Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1843 tentang Kewajiban taat dan meminta hak kepada Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa setelah wafatnya Nabi ﷺ, akan muncul situasi di mana para pemimpin lebih mengutamakan kerabat atau kelompoknya (favoritisme/atstsarah) dan terjadi perkara-perkara yang tidak disukai kaum muslimin. Dalam kondisi seperti ini, perintah Nabi ﷺ kepada kita adalah tetap menunaikan kewajiban kita sebagai rakyat (taat dalam kebaikan dan membayar hak-hak yang wajib) dan memohon kepada Allah agar diberikan hak-hak kita. Kita tidak diperintahkan untuk memberontak atau melawan dengan kekerasan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

(QS. An-Nisa' [4]: 59)

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu."

Hadits:

Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1843) dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat lain yang semakna, dari sahabat 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

(Riwayat Muslim, no. 1855)

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tentang kewajiban taat kepada pemimpin dalam hal yang ma'ruf dan larangan memberontak meskipun pemimpin tersebut berbuat zalim atau pilih kasih. Beliau menukil kesepakatan ulama Ahlus Sunnah bahwa taat kepada pemimpin adalah wajib selama tidak memerintahkan maksiat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan petunjuk yang sangat penting bagi kaum muslimin dalam menghadapi situasi politik yang tidak ideal. Berikut penjelasan dari para ulama dalam daftar rujukan:

1. Makna "Atsarah" (Favoritisme)

Al-Imam Ibnul Atsir rahimahullah dalam An-Nihayah menjelaskan bahwa atsarah adalah sikap pemimpin yang mengkhususkan sesuatu (harta, jabatan, fasilitas) untuk kerabat atau orang-orang terdekatnya, meninggalkan yang lain. Ini adalah bentuk kezaliman yang dilarang, namun akan terjadi.

2. Perintah Nabi ﷺ: Tunaikan Hak dan Minta Hak kepada Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (dalam Majmu' Fatawa) menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Tunaikanlah hak yang ada pada kalian" maksudnya adalah kewajiban taat dalam hal kebaikan, membayar pajak yang sah, dan tidak memberontak. Sedangkan "mintalah kepada Allah hak kalian" artinya bersabarlah dan jangan melawan dengan kekerasan, karena Allah akan memberikan jalan keluar atau mengganti pemimpin dengan yang lebih baik.

3. Larangan Memberontak

Imam Al-Barbahari rahimahullah (dalam Syarhus Sunnah) menegaskan bahwa Ahlus Sunnah tidak boleh memberontak terhadap pemimpin meskipun mereka zalim, selama mereka masih menegakkan shalat dan tidak memerintahkan kekufuran yang nyata. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih yang melarang memberontak.

4. Hikmah di Balik Perintah Ini

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa perintah ini mengandung hikmah yang besar, yaitu:

  • Menjaga persatuan umat dan mencegah pertumpahan darah.
  • Melatih kesabaran dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.
  • Mengajarkan bahwa kekuasaan adalah ujian, dan yang terpenting adalah bagaimana kita beramal shalih di dalamnya.

Pendapat Ulama Lain:

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (dalam riwayat Al-Khallal) mengatakan bahwa jika pemimpin berbuat zalim, kita tetap wajib taat dalam kebaikan dan tidak boleh keluar dari ketaatan (memberontak). Kita cukup menasihati dengan cara yang baik dan berdoa kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, dan kalian mendoakan mereka serta mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, dan kalian melaknat mereka serta mereka melaknat kalian.' Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memerangi mereka dengan pedang?' Beliau menjawab: 'Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, tetapi janganlah kalian melepaskan tangan dari ketaatan.'" (HR. Muslim)

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun kita tidak setuju dengan kebijakan pemimpin, kita tidak boleh memberontak. Kita diperintahkan untuk tetap taat dalam kebaikan, membenci perbuatan buruknya, dan berdoa kepada Allah agar memperbaiki keadaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat dalam kebaikan: Tetaplah taat kepada pemimpin selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat.
  2. Jangan memberontak: Larangan memberontak adalah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
  3. Nasihat dengan cara baik: Jika pemimpin berbuat salah, nasihatilah dengan cara yang lembut dan bijaksana.
  4. Perbanyak doa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan pemimpin yang adil dan bertakwa.
  5. Jaga persatuan: Hindari perpecahan dan fitnah yang dapat merusak umat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.