Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1783 tentang Perjanjian Hudaibiyah dan sikap Nabi menghapus gelar Rasulullah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa penting dalam Perjanjian Hudaibiyah, di mana Nabi ﷺ menunjukkan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan prioritas pada kemaslahatan yang lebih besar. Beliau mengalah dalam hal penulisan gelar "Rasulullah" demi tercapainya perdamaian dan dibukanya peluang dakwah yang lebih luas. Hadits ini juga mengajarkan adab seorang murid (Ali bin Abi Thalib) yang sangat memuliakan Nabi ﷺ, hingga ia enggan menghapus tulisan tersebut, namun akhirnya Nabi ﷺ sendiri yang menghapusnya dengan tangan mulia beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Shulh Al-Hudaibiyah (No. 1783). Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari (No. 2731, 3181) dari jalur yang serupa.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman tentang Perjanjian Hudaibiyah:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath [48]: 1)

Ayat ini turun berkenaan dengan Perjanjian Hudaibiyah, yang oleh para ulama disebut sebagai "kemenangan yang nyata" karena membuka jalan bagi dakwah Islam yang lebih luas.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir, dan bahwa beliau lebih mengutamakan kemaslahatan besar daripada sekadar mempertahankan lafaz yang bisa menjadi penghalang.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa sikap Ali yang enggan menghapus adalah karena rasa hormatnya yang sangat tinggi kepada Nabi ﷺ, dan ini menunjukkan adab seorang sahabat kepada gurunya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran besar dari hadits ini:

1. Kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam Berdiplomasi

Nabi ﷺ adalah manusia yang paling mulia dan paling dicintai Allah. Namun, ketika menghadapi situasi di mana kaum musyrikin keberatan dengan penulisan "Rasulullah", beliau tidak memaksakan kehendak. Beliau memilih untuk menghapusnya demi tercapainya perdamaian. Ini menunjukkan bahwa dalam muamalah, terkadang kita harus mengalah dalam hal-hal yang bersifat lafaz atau simbolis demi kemaslahatan yang lebih besar.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah bentuk penerapan firman Allah:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ma'idah [5]: 13)

2. Adab Ali bin Abi Thalib kepada Nabi ﷺ

Sikap Ali yang enggan menghapus tulisan "Rasulullah" menunjukkan betapa dalamnya kecintaan dan pengagungannya kepada Nabi ﷺ. Namun, ketika Nabi ﷺ sendiri yang menghapusnya, Ali pun menerima. Ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah di atas segalanya, bahkan di atas perasaan pribadi.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa sikap Ali ini adalah bentuk ghirah (kecemburuan) terhadap kemuliaan Nabi ﷺ, namun ia tetap tunduk ketika Nabi ﷺ memutuskannya.

3. Prioritas pada Kemaslahatan Dakwah

Perjanjian Hudaibiyah ternyata menjadi pintu pembuka bagi penyebaran Islam. Banyak orang yang masuk Islam setelah perjanjian ini karena mereka melihat akhlak dan kelembutan kaum Muslimin. Ini membuktikan bahwa apa yang tampak sebagai kekalahan di permukaan, bisa jadi adalah kemenangan besar di baliknya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah menyebut Perjanjian Hudaibiyah sebagai "kemenangan yang nyata" karena dampaknya yang sangat besar bagi perkembangan Islam, meskipun secara lahiriah umat Islam saat itu tidak memasuki Mekkah.

4. Pelajaran tentang Syarat dalam Perjanjian

Hadits ini juga menjelaskan bahwa dalam perjanjian, kedua belah pihak boleh mengajukan syarat yang disepakati. Kaum Muslimin saat itu menerima syarat untuk tidak memasuki Mekkah kecuali dengan senjata dalam sarungnya dan hanya tinggal tiga hari. Ini menunjukkan bahwa dalam muamalah, kesepakatan harus dihormati selama tidak melanggar syariat.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, para sahabat merasa berat hati, terutama Umar bin Al-Khaththab yang datang kepada Abu Bakar dan bertanya, "Apakah beliau benar-benar Rasulullah?" Abu Bakar menjawab, "Ya, dia benar-benar Rasulullah."

Namun, Nabi ﷺ tetap tenang dan melanjutkan perjanjian tersebut. Beberapa waktu kemudian, Allah menurunkan surat Al-Fath yang menegaskan bahwa perjanjian itu adalah kemenangan yang nyata. Dan benar saja, setelah perjanjian ini, Islam menyebar dengan pesat. Dalam dua tahun setelah Hudaibiyah, jumlah kaum Muslimin bertambah sangat banyak, dan akhirnya Mekkah ditaklukkan dengan damai.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa terkadang kita tidak melihat hikmah di balik suatu kejadian, tetapi Allah mengetahui yang terbaik. Sebagaimana firman-Nya:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Kesimpulan Praktis

  1. Belajar mengalah dalam hal yang tidak prinsipil demi kemaslahatan yang lebih besar, sebagaimana Nabi ﷺ menghapus lafaz "Rasulullah" demi tercapainya perdamaian.
  2. Menjaga adab kepada guru dan orang yang lebih tua, sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat menghormati Nabi ﷺ.
  3. Meyakini bahwa apa yang Allah putuskan adalah yang terbaik, meskipun secara lahiriah tampak merugikan.
  4. Menghormati kesepakatan dan perjanjian selama tidak melanggar syariat.
  5. Tidak mudah putus asa ketika menghadapi rintangan, karena di balik kesulitan selalu ada kemudahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.