Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan akhlak agung Nabi ﷺ yang tetap bersabar dan berlapang dada meskipun diejek dan dihina oleh Abdullah bin Ubayy, tokoh munafik. Kisah ini juga menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) QS. Al-Hujurat [49]: 9 tentang perintah mendamaikan dua kelompok mukmin yang bertikai. Pelajaran utamanya adalah kesabaran Nabi ﷺ, adab dalam menghadapi gangguan, dan pentingnya menjaga persatuan umat.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an (Asbabun Nuzul):
Allah ﷻ berfirman:
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
(QS. Al-Hujurat [49]: 9)
Terjemahan: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
2. Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Perang, Bab Doa Nabi ﷺ kepada Allah dan Kesabarannya atas Gangguan Para Munafik, nomor 1799, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kesabaran Nabi ﷺ yang luar biasa, dan bahwa beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa ayat 49:9 turun berkenaan dengan peristiwa ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan peristiwa yang terjadi di Madinah. Abdullah bin Ubayy bin Salul adalah tokoh munafik yang selalu berusaha melemahkan kaum Muslimin. Ketika dikatakan kepada Nabi ﷺ untuk mendatangi Abdullah bin Ubayy, beliau dengan kerendahan hati dan kelembutan akhlak mau menemuinya.
Saat Nabi ﷺ tiba dengan menunggang keledai, Abdullah bin Ubayy berkata dengan kasar: "Menjauhlah dariku! Demi Allah, bau keledaimu telah menggangguku." Ini adalah penghinaan yang sangat menyakitkan. Namun, Nabi ﷺ tidak marah atau membalas.
Seorang sahabat Anshar membela Nabi ﷺ dengan berkata: "Demi Allah, bau keledai Rasulullah ﷺ lebih harum daripada dirimu." Maka terjadilah perkelahian antara pengikut Abdullah bin Ubayy dan para sahabat yang membela Nabi ﷺ. Mereka saling pukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal.
Pelajaran dari para ulama:
- Kesabaran Nabi ﷺ: Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa sabarnya Nabi ﷺ dalam menghadapi gangguan. Beliau tidak membalas hinaan, tidak marah, dan tidak memerintahkan hukuman kepada orang yang menghinanya. Ini adalah teladan agung dalam berakhlak.
- Adab Membela Nabi ﷺ: Sahabat Anshar yang membela Nabi ﷺ menunjukkan bahwa membela kehormatan Rasulullah ﷺ adalah kewajiban setiap muslim. Namun, cara pembelaannya pun harus dengan hikmah dan tidak berlebihan.
- Hikmah Turunnya Ayat: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk mengajarkan umat Islam agar selalu mendamaikan perselisihan di antara sesama mukmin. Meskipun yang bertikai adalah orang-orang yang beriman, tetap saja mereka diperintahkan untuk didamaikan dengan adil.
- Menjaga Persatuan: Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk selalu menjaga persatuan umat dan segera mendamaikan ketika terjadi perselisihan, karena perpecahan adalah pintu kehancuran.
- Sikap terhadap Munafik: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memperlakukan orang munafik dengan lembut dan tidak menghukum mereka selama tidak menampakkan kekufuran secara terang-terangan. Ini adalah kebijaksanaan politik dan dakwah yang agung.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Nabi ﷺ tetap tidak membalas keburukan Abdullah bin Ubayy. Bahkan ketika Abdullah bin Ubayy wafat, Nabi ﷺ tetap mau menshalatkan jenazahnya, meskipun kemudian Allah ﷻ menurunkan larangan untuk memintakan ampunan bagi orang-orang munafik (QS. At-Taubah [9]: 84).
Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Nabi ﷺ ketika beliau hendak menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubayy: "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkan jenazah orang munafik ini?" Namun Nabi ﷺ menjawab dengan lembut: "Aku telah diberi pilihan oleh Allah, maka aku memilih (untuk menshalatkannya)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru membalas dengan kebaikan dan memaafkan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi gangguan dan hinaan orang lain. Jangan mudah marah dan membalas keburukan dengan keburukan.
- Jaga lisan dan sikap ketika membela kehormatan Nabi ﷺ atau ulama. Gunakan cara yang baik dan bijaksana.
- Segera damaikan perselisihan di antara sesama muslim. Jangan biarkan perpecahan berlarut-larut.
- Berlaku adil dalam mendamaikan dua pihak yang bertikai, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 9.
- Jangan menghina orang lain, meskipun orang tersebut telah menghina kita. Karena menghina adalah perbuatan tercela dan dapat memicu perpecahan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.