Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung tentang akhlak mulia para Nabi, khususnya tentang sifat pemaaf dan kasih sayang yang luar biasa kepada kaum yang menyakiti mereka. Rasulullah ﷺ menceritakan kisah seorang Nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, namun yang keluar dari lisannya bukanlah doa keburukan, melainkan doa ampunan dan alasan yang penuh hikmah: "Ya Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Ini adalah pelajaran tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap ketika disakiti, yaitu dengan tetap berprasangka baik, mendoakan kebaikan, dan menyerahkan urusan kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Ghazwah Uhud, no. 1792, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Lafadznya sebagaimana yang Anda sebutkan.
Dalil Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang sifat pemaaf dan doa para Nabi:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat [41]: 34)
Ayat ini menunjukkan perintah untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, yang merupakan inti dari doa Nabi dalam hadits ini.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Al-Jihad, Bab Ghazwah Uhud) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang bolehnya menceritakan kisah para Nabi sebelumnya untuk diambil pelajaran, dan juga dalil tentang keutamaan memaafkan dan mendoakan orang yang berbuat zalim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin juga menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan adab yang sangat tinggi, yaitu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan doa kebaikan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Kisah Nabi yang Dipukuli Kaumnya:
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa Nabi yang dimaksud. Sebagian ulama, seperti yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menyebutkan bahwa kisah ini diriwayatkan dalam riwayat lain bahwa yang dimaksud adalah Nabi yang diutus kepada kaumnya, dan sebagian riwayat menyebutkan bahwa ini adalah kisah Nabi Isa 'alaihis salam ketika kaumnya hendak membunuhnya, namun Allah menyelamatkannya. Namun, yang terkuat adalah bahwa ini adalah kisah seorang Nabi dari Bani Israil yang didustakan dan disakiti oleh kaumnya. Yang terpenting adalah pelajaran dari kisah ini, bukan siapa persisnya Nabi tersebut.
- Sikap Nabi yang Terpuji:
Yang paling menakjubkan adalah reaksi Nabi tersebut. Ketika darah mengalir dari wajahnya, beliau tidak mengutuk kaumnya, tidak mendoakan kebinasaan, dan tidak meminta bala. Sebaliknya, beliau mengusap darahnya dan berdoa, "Rabbi ighfir li qaumi fa innahum la ya'lamun" (Ya Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui). Ini menunjukkan bahwa kemarahan beliau tidak menguasai dirinya. Yang ada di hatinya hanyalah kasih sayang dan harapan agar kaumnya mendapat hidayah.
- Makna "Mereka Tidak Mengetahui":
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna "mereka tidak mengetahui" adalah mereka tidak mengetahui kebenaran dan tidak menyadari akibat dari perbuatan mereka. Ini adalah bentuk udzur (alasan) yang diberikan oleh Nabi tersebut untuk kaumnya. Beliau tidak berkata "mereka bodoh" dengan nada menghina, tetapi beliau menyebutkan keadaan mereka sebagai alasan untuk memohonkan ampunan. Ini adalah puncak dari akhlak yang mulia.
- Pelajaran untuk Umat:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa seringkali menyebutkan bahwa meneladani akhlak para Nabi adalah bagian dari kesempurnaan iman. Jika seorang Nabi yang disakiti secara fisik saja masih mendoakan kebaikan, maka seorang mukmin yang disakiti dengan perkataan atau perbuatan yang lebih ringan seharusnya lebih utama untuk bersabar dan memaafkan. Ini bukan berarti kita tidak boleh membela diri, tetapi dalam urusan pribadi, memaafkan lebih utama.
- Doa yang Diajarkan:
Hadits ini juga mengajarkan sebuah doa yang sangat agung untuk dipanjatkan ketika kita disakiti oleh orang lain, terutama oleh orang-orang yang dekat dengan kita: "Ya Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Doa ini adalah doa yang penuh dengan rahmat dan harapan akan hidayah bagi pelaku kezaliman.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Perang Uhud, Rasulullah ﷺ terluka dan wajah beliau berdarah. Para sahabat sangat marah dan berkata, "Mengapa engkau tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai pelaknat." Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah).
Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak hanya menceritakan kisah Nabi sebelumnya, tetapi beliau sendiri mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Ketika beliau sendiri terluka, doa yang keluar dari lisan beliau adalah doa kebaikan untuk kaumnya. Ini adalah bukti bahwa akhlak para Nabi adalah satu, yaitu akhlak yang penuh kasih sayang dan pemaaf.
Kesimpulan Praktis
- Teladani Akhlak Para Nabi: Jadikan kisah ini sebagai pelajaran untuk tidak mudah membalas kejahatan dengan kejahatan, terutama dalam urusan pribadi.
- Perbanyak Doa Kebaikan: Ketika disakiti, biasakan untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti, seperti yang dicontohkan dalam hadits ini.
- Berprasangka Baik: Anggaplah bahwa orang yang menyakiti kita mungkin tidak mengetahui akibat dari perbuatannya, sehingga kita bisa lebih mudah memaafkan.
- Jaga Lisan: Hindari mengucapkan kata-kata kotor atau doa buruk ketika marah. Gantilah dengan doa yang bermanfaat.
- Amalkan Doa Ini: Hafalkan dan amalkan doa "Rabbi ighfir li qaumi fa innahum la ya'lamun" dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.