Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1819 tentang Manusia mengikuti Quraish dalam kebaikan dan keburukan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang kedudukan istimewa suku Quraisy sebagai pemimpin umat. Selama mereka berpegang pada kebaikan, manusia akan mengikuti mereka dalam kebaikan; dan jika mereka terjerumus dalam keburukan, manusia pun akan mengikuti dalam keburukan. Ini adalah kabar berita (ikhbar) dari Nabi ﷺ tentang realitas sosial dan juga isyarat tentang pentingnya kepemimpinan yang baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan berharakat dengan benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab: "Manusia Mengikuti Quraisy dalam Kebaikan dan Keburukan", no. 1819, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

"Dan demikianlah Kami jadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam secara umum memiliki kedudukan mulia. Namun, hadits di atas mengkhususkan bahwa di antara umat ini, Quraisy memiliki keistimewaan kepemimpinan.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Quraisy dan bahwa kepemimpinan (khilafah) dan jabatan-jabatan penting lainnya adalah hak mereka, selama mereka menegakkan syariat Islam.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "Manusia Mengikuti Quraisy"

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: "Makna hadits ini adalah bahwa manusia dalam urusan agama dan dunia mereka mengikuti Quraisy. Jika Quraisy berpegang pada kebenaran, maka manusia mengikuti mereka dalam kebenaran. Jika mereka menyimpang, manusia ikut menyimpang. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang apa yang akan terjadi." Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa khilafah dan kepemimpinan umat adalah hak Quraisy, sebagaimana disepakati oleh Ahlus Sunnah.

2. Sisi Kepemimpinan (Imarah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keharusan kepemimpinan dari Quraisy, karena mereka memiliki kelebihan dalam hal kesatuan, kekuatan, dan pengaruh di kalangan Arab. Beliau menegaskan bahwa ini adalah ijma' (kesepakatan) para sahabat, sebagaimana terlihat ketika kaum Anshar mengusulkan kepemimpinan dari kalangan mereka, lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berdalil dengan hadits ini, dan kaum Anshar pun menerimanya.

3. Bukan Berarti Quraisy Selalu Benar

Penting dipahami, hadits ini bukanlah pujian mutlak bahwa semua orang Quraisy selalu dalam kebaikan. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kabar tentang kenyataan bahwa manusia akan mengikuti mereka, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Maka ini adalah peringatan bagi Quraisy agar senantiasa berpegang pada kebenaran, karena mereka adalah teladan umat.

4. Peringatan bagi Quraisy

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua sisi: kabar gembira bagi Quraisy jika mereka berbuat baik, dan peringatan keras bagi mereka jika berbuat buruk, karena dampak perbuatan mereka akan meluas ke seluruh umat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur terkait hadits ini. Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah dan mengusulkan agar kepemimpinan dipegang oleh Sa'd bin Ubadah dari kalangan mereka. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berdiri dan menyampaikan hadits ini: "Manusia mengikuti Quraisy dalam kebaikan dan keburukan." Beliau berkata: "Kami adalah para pemimpin dan kalian adalah para menteri (pembantu)." Maka Habab bin Mundzir berkata: "Tidak, demi Allah! Kami tidak akan melakukannya. Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada pemimpin." Abu Bakar menjawab: "Justru kami adalah para pemimpin dan kalian adalah para menteri. Dan kami tidak mengetahui suatu kaum yang lebih utama daripada kalian dalam hijrah kepada Rasulullah ﷺ. Maka kami adalah pemimpin dan kalian adalah menteri." Maka kaum Anshar pun menerima dan membaiat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Hikmahnya: Hadits ini menjadi dasar penyelesaian konflik kepemimpinan saat itu, dan menunjukkan bahwa kepemimpinan Quraisy adalah ketetapan Nabi ﷺ yang harus dihormati.

Kesimpulan Praktis

  1. Menghormati kepemimpinan yang sah selama pemimpin tersebut menegakkan syariat Islam dan kebaikan.
  2. Mendoakan kebaikan bagi para pemimpin, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi umat.
  3. Bagi yang memiliki pengaruh (apapun sukunya), hendaknya menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatannya akan ditiru oleh orang lain, maka berhati-hatilah.
  4. Tidak menjadikan hadits ini sebagai alat fanatisme kesukuan, karena hadits ini adalah kabar berita dan ketetapan ilahi, bukan ajakan untuk membanggakan diri.
  5. Menjaga persatuan umat dengan menerima kepemimpinan yang sah dan tidak memberontak tanpa alasan syar'i.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.