Penjelasan Hadits Muslim No. 1777 tentang Perang Hunain dan keteguhan Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Hunain, di mana sebagian sahabat sempat mundur karena tekanan musuh yang tiba-tiba. Namun Rasulullah ﷺ tetap teguh di atas bighalnya, lalu beliau mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke arah musuh sambil berkata "Syāhatil wujūh" (binasalah wajah-wajah itu), sehingga Allah menghancurkan mereka dan kaum Muslimin memperoleh kemenangan serta harta rampasan. Pelajaran utamanya: kemenangan datang dari Allah, bukan dari jumlah atau kekuatan, dan seorang pemimpin harus tetap teguh ketika pasukannya goyah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang sangat relevan — Allah menegaskan bahwa pertolongan itu dari-Nya, bukan dari banyaknya jumlah:

QS. At-Taubah [9]: 25

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Terjemahan ringkas: "Sungguh Allah telah menolong kamu pada banyak medan pertempuran, dan (juga) pada hari Hunain, ketika jumlahmu yang banyak membuatmu bangga, tetapi jumlah itu tidak berguna sedikit pun bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu lari ke belakang."

Hadits terkait — dari Salama bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Perang Hunain (no. 1777). Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih al-Bukhari dari jalur yang sama, sehingga para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahasnya secara panjang.

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan hadits ini dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, menegaskan bahwa lemparan tanah itu adalah mukjizat (mu'jizah) Nabi ﷺ, dan bahwa "syāhatil wujūh" adalah doa kebinasaan bagi musuh.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini termasuk tanda-tanda kenabian, karena segenggam tanah dapat memenuhi mata pasukan musuh yang jumlahnya besar.
  • Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya mengaitkan peristiwa Hunain dengan ayat di atas, bahwa awalnya kaum Muslimin kagum dengan jumlah mereka yang besar (12.000 pasukan), lalu Allah menguji mereka.

Penjelasan Rinci

Konteks Perang Hunain. Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah (penaklukan Makkah), tahun 8 H, melawan kabilah Hawazin dan Tsaqif. Kaum Muslimin saat itu berjumlah sangat besar — sekitar dua belas ribu orang — dan sebagian merasa bangga dengan jumlah tersebut. Allah kemudian menguji mereka: musuh menyerang secara mendadak dari celah-celah lembah, sehingga barisan sempat kacau dan sebagian sahabat mundur, sebagaimana disebutkan dalam hadits Salama bin al-Akwa' ini.

Sikap Salama bin al-Akwa'. Ia menceritakan dengan jujur bahwa ia pun ikut mundur ("wa arji'u munhaziman"), dan kainnya sempat lepas karena ia memakai dua burdah (selendang). Kejujuran ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak menyembunyikan kelemahan mereka — ini pelajaran adab dalam meriwayatkan.

Keteguhan Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat lain yang disebutkan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, saat itu yang tetap bertahan di medan hanya segelintir: Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, Abbas, Ali, dan beberapa lainnya. Rasulullah ﷺ tetap di atas bighalnya yang putih, tidak mundur sedikit pun. Ini menunjukkan kepemimpinan beliau yang luar biasa.

Ucapan "لَقَدْ رَأَى ابْنُ الأَكْوَعِ فَزَعًا" — "Sungguh Ibnu al-Akwa' melihat kegelisahan (kepanikan)." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini bukan celaan, melainkan penggambaran keadaan yang wajar terjadi pada manusia saat menghadapi serangan mendadak; dan Salama sendiri meriwayatkannya dengan jujur.

Lemparan tanah dan "شَاهَتِ الْوُجُوهُ". Ketika musuh mendekat, Rasulullah ﷺ turun dari bighalnya, mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke wajah musuh sambil berkata "syāhatil wujūh" — artinya "binasalah/hitamlah wajah-wajah itu." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat yang nyata: tidak ada seorang pun dari musuh yang matanya tidak terisi debu dari segenggam tanah itu, sehingga mereka lari kocar-kacir. Allah kemudian menghancurkan mereka dan harta rampasan dibagikan kepada kaum Muslimin.

Pelajaran aqidah. Peristiwa ini menegaskan bahwa:

  1. Pertolongan hanya dari Allah (QS. At-Taubah [9]: 25).
  2. Jumlah yang banyak tidak menjamin kemenangan jika Allah tidak menolong.
  3. Mukjizat para nabi adalah bukti kenabian, dan wajib diimani.

Perbedaan pendapat ulama daftar. Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama daftar tentang keabsahan hadits ini dan maknanya. Yang ada hanyalah perbedaan penekanan: Imam an-Nawawi lebih menekankan sisi mukjizat dan adab riwayat, sedangkan Ibnu Hajar lebih menekankan sisi pelajaran strategi dan tarbiyah (pendidikan) bagi umat. Keduanya sepakat bahwa hadits ini shahih dan berisi pelajaran besar.

Story Telling

Dikisahkan oleh Salama bin al-Akwa' radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat pemberani yang terkenal sebagai penunggang kuda dan pemanah ulung. Pada hari Hunain, ia maju mendaki bukit, lalu seorang musuh muncul di hadapannya. Salama melepas panah, dan musuh itu bersembunyi. Tiba-tiba dari bukit lain muncul pasukan musuh menyerbu. Barisan kaum Muslimin goyah, dan Salama pun mundur — sambil memegang dua kainnya yang lepas karena tergesa-gesa.

Ia melewati Rasulullah ﷺ yang masih tegak di atas bighalnya yang putih. Beliau bersabda dengan lembut: "Sungguh Ibnu al-Akwa' melihat kegelisahan." Lalu ketika musuh benar-benar mendekat, beliau turun, mengambil segenggam tanah, dan melemparkannya ke arah mereka seraya bersabda: "Binasalah wajah-wajah itu!" Seketika itu pula setiap mata musuh terisi debu, mereka berlarian, dan Allah menghancurkan mereka. Harta rampasan pun dibagikan kepada kaum Muslimin.

Hikmah: Seorang pemimpin sejati tidak goyah ketika pasukannya goyah. Dan pertolongan Allah datang bukan karena banyaknya jumlah, tetapi karena keteguhan hati dan tawakkal kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan bangga dengan jumlah atau kekuatan — kemenangan dan pertolongan hanya dari Allah (QS. At-Taubah [9]: 25).
  2. Tetap teguh saat ujian — seperti Rasulullah ﷺ yang tidak mundur walau sebagian pasukan goyah.
  3. Jujurlah dalam meriwayatkan — Salama bin al-Akwa' tidak menyembunyikan bahwa ia sempat mundur; ini adab salafus shalih.
  4. Yakinlah pada mukjizat Nabi ﷺ — lemparan tanah yang memenuhi mata musuh adalah bukti kenabian yang wajib diimani.
  5. Tawakkal dan doa — ketika keadaan sulit, kembalilah kepada Allah dengan doa dan keteguhan, bukan dengan keluh kesah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?