Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang kenikmatan tertinggi di Surga, yaitu melihat Allah ﷻ dengan mata kepala sendiri oleh penduduk Surga. Hadits ini juga menyebutkan dua jenis taman Surga: dua taman yang bejana dan isinya dari perak, serta dua taman yang bejana dan isinya dari emas. Penghalang terakhir antara penduduk Surga dan melihat Tuhannya hanyalah "jubah Kebesaran" (ridā' al-kibriyā') di wajah Allah, yang akan disingkapkan sebagai karunia terbesar bagi mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)
Ayat ini adalah dalil terkuat bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab "Itsbāt Ru'yat al-Mu'minīn Rabbahum fī al-Ākhirah" (Bab Menetapkan Pandangan Orang-orang Beriman kepada Tuhan mereka di Akhirat), no. 180. Perawinya adalah Abu Bakr bin Abdullah bin Qais dari ayahnya, yaitu Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil Ahlus Sunnah dalam menetapkan ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat. Beliau menegaskan bahwa ini adalah keyakinan yang disepakati oleh para sahabat, tabi'in, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari) juga membahas hadits-hadits tentang ru'yatullah dan menegaskan bahwa pandangan Ahlus Sunnah adalah menetapkannya tanpa menanyakan "bagaimana" (bi lā kayf).
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Penetapan Ru'yatullah (Melihat Allah) di Akhirat
Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah sepakat bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat. Ini berbeda dengan keyakinan Mu'tazilah dan Khawarij yang mengingkarinya.
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Hādī al-Arwāh menjelaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan terbesar di Surga, melebihi segala kenikmatan lainnya. Beliau menyebutkan bahwa penduduk Surga bisa saja bosan dengan makanan dan minuman, tetapi tidak akan pernah bosan melihat wajah Allah ﷻ.
2. Dua Taman Perak dan Dua Taman Emas
Para ulama menjelaskan bahwa dua taman yang disebutkan dalam hadits ini adalah:
- Dua taman pertama (dari perak) adalah Surga yang lebih rendah derajatnya, diperuntukkan bagi golongan kanan (ash-habul yamin).
- Dua taman kedua (dari emas) adalah Surga yang lebih tinggi, diperuntukkan bagi orang-orang yang dekat dengan Allah (al-muqarrabun).
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim saat menafsirkan QS. Ar-Rahman [55]: 62 yang berbunyi:
وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
"Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi."
Beliau menjelaskan bahwa dua surga yang pertama (dalam ayat 46-60) adalah untuk al-muqarrabin, dan dua surga yang kedua (ayat 62-76) adalah untuk ash-habul yamin. Ini bersesuaian dengan hadits di atas bahwa ada dua taman dari perak dan dua taman dari emas.
3. Makna "Jubah Kebesaran" (Ridā' al-Kibriyā')
Ungkapan "ridā' al-kibriyā'" adalah metafora yang menunjukkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat al-Kibriyā' (Kebesaran) yang sempurna. Ini bukan berarti Allah memiliki jubah fisik, karena Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.
Imam Ibnu Taymiyyah dalam Majmū' al-Fatāwā menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa penghalang terakhir antara penduduk Surga dan melihat Allah adalah "jubah kebesaran" yang akan disingkapkan. Ini adalah kenikmatan yang paling agung, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia.
4. Kedudukan Hadits Ini dalam Aqidah
Imam al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah menyebutkan bahwa di antara prinsip Ahlus Sunnah adalah mengimani ru'yatullah di akhirat tanpa menanyakan bagaimana caranya. Beliau berkata: "Dan melihat Allah adalah haq (benar), tanpa dibatasi oleh tempat dan tanpa menanyakan bagaimana."
Imam al-Ajurri dalam asy-Syarī'ah juga menegaskan bahwa Ahlus Sunnah mengimani hadits-hadits tentang ru'yatullah sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta'thil (menolak), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, termasuk hadits tentang melihat Allah. Beliau menjawab: "Kami mengimaninya dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa makna yang menyimpang."
Beliau juga pernah berkata: "Kami beriman kepada hadits-hadits ini dan membenarkannya. Tidak ada satu pun dari kami yang menanyakan 'bagaimana'. Karena itu adalah sifat-sifat Allah yang tidak diketahui hakikatnya oleh seorang pun."
Kisah lain, Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang istiwa' Allah di atas 'Arsy, beliau menjawab: "Al-istiwa' (bersemayam) itu diketahui maknanya, cara (bagaimana)-nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini menunjukkan metode salaf dalam menghadapi ayat-ayat dan hadits-hadits sifat: menetapkan makna yang benar, menyerahkan hakikatnya kepada Allah, dan tidak menanyakan "bagaimana".
Kesimpulan Praktis
- Imani dengan yakin bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat sebagai kenikmatan terbesar di Surga.
- Jangan menanyakan "bagaimana" cara melihat Allah, karena itu di luar jangkauan akal manusia dan tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya.
- Amalkan ibadah dengan ikhlas agar termasuk golongan yang berhak mendapatkan kenikmatan melihat Allah.
- Jauhi perdebatan tentang sifat-sifat Allah yang tidak bermanfaat, dan ikuti manhaj salaf: itsbat (menetapkan) tanpa takyif (menanyakan bagaimana).
- Perbanyak doa memohon Surga dan kenikmatan melihat wajah Allah ﷻ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.