Shahih Muslim · Kitab Kepemimpinan · No. 1839

Bab Kewajiban Menaati Para Pemimpin dalam Hal yang Tidak Maksiat dan Mengharamkannya dalam Maksiat

Shahih

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ " عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ " .

haddatsana qutaybahu ibnu saidin, haddatsana laytsun, an ubaydi allahi, an nafiin, ani abni umara, ani annabiyyi annahu qala " ala almari almuslimi assamu waatthaahu fima ahabba wakariha ila an yumara bimashiyahin fain umira bimashiyahin fala sama wala thaaha ".

Telah diriwayatkan dari Ibn 'Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Wajib bagi seorang Muslim untuk mendengarkan dan menaati (pemimpin yang diangkat atasnya) baik dalam hal yang disukai maupun yang tidak disukai, kecuali jika ia diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang maksiat. Jika ia diperintahkan untuk melakukan maksiat, maka tidak ada mendengar dan tidak ada taat.'

Penjelasan