Penjelasan Hadits Muslim No. 1815 tentang Jumlah ekspedisi militer yang diikuti Nabi dan sahabat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah berita berharga dari Sahabat Salama bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu tentang keikutsertaan beliau dalam berbagai peperangan di zaman Nabi ﷺ. Ini menunjukkan keutamaan para sahabat yang berjuang di jalan Allah, serta gambaran nyata bahwa jihad dan pengorbanan harta serta jiwa adalah bagian penting dari kehidupan generasi terbaik umat ini. Hadits ini juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya memimpin langsung pasukan, tetapi juga mengirim para sahabat untuk memimpin ekspedisi militer.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Jumlah Ekspedisi Nabi ﷺ, no. 1815. Teks haditsnya adalah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، حَدَّثَنَا حَاتِمٌ - يَعْنِي ابْنَ إِسْمَاعِيلَ - عَنْ يَزِيدَ - وَهُوَ ابْنُ أَبِي عُبَيْدٍ - قَالَ سَمِعْتُ سَلَمَةَ يَقُولُ: غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ سَبْعَ غَزَوَاتٍ وَخَرَجْتُ فِيمَا يَبْعَثُ مِنَ الْبُعُوثِ تِسْعَ غَزَوَاتٍ، مَرَّةً عَلَيْنَا أَبُو بَكْرٍ وَمَرَّةً عَلَيْنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ

Artinya: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ sebanyak tujuh kali peperangan, dan aku juga keluar pada pasukan yang beliau kirim sebanyak sembilan kali ekspedisi. Suatu kali pasukan kami dipimpin oleh Abu Bakr, dan kali lain dipimpin oleh Usamah bin Zaid."

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ" adalah ikut serta dalam peperangan yang Nabi ﷺ hadiri langsung, sedangkan "فِيمَا يَبْعَثُ مِنَ الْبُعُوثِ" adalah ekspedisi yang beliau kirim tanpa kehadiran beliau secara langsung. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang memimpin langsung, dan terkadang mengangkat panglima dari kalangan sahabatnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keutamaan Salama bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat yang dikenal pemberani dan ahli perang. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan banyak keutamaan beliau. Dalam hadits ini, beliau menyebutkan bahwa beliau ikut dalam tujuh peperangan bersama Nabi ﷺ dan sembilan ekspedisi yang dikirim. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah salah satu sahabat yang sangat bersemangat dalam berjihad.

Kedua: Bentuk kepemimpinan Nabi ﷺ dalam peperangan. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang memimpin langsung pasukan, dan terkadang mengangkat panglima dari kalangan sahabat untuk memimpin ekspedisi. Hal ini menunjukkan kebijaksanaan beliau dalam mengatur strategi perang dan memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk memimpin.

Ketiga: Jihad adalah ibadah yang dicintai Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa jihad adalah puncak keislaman, dan para sahabat sangat antusias untuk ikut serta. Mereka tidak merasa lelah atau bosan, bahkan Salama menyebutkan jumlahnya dengan bangga karena itu adalah amal yang dicintai Allah.

Keempat: Keberanian dan pengorbanan para sahabat. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memuji orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa mereka. Para sahabat adalah teladan dalam hal ini, mereka tidak pernah ragu untuk berkorban demi agama Allah.

Kelima: Pelajaran tentang kepemimpinan. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Abu Bakr dan Usamah bin Zaid pernah menjadi panglima. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam diberikan berdasarkan kemampuan dan kepercayaan, bukan berdasarkan usia atau status sosial. Usamah bin Zaid yang masih muda dipercaya memimpin pasukan, sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengangkatnya sebagai panglima pasukan yang akan dikirim ke Syam.

Story Telling

Salama bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang terkenal dengan keberaniannya. Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan kisah beliau saat Perang Khaibar. Ketika pasukan Muslimin mengepung benteng Khaibar, Salama menunjukkan keberanian luar biasa. Beliau bertarung sendirian melawan beberapa orang Yahudi, dan salah seorang dari mereka sempat melukai beliau. Namun Salama tetap tegar dan berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mundur sampai aku bisa membalas atau mati." Akhirnya beliau berhasil mengalahkan lawannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa semangat jihad yang tertanam dalam hati para sahabat bukanlah karena dorongan dunia, tetapi karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi meninggikan kalimat Allah. Inilah pelajaran berharga bagi kita, bahwa keimanan yang benar akan melahirkan keberanian dan pengorbanan yang tulus.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani semangat para sahabat dalam berjuang dan berkorban untuk agama Allah sesuai kemampuan kita masing-masing.
  2. Menghargai peran pemimpin dan siap dipimpin oleh siapa pun yang dipercaya, selama mereka menjalankan syariat.
  3. Tidak bosan dalam beramal shalih, sebagaimana Salama yang tidak bosan ikut berperang berkali-kali.
  4. Memahami bahwa jihad tidak hanya perang fisik, tetapi juga perjuangan melawan hawa nafsu, setan, dan berjuang dalam kebaikan sesuai tuntunan syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?