Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar tentang melihat Allah ﷻ di akhirat bagi orang-orang beriman. Ini adalah kenikmatan tertinggi yang melebihi segala kenikmatan surga lainnya. Hadits ini menegaskan bahwa Allah ﷻ akan menyingkap hijab (tabir) dan orang-orang mukmin akan diberi karunia terbesar, yaitu memandang wajah Allah Yang Maha Mulia, sebagai puncak kebahagiaan di surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Itsbatu Ru'yatil Mu'minina Rabbahum fil Akhirah" (Menetapkan Pandangan Orang-orang Beriman kepada Tuhan mereka di Akhirat), no. 181, dari sahabat Shuhaib bin Sinan ar-Rumi radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Mendukung:
Allah ﷻ berfirman:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
QS. Yunus [10]: 26
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu melihat wajah Allah)."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa "az-Ziyadah" (tambahan) dalam ayat ini adalah melihat wajah Allah ﷻ di akhirat, sebagaimana ditafsirkan oleh para sahabat seperti Ubay bin Ka'ab dan Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhuma. Beliau menukil perkataan Mujahid dan Qatadah yang juga menafsirkan demikian.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam besar menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat tegas tentang ditetapkannya ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat.
1. Makna "Apa yang lebih?" (أَزِيدُكُمْ)
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa pertanyaan Allah ﷻ ini adalah bentuk kemuliaan dan kelembutan Allah kepada penghuni surga. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan kepada mereka sesuatu yang belum pernah terlintas di benak mereka, yaitu kenikmatan yang paling agung.
2. Jawaban Ahli Surga
Jawaban mereka, "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" menunjukkan bahwa mereka merasa telah mendapatkan segala sesuatu. Mereka tidak meminta tambahan karena mereka belum mengetahui bahwa ada kenikmatan yang jauh lebih besar dari semua yang mereka rasakan.
3. Penyingkapan Hijab
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ketika Allah menyingkap hijab, maka saat itulah mereka melihat Allah ﷻ. Dan ini adalah kenikmatan yang paling mereka cintai, melebihi segala kenikmatan surga yang telah mereka rasakan.
4. Puncak Kenikmatan Surga
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah menegaskan bahwa melihat wajah Allah ﷻ adalah kenikmatan terbesar di surga. Beliau menyebutkan bahwa seluruh kenikmatan surga lainnya hanyalah kenikmatan bagi jasad, sedangkan melihat Allah adalah kenikmatan bagi hati dan ruh yang menjadi puncak segala kelezatan.
5. Penafsiran Ayat "Wujuhun Yauma-idzin Nadhirah"
Allah ﷻ berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil ijma' (kesepakatan) para ulama salaf bahwa ayat ini menetapkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ﷻ di akhirat dengan mata kepala mereka secara langsung.
6. Peringatan dari Penafsiran Menyimpang
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dengan tegas membantah kelompok Mu'tazilah dan Jahmiyyah yang mengingkari ru'yatullah. Beliau berkata: "Kami beriman kepada hadits-hadits ru'yatullah sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan bagaimana (kaifiyah)-nya." Ini adalah manhaj Ahlus Sunnah: menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya oleh seorang pengikut Mu'tazilah tentang ru'yatullah. Maka beliau berkata: "Apakah kamu tidak melihat bahwa apabila malam telah tiba dan langit cerah, kamu dapat melihat bulan dengan jelas tanpa ada keraguan?" Orang itu menjawab: "Ya, aku melihatnya." Imam Abu Hanifah berkata: "Maka ketahuilah bahwa Allah ﷻ pada hari kiamat akan lebih jelas terlihat oleh orang-orang beriman daripada bulan purnama di malam yang cerah."
Kisah ini menunjukkan keyakinan Ahlus Sunnah yang kokoh bahwa melihat Allah adalah perkara yang pasti terjadi, dan ini adalah kabar gembira yang dinanti-nantikan oleh setiap mukmin.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah dengan sepenuh hati bahwa melihat Allah ﷻ di akhirat adalah kenikmatan terbesar yang akan Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman.
- Jangan menanyakan "bagaimana" bentuknya karena Allah ﷻ tidak menyerupai makhluk-Nya sedikit pun. Kita tetapkan sebagaimana adanya tanpa ta'thil (menolak) dan tanpa tamtsil (menyerupakan).
- Jadikan kerinduan untuk melihat Allah sebagai motivasi untuk memperbaiki ibadah dan ketaatan, karena hanya orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang akan mendapatkan karunia ini.
- Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang masalah ini, dan ikutilah pemahaman para sahabat dan tabi'in yang menerima nash-nash ini dengan penuh keimanan.
- Perbanyak doa agar Allah menganugerahkan kita kenikmatan melihat wajah-Nya yang mulia di surga kelak, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.