Penjelasan Hadits Muslim No. 1816 tentang Kesabaran dan keikhlasan dalam perjuangan fisik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang perjuangan dan kesabaran para sahabat dalam Perang Dzatur Riqa'. Mereka hanya berenam dengan satu unta yang ditunggangi bergantian, kaki mereka terluka parah hingga kuku terlepas, lalu mereka membalutnya dengan kain (rikha'). Dari sinilah nama perang itu berasal. Hadits ini juga mengajarkan adab mulia: Abu Musa tidak suka menceritakan amalnya karena takut riya', padahal itu adalah bentuk keikhlasan yang tinggi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar (Perang dan Perjalanan), Bab Ghazwah Dzat Ar-Riqa', nomor 1816, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَرَّادٍ الأَشْعَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ الْهَمْدَانِيُّ، - وَاللَّفْظُ لأَبِي عَامِرٍ - قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي غَزَاةٍ وَنَحْنُ سِتَّةُ نَفَرٍ بَيْنَنَا بَعِيرٌ نَعْتَقِبُهُ - قَالَ - فَنَقِبَتْ أَقْدَامُنَا فَنَقِبَتْ قَدَمَاىَ وَسَقَطَتْ أَظْفَارِي فَكُنَّا نَلُفُّ عَلَى أَرْجُلِنَا الْخِرَقَ فَسُمِّيَتْ غَزْوَةَ ذَاتِ الرِّقَاعِ لِمَا كُنَّا نُعَصِّبُ عَلَى أَرْجُلِنَا مِنَ الْخِرَقِ

Makna ringkas: Abu Musa bercerita bahwa mereka keluar bersama Nabi ﷺ dalam sebuah peperangan, berjumlah enam orang dengan satu unta yang ditunggangi bergantian. Kaki-kaki mereka melepuh, kuku Abu Musa terlepas, lalu mereka membalut kaki dengan kain. Maka dinamakanlah perang itu Dzat Ar-Riqa' (pemilik kain-kain) karena mereka membalut kaki dengan kain.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, bersiaplah (berjaga-jaga) di perbatasan, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 200)

Ayat ini menunjukkan perintah kesabaran dalam berjuang, sebagaimana yang dicontohkan para sahabat dalam perang Dzatur Riqa'.

Penjelasan Rinci

1. Latar Belakang Perang Dzatur Riqa'

Perang Dzatur Riqa' terjadi pada tahun ke-4 atau ke-5 Hijriyah. Nama ini dinisbatkan pada peristiwa yang diceritakan Abu Musa dalam hadits di atas. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dinamakan Dzatur Riqa' karena para sahabat membalut kaki mereka yang terluka dengan kain (rikha'), atau karena mereka mengibarkan bendera dari kain. Ada juga pendapat yang mengatakan karena dalam perang tersebut mereka berhadapan dengan pasukan yang memiliki tanda-tanda (riqa') di pakaian mereka.

2. Kondisi Sulit yang Dihadapi Para Sahabat

Dalam hadits ini, Abu Musa menggambarkan betapa beratnya perjuangan mereka:

  • Hanya berenam orang dengan satu ekor unta yang ditunggangi bergantian
  • Kaki mereka melepuh karena berjalan jauh di medan yang keras
  • Kuku-kuku Abu Musa terlepas karena kelelahan
  • Mereka membalut kaki dengan kain seadanya

Ini menunjukkan pengorbanan luar biasa para sahabat dalam membela agama Allah. Mereka tidak mengeluh, tidak protes, tetapi justru menjalani dengan sabar dan ikhlas. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa perang ini menunjukkan ketangguhan fisik dan mental para sahabat dalam berjihad.

3. Pelajaran tentang Keikhlasan dan Menyembunyikan Amal

Bagian akhir hadits ini sangat menarik. Abu Burdah berkata bahwa Abu Musa menceritakan hadits ini, kemudian ia tidak suka mengulanginya. Beliau khawatir jika menceritakan pengorbanannya akan terkesan memamerkan amal. Ini adalah pelajaran adab yang sangat tinggi.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa para salaf sangat menjaga keikhlasan. Mereka takut jika amal mereka diketahui orang lain akan mengurangi pahala atau menimbulkan riya'. Namun perlu dipahami: menceritakan perjuangan untuk tujuan edukasi dan memotivasi umat adalah hal yang baik, selama niatnya ikhlas. Abu Musa sendiri menceritakannya untuk mengajarkan sunnah, dan kekhawatirannya adalah bentuk kehati-hatian yang berlebihan dalam menjaga keikhlasan.

4. Tambahan Kata "Wallahu Yajzi bihi"

Abu Usamah meriwayatkan tambahan dari perawi lain: "Wallahu yajzi bihi" (Allah akan memberinya pahala). Ini adalah doa dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tambahan ini menunjukkan harapan besar para sahabat akan balasan Allah atas pengorbanan mereka.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa membayangkan pemandangan yang mengharukan: enam orang sahabat berjalan di tengah panasnya padang pasir, kaki mereka berdarah dan melepuh, kuku terlepas satu per satu, namun mereka tetap tegar menemani Rasulullah ﷺ. Mereka tidak memiliki kendaraan yang layak—hanya satu unta untuk enam orang yang harus bergantian menungganginya.

Abu Musa radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang dikenal zuhud dan sangat menjaga keikhlasan. Ketika suatu saat beliau menceritakan perjuangan ini, beliau langsung menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi. Beliau khawatir ceritanya akan dianggap sebagai pamer amal. Padahal, menceritakan perjuangan untuk memotivasi umat adalah hal yang terpuji. Namun ini menunjukkan betapa tingginya rasa takut para salaf terhadap riya', meskipun amal mereka sudah jelas ikhlas di sisi Allah.

Imam Al-Auza'i rahimahullah pernah berkata: "Dahulu para salaf, jika salah seorang dari mereka melakukan amal kebaikan, mereka lebih suka menyembunyikannya. Namun jika mereka melihat ada orang yang meniru keburukan, mereka akan menegurnya dengan tegas." Ini menunjukkan keseimbangan antara menjaga keikhlasan dan tetap menyampaikan kebaikan untuk kemaslahatan umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar dalam ujian dan perjuangan — Para sahabat menghadapi kesulitan fisik yang luar biasa namun tetap istiqamah. Kita pun harus sabar dalam menghadapi ujian hidup, sekecil apa pun.
  2. Menjaga keikhlasan dalam beramal — Sebagaimana Abu Musa yang khawatir jika amalnya diketahui orang akan mengurangi keikhlasan, kita pun harus selalu memperbarui niat dan berhati-hati dari riya'.
  3. Boleh menceritakan perjuangan untuk edukasi — Selama niatnya ikhlas untuk memotivasi umat dan bukan untuk pamer, menceritakan kisah perjuangan adalah hal yang baik dan bermanfaat.
  4. Yakinlah bahwa Allah akan membalas setiap pengorbanan — Sebagaimana tambahan dalam hadits "Wallahu yajzi bihi", Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya yang ikhlas.
  5. Bersyukur atas kemudahan yang kita miliki — Kita yang hidup dengan fasilitas serba ada seharusnya semakin semangat dalam beribadah dan berjuang, karena para sahabat berjuang dengan kondisi yang jauh lebih sulit.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?