Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan momen bersejarah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat merasa sedih dan kecewa karena tidak jadi masuk Mekkah untuk umrah, namun justru di saat itulah turun Surah Al-Fath yang memberitakan "kemenangan yang nyata". Nabi ﷺ bersabda bahwa ayat ini lebih beliau cintai daripada dunia seluruhnya. Ini mengajarkan bahwa kemenangan hakiki bukanlah yang tampak oleh mata, melainkan apa yang Allah tetapkan, dan bahwa di balik kesulitan dan pengorbanan, ada kebaikan besar yang tersembunyi.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَٰطًا مُّسْتَقِيمًا وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
(QS. Al-Fath [48]: 1-4)
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Hadits:
Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Perjanjian Hudaibiyah, no. 1786, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "fathan mubina" (kemenangan yang nyata) adalah Perjanjian Hudaibiyah itu sendiri, karena dengan perjanjian tersebut umat Islam mendapatkan keamanan dan kesempatan untuk berdakwah secara luas.
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil perkataan para ulama bahwa kemenangan Hudaibiyah adalah pembuka bagi Fathu Makkah (penaklukan Mekkah) di tahun berikutnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa kemenangan ini mencakup kemenangan dunia dan akhirat, serta menjadi sebab turunnya ampunan dan kesempurnaan nikmat bagi Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan suasana psikologis para sahabat saat kembali dari Hudaibiyah. Mereka merasa sedih dan kecewa karena terhadap dari memasuki Mekkah untuk melaksanakan umrah, padahal mereka sudah bersusah payah dan berniat untuk itu. Bahkan, mereka telah menyembelih hewan hadyu (kurban) di Hudaibiyah sebagai tanda kesiapan beribadah.
Namun, Allah ﷻ menurunkan Surah Al-Fath yang justru menyebut peristiwa itu sebagai "kemenangan yang nyata". Ini adalah pelajaran besar: ukuran kemenangan bukanlah standar manusia, melainkan standar Allah.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan dengan panjang lebar bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah salah satu bukti kebijaksanaan Nabi ﷺ dan merupakan kemenangan besar karena:
- Pengakuan politik: Suku Quraisy untuk pertama kalinya mengakui eksistensi negara Islam Madinah melalui perjanjian tertulis.
- Kebebasan dakwah: Setelah perjanjian, banyak orang Quraisy yang masuk Islam karena interaksi yang lebih terbuka dengan kaum muslimin.
- Persiapan Fathu Makkah: Perjanjian ini menjadi jalan bagi pembebasan Mekkah dua tahun kemudian.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 4832) bahwa sahabat Jabir bin Abdullah berkata, "Kami tidak menganggap penaklukan (Fathu Makkah) kecuali pada hari Hudaibiyah." Ini menunjukkan pemahaman para sahabat bahwa Hudaibiyah adalah kemenangan sejati.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menekankan bahwa kesedihan para sahabat adalah hal yang manusiawi, namun mereka tetap taat dan menerima keputusan Nabi ﷺ. Ini adalah adab seorang mukmin: tetap berprasangka baik kepada Allah dan Rasul-Nya meskipun tidak memahami hikmah di balik suatu ketetapan.
Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam penjelasannya tentang akidah menegaskan bahwa keyakinan akan takdir Allah yang baik dan buruk adalah bagian dari iman. Kesedihan yang dirasakan para sahabat tidak mengurangi keimanan mereka, tetapi mereka tetap ridha dan menerima ketetapan Allah.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang peristiwa Hudaibiyah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 2731) dan Imam Muslim (no. 1784) dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu:
Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat dicegah memasuki Mekkah, mereka berunding. Kemudian Nabi ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menuliskan perjanjian. Di awal, beliau meminta Ali menulis "Bismillahirrahmanirrahim", tetapi utusan Quraisy, Suhail bin Amr, keberatan dan meminta ditulis "Bismika Allahumma" saja. Nabi ﷺ pun menyetujui.
Kemudian Nabi ﷺ meminta ditulis: "Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail bin Amr." Suhail kembali keberatan: "Kalau kami mengakui engkau Rasulullah, kami tidak akan memerangimu. Tulis saja: Muhammad bin Abdullah." Nabi ﷺ tetap tersenyum dan menyetujui, seraya bersabda: "Demi Allah, aku adalah Rasulullah meskipun kalian mendustakanku."
Para sahabat yang melihat ini merasa sangat berat hati, terutama Umar bin Khattab yang bertanya kepada Abu Bakar: "Bukankah dia Rasulullah?" Abu Bakar menjawab: "Benar, dia Rasulullah." Umar bertanya lagi: "Bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?" Abu Bakar menjawab: "Benar." Umar bertanya lagi: "Lalu mengapa kita memberi kemudahan dalam urusan agama kita?" Abu Bakar menjawab: "Wahai Umar, aku bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah."
Namun, setelah perjanjian selesai dan mereka kembali, turunlah Surah Al-Fath. Nabi ﷺ bersabda kepada Umar: "Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku ayat yang lebih aku cintai daripada dunia seluruhnya." Lalu beliau membacakan Surah Al-Fath.
Hikmah dari kisah ini: Terkadang yang tampak sebagai kekalahan adalah kemenangan, dan yang tampak sebagai kemenangan adalah ujian. Orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya harus yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa ketetapan Allah selalu mengandung hikmah, meskipun kita belum memahaminya saat itu.
- Jadikan kesulitan sebagai pintu kemenangan, sebagaimana Hudaibiyah menjadi pintu Fathu Makkah.
- Tetaplah taat kepada pemimpin dan ulama dalam hal yang ma'ruf, sebagaimana para sahabat taat kepada Nabi ﷺ.
- Jangan mengukur keberhasilan hanya dari hasil yang tampak, tetapi lihatlah proses, keikhlasan, dan ketetapan Allah.
- Perbanyak berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan, karena Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang beriman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.