Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memimpin atau mengutus pasukan dalam sembilan belas peperangan (ghazwah), namun beliau secara langsung ikut serta bertempur hanya dalam delapan di antaranya. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi ﷺ tidak selalu berarti beliau harus hadir di setiap medan perang, tetapi beliau mengatur strategi dan mengutus para sahabat untuk tugas-tugas tertentu. Ini adalah bagian dari sirah (perjalanan hidup) Nabi ﷺ yang perlu kita pahami dengan benar agar tidak keliru dalam memahami sejarah perjuangan beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Perang, Bab Jumlah Perang yang Dilakukan oleh Nabi, nomor 1814. Perawinya adalah Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia.
Teks hadits yang disebutkan dalam soal adalah sebagai berikut:
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، ح وَحَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تُمَيْلَةَ، قَالاَ جَمِيعًا حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: غَزَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً قَاتَلَ فِي ثَمَانٍ مِنْهُنَّ
Artinya: "Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulullah ﷺ melakukan sembilan belas peperangan (ghazwah), dan beliau benar-benar bertempur dalam delapan di antaranya.'"
Dalam riwayat lain yang juga disebutkan oleh Imam Muslim, terdapat tambahan bahwa Nabi ﷺ berperang dalam delapan peperangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah pasti peperangan Nabi ﷺ, namun hadits ini adalah salah satu riwayat yang sahih.
Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ghazwah" adalah peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi ﷺ, sedangkan "sariyyah" adalah pasukan yang diutus tanpa kehadiran beliau. Dalam hadits ini, Buraidah menyebutkan sembilan belas ghazwah, namun sebagian riwayat lain menyebutkan jumlah yang berbeda, seperti dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan cara menghitung: apakah termasuk sariyyah atau tidak.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa peperangan Nabi ﷺ terbagi menjadi dua jenis:
- Ghazwah — peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi ﷺ.
- Sariyyah — pasukan yang diutus oleh Nabi ﷺ tanpa kehadiran beliau secara langsung.
Dalam hadits Buraidah ini, beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukan sembilan belas ghazwah, dan beliau benar-benar bertempur dalam delapan di antaranya. Ini berarti dalam sebelas ghazwah lainnya, Nabi ﷺ hadir tetapi tidak terjadi pertempuran sengit — mungkin karena perjanjian damai, atau pasukan musuh mundur tanpa perlawanan berarti.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa jumlah ghazwah yang masyhur menurut mayoritas ulama adalah dua puluh tujuh. Namun, beliau juga menjelaskan bahwa perbedaan ini terjadi karena sebagian ulama menghitung ghazwah yang tidak terjadi pertempuran di dalamnya, sementara sebagian lainnya hanya menghitung yang terjadi pertempuran.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya tentang sirah Nabawiyah menyebutkan bahwa peperangan Nabi ﷺ adalah bagian dari dakwah Islam — bukan untuk mencari kekuasaan atau kekayaan, tetapi untuk membela agama Allah dan melindungi kaum muslimin dari kezaliman. Beliau juga menekankan bahwa Nabi ﷺ selalu mengutamakan perdamaian, dan peperangan hanya dilakukan ketika tidak ada pilihan lain.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kaum muslimin untuk berperang di jalan Allah, tetapi dengan syarat-syarat yang ketat — tidak boleh melampaui batas, tidak boleh membunuh non-kombatan, dan harus mengutamakan dakwah terlebih dahulu.
Penting untuk dipahami bahwa jumlah peperangan Nabi ﷺ bukanlah tujuan utama dari hadits ini. Tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa perjuangan Islam membutuhkan pengorbanan dan kesiapan untuk berperang di jalan Allah ketika diperlukan. Namun, Islam juga mengajarkan perdamaian dan kasih sayang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ kembali dari perang yang melelahkan, beliau bersabda kepada para sahabatnya: "Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jihad yang lebih besar itu?" Beliau menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq, dan diriwayatkan oleh para ulama hadits lainnya).
Meskipun hadits ini memiliki kelemahan dalam sanadnya menurut sebagian ulama seperti Syaikh Al-Albani, namun maknanya benar dan didukung oleh banyak dalil lain. Ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan musuh di medan perang hanyalah salah satu bentuk jihad. Jihad yang lebih besar dan lebih berkelanjutan adalah melawan hawa nafsu dan bisikan setan dalam diri kita sendiri.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa setelah Nabi ﷺ dan para sahabat berjuang di medan perang dengan pengorbanan yang luar biasa, mereka tetap diingatkan bahwa perjuangan terbesar adalah menjaga keikhlasan dan ketakwaan dalam hati.
Kesimpulan Praktis
- Memahami sejarah perjuangan Nabi ﷺ — Peperangan Nabi ﷺ adalah bagian dari dakwah Islam, bukan untuk kepentingan duniawi.
- Meneladani kepemimpinan Nabi ﷺ — Beliau tidak selalu hadir di setiap medan perang, tetapi mengatur strategi dan mengutus orang yang tepat untuk tugas yang tepat.
- Mengutamakan perdamaian — Islam tidak mengajarkan perang sebagai tujuan, tetapi sebagai jalan terakhir untuk membela kebenaran.
- Jihad yang lebih besar — Perjuangan melawan hawa nafsu dan mempertahankan keikhlasan adalah jihad yang berkelanjutan sepanjang hidup.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.