah bagian dari ajaran Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Imarah, Bab "Anjuran Membai'at Imam Perang", no. 1858, dari sahabat Ma'qil bin Yasar radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman tentang peristiwa Bai'at Ridhwan:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath [48]: 18)

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa bai'at ini dikenal dengan Bai'atur Ridhwan, dan jumlah peserta disebutkan antara 1.400 hingga 1.500 orang. Beliau menegaskan bahwa bai'at ini adalah bentuk ketaatan dan kesiapan berkorban.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi karena kabar terbunuhnya Utsman bin Affan oleh kaum Quraisy, sehingga Nabi ﷺ mengajak para sahabat untuk membai'at beliau demi membalas dan membela.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Historis Bai'at Ridhwan

Peristiwa ini terjadi ketika Nabi ﷺ dan sekitar 1.400 sahabat berangkat ke Makkah untuk umrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman bin Affan yang diutus sebagai duta telah dibunuh, Nabi ﷺ mengajak para sahabat untuk berbai'at. Mereka berbai'at di bawah sebatang pohon (samurah) di Hudaibiyah.

2. Makna Bai'at dalam Hadits

Ma'qil bin Yasar menjelaskan bahwa bai'at tersebut bukan untuk mati, tetapi untuk tidak melarikan diri dari medan perang. Ini menunjukkan bahwa bai'at tersebut adalah janji kesetiaan untuk tetap teguh di medan pertempuran, tidak gentar dan tidak lari dari musuh.

3. Keutamaan Para Sahabat

Allah ﷻ secara langsung menyatakan keridhaan-Nya kepada mereka dalam QS. Al-Fath ayat 18. Ini adalah keutamaan besar yang tidak diberikan kepada generasi setelahnya. Para ulama seperti Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang ikut serta dalam bai'at tersebut.

4. Hikmah Bai'at kepada Pemimpin

Bai'at dalam Islam adalah bentuk ikatan janji antara pemimpin dan rakyat untuk mendengar dan taat dalam kebaikan. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa bai'at kepada pemimpin yang sah adalah wajib, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Namun, bai'at ini harus dilakukan sesuai syariat dan tidak boleh memberontak kepada pemimpin yang sah.

5. Pelajaran tentang Kesetiaan dan Keberanian

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus memiliki keberanian dan kesiapan untuk berkorban demi agama, namun tetap dengan aturan syariat. Bai'at untuk tidak lari dari medan perang adalah bentuk latihan jiwa untuk menumbuhkan keberanian dan keikhlasan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika kabar terbunuhnya Utsman bin Affan sampai kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Kita tidak akan pergi hingga kita memerangi mereka." Maka beliau mengajak para sahabat untuk berbai'at.

Para sahabat berbondong-bondong mendekat. Di antara mereka ada Ma'qil bin Yasar yang dengan tangannya memegang dahan pohon agar tidak mengenai kepala Nabi ﷺ. Beliau melihat langsung bagaimana para sahabat berlomba-lomba mengulurkan tangan mereka untuk berjanji setia.

Yang menarik, di antara mereka ada sahabat yang bernama Salim maula Abi Hudzaifah yang ikut berbai'at, dan ada juga Al-Miqdad bin Al-Aswad yang terkenal dengan keberaniannya. Semua mereka berbai'at dengan ikhlas, bukan karena paksaan, tetapi karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setelah peristiwa itu, Allah menurunkan ayat yang mengabadikan keridhaan-Nya kepada mereka. Ini adalah bukti bahwa Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang setia dan siap berkorban di jalan-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga Janji dan Kesetiaan – Seorang muslim harus menepati janji, baik kepada Allah, Rasul-Nya, maupun kepada sesama manusia.
  2. Keberanian dalam Kebenaran – Kita harus berani membela kebenaran dan tidak lari dari tanggung jawab, terutama dalam perkara agama.
  3. Menghormati Para Sahabat – Kita wajib mencintai dan menghormati para sahabat Nabi ﷺ, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  4. Taat kepada Pemimpin dalam Kebaikan – Selama pemimpin memerintahkan kebaikan, kita wajib taat dan mendukungnya, selama tidak bertentangan dengan syariat.
  5. Mengambil Pelajaran dari Sejarah – Kisah Bai'at Ridhwan mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan dan kesiapan berkorban demi agama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.