Penjelasan Hadits Muslim No. 1797 tentang Keterlambatan Jibril dan tuduhan musyrikin terhadap Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika wahyu sempat terhenti (Jibril tidak segera datang), orang-orang musyrik Mekkah mengejek Nabi ﷺ dengan tuduhan bahwa beliau telah "ditinggalkan" oleh Tuhannya. Allah ﷻ kemudian menurunkan awal Surah Adh-Dhuha sebagai penghiburan dan bantahan atas tuduhan mereka. Pelajaran utamanya: keterlambatan bukan berarti ditinggalkan, dan Allah selalu menjaga hamba-Nya yang beriman.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Adh-Dhuha [93]: 1–3

وَالضُّحَىٰ

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Terjemahan ringkas: "Demi waktu pagi (dhuha), dan demi malam ketika telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Perang, Bab Apa yang Dihadapi Nabi ﷺ dari Gangguan Para Musyrikin dan Munafikin (no. 1797). Perawinya adalah sahabat Jundub bin Abdullah al-Bajali, melalui jalur Aswad bin Qais, dari Sufyan (ats-Tsauri), dari Ishaq bin Ibrahim.

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam Muslim bin al-Hajjaj — penyusun Shahih Muslim.
  • Sufyan ats-Tsauri — perawi dalam sanad ini, seorang Tabi'ut Tabi'in yang terpercaya.
  • Ibnu Katsir — menjelaskan sebab turunnya Surah Adh-Dhuha dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah — membahas hikmah di balik keterlambatan wahyu dalam Zad al-Ma'ad dan Ighatsat al-Lahfan.
  • Imam an-Nawawi — mensyarah hadits ini dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Latar belakang peristiwa:

Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa wahyu pernah terhenti beberapa waktu dari Nabi ﷺ. Dalam riwayat lain yang shahih, terhentinya wahyu ini terjadi setelah turunnya beberapa ayat, dan Nabi ﷺ sangat bersedih karenanya. Orang-orang musyrik Mekkah — yang selalu mencari celah untuk mencela — lalu menyebarkan tuduhan: "Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya, tidak ada lagi wahyu yang datang kepadanya."

Makna ayat:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah ﷻ menjawab tuduhan itu dengan sumpah: "Demi waktu dhuha" — yaitu waktu pagi ketika matahari mulai naik, simbol cahaya dan harapan; "dan demi malam ketika sunyi" — simbol ketenangan. Kemudian Allah menegaskan: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu." Artinya, keterlambatan Jibril bukan tanda Allah menjauh, melainkan bagian dari hikmah dan ujian.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa keterlambatan wahyu mengandung hikmah: menguatkan kerinduan Nabi ﷺ kepada wahyu, menguji kesabaran beliau, dan menjadi sarana turunnya penghiburan yang lebih indah — yaitu Allah sendiri yang berbicara membela Nabi-Nya.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa beratnya gangguan psikologis yang dialami Nabi ﷺ dari kaum musyrikin, namun Allah selalu membela dan menghibur beliau. Ini juga menjadi dalil bahwa seorang dai dan orang beriman akan menghadapi celaan, dan hendaknya bersabar karena pertolongan Allah pasti datang.

Sufyan ats-Tsauri, yang menjadi perawi dalam sanad ini, dikenal sebagai ulama yang sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Keberadaannya dalam sanad ini menunjukkan keotentikan riwayat.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang berapa lama wahyu terhenti. Namun inti peristiwanya disepakati: wahyu pernah terhenti, musyrikin mengejek, lalu turun Surah Adh-Dhuha sebagai penghiburan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa ini nyata terjadi dan menjadi sebab turunnya awal Surah Adh-Dhuha, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dan an-Nawawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika wahyu terhenti, Nabi ﷺ merasakan kesedihan yang mendalam. Beliau menunggu dengan penuh harap kedatangan Jibril. Hari demi hari berlalu, dan orang-orang musyrik semakin lantang mengejek: "Tuhannya sudah meninggalkannya!"

Bayangkan keadaan Nabi ﷺ saat itu — beliau yang selalu mendapat wahyu, tiba-tiba langit terasa diam. Namun justru di saat paling gelap itulah turun cahaya paling terang: Allah ﷻ bersumpah demi waktu dhuha dan malam yang sunyi, lalu berfirman dengan lembut: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ayat-ayat setelahnya dalam Surah Adh-Dhuha berisi janji-janji indah: "Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas" (QS. Adh-Dhuha [93]: 5). Ini menunjukkan bahwa setelah kesulitan selalu ada kemudahan, dan Allah tidak pernah melupakan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Keterlambatan bukan tanda ditinggalkan. Ketika doa belum dikabulkan atau pertolongan terasa lambat, jangan berburuk sangka kepada Allah. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
  2. Hadapi celaan dengan sabar. Nabi ﷺ dicela oleh musyrikin, namun beliau tidak membalas dengan kebencian. Kita pun hendaknya bersabar menghadapi ejekan dalam berdakwah dan beribadah.
  3. Yakinlah Allah membela hamba-Nya. Sebagaimana Allah membela Nabi ﷺ dengan menurunkan ayat, Allah juga akan membela orang beriman yang sabar dan taat.
  4. Perbanyak membaca Surah Adh-Dhuha dan renungkan maknanya, terutama saat merasa sedih atau lemah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?